I
api merah malam terang karenanya
menjilat habis rumah dan suaminya saluki
wasil ingat anaknya lelap di kamar
tinggal abu dan puing-puing api
wasil kehilangan semua
berangkat – kapan kembali dan ke mana
II
kota! hidupnya melingkar-lingkar di satu pusaran
ada teman karib tetangga sedesa sinah dan wasti
wasil duduk-duduk di warung datang lelaki padanya
‘orang baru matanya begitu bening
dan tubuh segar dadanya keras dan besar’
wasil dilandanya dan ia mengalah saja
o, saluki suami pertama cintanya
dia telah berangkat mati dia lelaki kecintaan
kenangan wasil rumah kebun sawah mereka
dan anaknya seorang terbakar di kamar
III
kota! banyak lelaki dan begitu ganas
mereka pergi mengucap ‘haram jadah!’
dengan rel dingin di pantatnya wasil menunggu
buram malam dan gerimis pun turun
masih dingin rel dan besi kereta api
masih dingin dadanya belum dibuka
habislah hidupnya dan ke mana ia menyuruk
tubuh reot dan lelaki tak mau lagi padanya
habislah hidupnya dan akan ke mana ia terlempar
wasil kehilangan pasaran dan ia mengalah saja
---------
ia bertengger pada dahan
alam lepas burung terbang
ia tersenyum pada bulan
langit biru mengerdip bintang
segala mendengar pada nyanyinya
segala senyap segala tenang
ia pun dahan ia pun burung
merpati mengepak dalam sarang
=AJIP ROSIDI=
Tidak ada komentