Minggu, 30 Agustus 2015
SEPANJANG GUNUNG SAHARI karya : Ajip Rosidi
Bersusu hitam: daki dan mentari
Kami lupakan kesibukan kota
Derum mobil dan kapal terbang
Anak-anak berkejaran mengakhiri hari
Kami bicara tentang kebakaran
Ibu hangus ayah tertembak
Kampung habis dan kota kepadatan
Namun kami tak menangis
Kan menangis air mata habis
Yang siang hari perempuan kami punya
Malam milik siapa saja
Pagi-pagi datang lesu dan habis daya
Menciumi kami keras dan liat
Pandangnya mengadukan kegarangan kota
Yang merampas kesegarannya
Namun mereka tak menangis
Kan menangis air mata habis
1954
=AJIP ROSIDI=
SINDANG LAUT karya : Ajip Rosidi
Bulan mengaca di nafas malam, redup lampu kapal
Deru yang menderu berkejaran di kesepian pantai
Deru dari diri lebih dalam irama mimpi. Diajaknya
Kita datang dan membikin mimpi atas mimpi.
Kita diam dan mimpi makin dalam merasuk malam. Tak ada
lelaki yang cukup setia pad satu rumah saja
Karena bulan indah berdarah merah, ombak yang menderu
Karena malam penuh mimpi, laut penuh gairah nafsu
Tak ada satu lelaki yang cukup setiap pada satu perempuan saja
Bulan ngambang di laut dan pecah di pucuk ombak
Laut di hadapan. Dia menggenggamkan tangan ke dadanya
Redup batas laut. Redup mimpi dan kehendak setia.
Ia bertaut pada leher, memanjang nafas meniup panas
Kita diam dan mimpi kian dalam merasuk malam
Laut. Mendenturkah ombak menayang bulan di wajahnya ke pantai miring pada malamku?
Malam. Gigihkah kesetiaan mencengkram hati sangsi selalu?
Kulpeas nafas. Laut mendentur masih
Yang garang mendarat, pecah darah bulan putih
Di tanganku ia mengempas, atas dadanya yang gemetar
Kumimpikan damai rumah dan istri setia
Perempuan ini bicara tentang harapan yang tersia
Kita telah sama kehilangan pegangan dalam galau ini kota
Kita telah kehilangan apa yang kita genggam karena semuanya
tak berakar pada tangan. Semua telah lepas
Kita bersandar pada pusat malam dan cahaya bulan putih
Kita tenggelam dalam irama lambat memecah pantai
Kususuri malam dengan jemariku. Nafasnya
sepi angin laut. Kutumbanbangkan ia. Tak ada
satu kelaki cukup setua pada satu perempuan saja
Angin bangkit mengusap kita yang hidup dalam mimpi
Karena ini kota menuntut kepercayaan, sedang
semua telah lepas seperti harapannya yang tersisa
1955
=AJIP ROSIDI=
LAGU JAKARTA karya : Ajip Rosidi
menempel pada bibir kering
menggigil oleh malaria
menyumpahi hari pengap-pesing
semua telah hilang asli
dibedaki lumpur ciliwung
semua telah hilang arti
diwarnai langit lembayung
Tinggal pergulatan dalam kerja
karena darah harus mengalir
dan kehendak beribu rupa
dalam hidup kota berjuta
1954
=AJIP ROSIDI=
Kamis, 16 Juli 2015
ULANG TAHUN DALAM PENJARA karya : Ajip Rosidi
Kepada Saikin dan Alibasah
I
Telah setahun yang lalu
Depan dan belakang putih bisu
Tapi suaramu jernih riang
Telah setahun yang lalu
Harapan dan impian hanya dinding
Tapi matamu menyorotkan kepastian
II
Sebuah rangka rumah
Hitam menjadi arang
Asap putih membubung tinggi
Sebuah danau hijau
Kecipak perahu di dayung
Gelombang lemah di dasar hati
III
Jalan berkelok dan mendaki
Terjal tanah berbatu
Dari rumah menuju pancuran
Jalan berkelok dan mendaki
Licin tanah berlumpur
Hidup kini menuju hari depan
IV
Alangkah tenangnya hutan
Kicau burung menyongsong pagi
Alangkah hijaunya hutan
Kicau burung menyongsong hari
Alangkah megahnya hari depan
Kita daki gunung tinggi
Alangkah megahnya kebanggaan
Menunjuk ke dada sendiri
V
Sebuah gunung hijau
Kini gundul saja
Kampung-kampung lumat, hutan tinggal abu
Api merah, darah pun merah
Sebuah lembah subur
Kini gersang, riak-riak siang hari
Ternak musnah, rumah musnah
Kolam ikan retak-retak dasarnya
VI
Ingatkah kau kepada tawa dan teriak anak-anak
Yang mengacungkan tangan serentak, “Hurip!”
Ingatkah kau kepada sorot mata meminta perlindungan
Yang menadahkan tapak tangan, “Kasihan …?”
Meski menadahkan tangan, percuma saja
Sia-sia mereka meratap, “Kasihan …”
Tiada lagi yang tertawa, tiada teriakan
Tiada lagi yang mengacungkan tangan, “Hurip!”
VII
Kadang-kadang kecewa dan putus asa
Kurangkul bumi hitam yang kucintai
Memeluk bencana yang mengintip usia
Degupan tresna mendebar keras
Mendera tubuhku bangkit kembali
Kadang-kadang kecewa dan putus asa
Kuteriakkan sesak dada padat nestapa
Melengking ke ujung lembah
Menggaung ke punggung gunung
Yang menyeringai, menista
Kadang-kadang kecewa dan putus asa
Kulari ke keamanan rumah
Namun sesak terasa
Kudengar rintih anak-anak diterkam srigala
Memanggil daku, ayahnya
VIII
Kadang-kadang masih kusangsi
Jalan yang telah kutempuh menuju Matahari
Namun impian menyadarkan daku dari impian
Kadang-kadang masih kusangsi
Telah kususun batu-batu pendiri hari depan lebih baik
Namun kenyataan menyadarkan daku melihat kenyataan
IX
Kalau kamarmu gelap dan depek
Udara mengganggang angin mati
Kalau jendelamu sempit dan bulat
Dirimu terpanggang, kecewa pun menjadi
Kalau kau teraling dinding tinggi
Langkah terhambat, pandangan terhambat
Kalau pintumu hitam dan berat
Dirimu terasing, dendam pun bangkit
X
Meski duniaku hijau dan terang
Dedaunan berdesir, angin menyilir
Dinding lebih tinggi dari segala dinding
Menghadang langkahku, mematikan suaraku
Setiap sepuluh langkah ke depan
Dan sepuluh langkah ke samping
Setiap sepuluh kata kuucapkan
Berdiri sebuah dinding
XI
Telah setahun yang lalu
Depan dan belakang putih bisu
Tapi suaramu jernih riang
Telah setahun yang lalu
Harapan dan impian hanya dinding
Tapi langkahmu menandakan keyakinan
=AJIP ROSIDI=
BURAK SILUMAN karya : Ajip Rosidi
Seorang jejeka alangkah tampan
Hanya kakinya telapok kuda
‘Bunda, apa nasib menimpa ananda
Kakiku bukan kaki manusia’
‘Anakku seorang hanya!
Ayah bertahta di Kerajaan Siluman
Anakku seorang hanya!
Bundamu dikutuknya, bundamu terlunta’
‘Mengapa ayah tak pernah datang
Mengapa tak menjenguk anaknya seorang?’
‘Kita terusir dari halaman istana
Karena bunda ingkar pada janji
Lewat tengah malam bunda belum pulang
Ke Kerajaan ayahmu Negara Siluman
Mengayuh subuh bunda terkenang
Kan pulang sebelum tengah malam
Lewat dinari bunda pulang
Tapi jalan kehilangan arah
Kan kembali ke kampung orang
Bunda lenyap di mata manusia
Dua belas bulan kau bunda kandung
Lahirmu matahari tertutup mendung
Tangismu diantar guruh mengguntur
Malamnya pada bangkit mahluk kubur’
Seorang jaka alangkah tampan
Tapi lahir beralaskan daun bakung
‘Kauwarisi paras ayahanda, tampan
Dan wasiatnya yang bunda dengar dalam mimpi:
Adalah menjadi mangsamu perawan
Yang tengah hari sendirian turun ke pancuran’
Seorang jaka alangkah gagah
Tapi kakinya telapok kuda
=AJIP ROSIDI=
WASIL karya : Ajip Rosidi
I
api merah malam terang karenanya
menjilat habis rumah dan suaminya saluki
wasil ingat anaknya lelap di kamar
tinggal abu dan puing-puing api
wasil kehilangan semua
berangkat – kapan kembali dan ke mana
II
kota! hidupnya melingkar-lingkar di satu pusaran
ada teman karib tetangga sedesa sinah dan wasti
wasil duduk-duduk di warung datang lelaki padanya
‘orang baru matanya begitu bening
dan tubuh segar dadanya keras dan besar’
wasil dilandanya dan ia mengalah saja
o, saluki suami pertama cintanya
dia telah berangkat mati dia lelaki kecintaan
kenangan wasil rumah kebun sawah mereka
dan anaknya seorang terbakar di kamar
III
kota! banyak lelaki dan begitu ganas
mereka pergi mengucap ‘haram jadah!’
dengan rel dingin di pantatnya wasil menunggu
buram malam dan gerimis pun turun
masih dingin rel dan besi kereta api
masih dingin dadanya belum dibuka
habislah hidupnya dan ke mana ia menyuruk
tubuh reot dan lelaki tak mau lagi padanya
habislah hidupnya dan akan ke mana ia terlempar
wasil kehilangan pasaran dan ia mengalah saja
---------
ia bertengger pada dahan
alam lepas burung terbang
ia tersenyum pada bulan
langit biru mengerdip bintang
segala mendengar pada nyanyinya
segala senyap segala tenang
ia pun dahan ia pun burung
merpati mengepak dalam sarang
=AJIP ROSIDI=
ISTRI TAK SETIA
Cinta. Pulanglah pada suami sepi menunggu
Sebelum pagi pecah sebelum malam lalu
Sebelum ia sampai tahu
Biar busah darah masih berlonjakan
Biar mata bersitatapan di maniknya hitam
Besok pun menjanjikan pula malam
Kelam dan kita kan bersarang padanya
Pulang istri tak setia
Waktu fajar menjelang tiba
Sebelum ambang rumah ia pijak
Dan sebelum pintu daunnya terkuak
Tertancap mata suami
Membuatnya terpukau berdiri
Sebelum ke luar kata barang sepatah
Dan sebelum debar dada tenang kembali
Tertancap hulu belati
Di jantung melumurkan darah
Istri tak setia berdarah air kali
Mengalir di lekuk liku jemari
Betapa ia memandang tanpa bicara
Dan beku di lorong tubuhnya
=AJIP ROSIDI=
SURAT WASIAT PENYAIR KOMENG KOMARUDIN karya : Ajip Rosidi
Ada segenggam sajak yang hidup di nadimu
Bersamamu ia lahir dan mengisap madu dari bunga
Bersamamu ia hidup dan memeluk cinta dengan percaya
Lama sebelum segala sajak yang lahir dari duka
Menigas cahya yang disinarkan tawa sehari-hari
Ada sejumput kata kehilangan makna
Dan tidak lagi yakin akan hal yang sendiri kuucapkan
Karena hianat dan hidup siksa
Karena kacapi dan carita pantun
Yang pernah kudengar kala malam mulai turun
Ada setapak tanah berwarna hijau di mana kau
Kan menyelesaikan nyawa dalam cinta
(seperti aku pun pernah sia-sia)
Pula kan kubangunkan suatu mimpi buat mereka
Yang sedesah senapas denganmu
Dan mencoba bisa percaya
Pada kepastian makna tiap kata
=AJIP ROSIDI=
DARI JAKARTA karya : Ajip Rosidi
kesadaran tumbuh di Jakarta
kalau tiada Jakarta hidup betapa hitamnya
karena panggilan tinggal terpendam
(sedang darah menyala-nyala: derap kuda
berpacuan di dalam rongga)
kemesraan paling dalam dikumur dalam dada
karena cinta bergalau kemualan
oleh kesudian paling terkutuk
=AJIP ROSIDI=
TANAH AIR karya : Ajip Rosidi
Ada hijau pegunungan
Ada biru lautan
Ada hijau
Ada biru
Langit dan hatiku
Adalah aku pucuk tatapan
Ada pucuk
Ada tatapan
Ada pucuk senapan
Mengarah ke dadaku
Hijau pegunungan biru lautan
Bukannya harapan adalah ketakutan
Hijau pegunungan biru lautan
Bukanlah ketentraman adalah ancaman
Adalah karena cintaku
Adalah karena kucinta
Langit merah jalan berdebu
Rumah musnah jalan terbuka
Bunga merah bunga biru
Kembang wĕra kembang jayanti
Tanah yang kujejak rindu
Kan kurangkum dalam mati
=AJIP ROSIDI=
JANTE ARKIDAM karya : Ajip Rosidi
Sepasang mata biji saga
Tajam tangannya lelancip gobang
Berebahan tubuh-tubuh lalang dia tebang
Arkidam, Jante Arkidam
Dinding tembok hanyalah tabir embun
Lunak besi di lengkungannya
Tubuhnya lolos di tiap liang sinar
Arkidam, Jante Arkidam
Di penjudian di peralatan
Hanyalah satu jagoan
Arkidam, Jante Arkidam
Malam berudara tuba
Jante merajai kegelapan
Disibaknya ruji besi pegadean
Malam berudara lembut
Jante merajai kalangan ronggeng
Ia menari, ia ketawa
‘Mantri polisi lihat ke mari!
Bakar meja judi dengan uangku sepenuh saku
Wedana jangan ketawa sendiri!
Tangkaplah satu ronggeng berpantat padat
Bersama Jante Arkidam menari
Telah kusibak ruji besi’
Berpandangan wedana dan mantri polisi
Jante, Jante Arkidam!
Telah dibongkarnya pegadean malam tadi
Dan kini ia menari’
‘Aku, akulah Jante Arkidam
Siapa berani melangkah kutigas tubuhnya batang pisang,
Tajam tanganku lelancip gobang
Telah kulipat ruji besi’
Diam ketakutan seluruh kalangan
Memandang kepada Jante bermata kembang sepatu
‘Mengapa kalian memandang begitu?
Menarilah, malam senyampang lalu!’
Hidup kembali kalangan, hidup kembali penjudian
Jante masih menari berselempang selendang
Diteguknya sloki kesembilan likur
Waktu mentari bangun, Jante tertidur
Kala terbangun dari mabuknya
Mantri polisi berada di sisi kiri
‘Jante, Jante Arkidam, Nusa Kambangan!’
Digisiknya mata yang sidik
‘Mantri polisi, tindakanmu betina punya!
Membokong orang yang nyenyak’
Arkidam diam dirante kedua belah tangan
Dendamnya merah lidah ular tanah
Sebelum habis hari pertama
Jante pilin ruji penjara
Dia minggat meniti cahya
Sebelum tiba malam pertama
Terbenam tubuh mantri polisi di dasar kali
‘Siapa lelaki menuntut bela?
Datanglah kala aku jaga!’
Teriaknya gaung di lunas malam
Dan Jante berdiri di atas jembatan
Tak ada orang yang datang
Jante hincit menikam kelam
Janda yang lakinya terbunuh di dasar kali
Jante datang ke pangkuannya
Mulut mana yang tak direguknya
Dada mana yang tidak diperasnya?
Bidang riap berbulu hitam
Ruas tulangnya panjang-panjang
Telah terbenam beratus perempuan
Di wajahnya yang tegap
Betina mana yang tak ditaklukkannya?
Mulutnya manis jeruk Garut
Lidahnya serbuk kelapa puan
Kumisnya tajam sapu injuk
Arkidam, Jante Arkidam
Teng tiga di tangsi polisi
Jante terbangun ketiga kali
Diremasnya rambut hitam janda bawahnya
Teng kelima di tangsi polisi
Jante terbangun dari lelapnya
Perempuan berkhianat, tak ada di sisinya
Berdegap langkah mengepung rumah
Didengarnya lelaki menantang:
‘Jante, bangun! Kami datang jika kau jaga!’
‘Datang siapa yang jantan
Kutunggu di atas ranjang’
‘Mana Jante yang berani
Hingga tak keluar menemui kami?’
‘Tubuh kalian batang pisang
Tajam tanganku lelancip pedang’
Menembus genteng kaca Jante berdiri di atas atap
Memandang hina pada orang yang banyak
Dipejamkan matanya dan ia sudah berdiri di atas tanah
‘hei, lelaki mata badak lihatlah yang tegas
Jante Arkidam ada di mana?’
Berpaling seluruh mata ke belakang
Jante Arkidam lolos dari kepungan
Dan masuk ke kebun tebu
‘Kejar jahanam yang lari!’
Jante dikepung lelaki satu kampung
Dilingkung kebun tebu mulai berbunga
Jante sembunyi di lorong dalamnya
‘Keluar Jante yang sakti!’
Digelengkannya kepala yang angkuh
Sekejap Jante telah bersanggul
‘Alangkah cantik perempuan yang lewat
Adakah ketemu Jante di dalam kebun?’
‘Jante? Tak kusua barang seorang
Masih samar, di lorong dalam’
‘Alangkah Eneng bergegas
Adakah yang diburu?’
‘Jangan hadang jalanku
Pasar kan segera usai!’
Sesudah jauh Jante dari mereka
Kembali dijelmakannya dirinya
‘Hei lelaki sekampung bermata dadu
Apa kerja kalian mengantuk di situ?’
Berpaling lelaki ke arah Jante
Ia telah lolos dari kepungan
Kembali Jante diburu
Lari dalam gelap
Meniti muka air kali
Tiba di persembunyiannya.
=AJIP ROSIDI=
Rabu, 15 Juli 2015
TAMU MALAM karya : Ajip Rosidi
I
Jingga membayang
Dan langit lembayung
Tenteram dan lengang
Seluruh kampung
Kian gelap dan sunyi
Bintang-bintang bekerdipan sama sendiri
Nafas malam berat dan sesak
Menekan dada, menindih pundak
Angin semilir, lidah api
Pelita meliuk ngeri
Terbekam seluruh udara
Oleh ketakutan mati
II
Sebelum terhanyut dalam mimpi
Sebelum terlayap dalam tidur
Selagi masih diamuk bimbang
Hati yang selalu sangsi
Tersadar oleh derap yang berat
Gegap dan mendekat
Sebelum hanyut hati dalam mimpi
Sebelum hanyut hati ...
Terjaga dari takut-ketakutan
Oleh bayangan bencana
Kan tiba
III
Lihat! Betapa terang malam
Seluruh kampung benderang
Karena kobaran api
Menjulang atap
Seperti Banaspati
Menelan rumah
Dengar! Betapa pikuk suara
Tangis perempuan dan bayi
Teriakan dan ratapan
Antara hardik dan maki
Dengar! Letusan-letusan menuli kuping
Dan teriak putus asa
Meratapi Tuhan dan suami
Menangisi anak dan rumah
Karena renggutan
Tangan jahanam
IV
Cepat! Hindarkan diri
Dari mati dan api
Cepat! Tinggalkan pesta
Atas hasil kerja selama ini
Lari! Lari turuni bukit
Lari! Sebrangi jurang
Dan tegalan penuh duri
Selamatkan jiwa, peras nafas
Laporan ke markas!
Terus! Terus lari
Meski enam pal lagi
Terus! Terus lari
Meski habis nafas
Lari! Agar desa tertolong
Dan para manusia tak berhati
Kan ditumpas
V
Terngah-ngah, lesu-lelah
Menghadap komandan jaga
Yang memandang bertanya
“Habis, habis ...
Tandas kampung
Ditelan api...”
“Berapa yang datang semuanya?
Berapa mereka bawa senjata?
Jam berapa mereka tiba?”
Terngah-ngah, lesu-lelah
Mana sempat menghitung menelaah
Karena mesti menyelamatkan nyawa
“Mesti cepat sekarang juga
Bayar dendamku biar punah
Hajar dan kejar
Agar tentram desa”
“Tak bisa, karena jauh terlalu
Sedang truk tak ada...”
Terngah-ngah, lesu-lelah
Hapus-lampus segala harap
Karena truk tak sedia
Terngah-ngah, lesu-lelah
Namun sia-sia kepercayaan
Terbakar sebuah desa
Terngah-ngah, lesu dan lelah
Namun pengejaran besok saja
Siang benderang sinar mentari
1958
=AJIP ROSIDI=
NYANYIAN PARA PETANI JATIWANGI karya : Ajip Rosidi
I
Dari pagi hingga petang
Kulepas kerbauku sayang
Entah ke mana kau menuju
Entah di mana kusembunyi
Dari pagi hingga petang
Haram riang, kerja tak tentram
Subur sawah: rumput dan lalang
Burung lapar berputaran terbang
Wahai, bukan peninggalan karuhun kusia-siakan
Tanah terbengkalai, kolam kering
Wahai, bukan tak mau sawah kukerjakan
Dalam hati penuh ketakutan
II
Kalau hari menjelang senja
Lengang pematang, lengang rumah
Tiada anak mengandangkan ayam
Kalau hari menjelang petang
Berat dan tiada harapan
Bayang-bayang lenyap di tikungan
Kalau hari menjelang malam
Tiada lelaki merasa aman
Dalam rumah sendiri
Kalau malam telah datang
Tiada nyanyi bunda menidurkan
Tiada lepas tangis bayi
Kalau malam telah turun
Tiada suling, tiada pantun
Hanya gaang, hanya angin
Kalammalam telah tiba
Tiada kacapi, tiada kinanti
Asmarandana dalam hari
Kalau malam telah datang
Entah besok masih kujelang
Entah mentari kulihat lagi
III
Wahai bulan, sunyinya sendirian
Tiada pemuda kan berpesan
Membisikkan kerinduan
Wahai bulan, alangkah muram
Tiada perawan kan menyanyi
Menyampaikan bisik hati
Wahai bulan, alangkah pelan
Muram dan sepi
Apa yang kautatap?
Wahai bulan, alangkah lama
Was-was dan ngeri
Mentari yang kuharap
Alangkah kusuka memandang bulan
Remang dan lembut
Tapi hati penuh takut
IV
Siapa itu melangkah berat dan ribut
Siapa lagi malam ini didatangi
Berapa rumah musnah? Berapa yang mati?
Siapa itu melangkah berat dan ribut
Siapa lagi malam ini didatangi?
Gilirankukah atau Madhapi?
Fajar kembang merekah
Duhai, pabila burung berkicau
alangkah lega hati
1958
=AJIP ROSIDI=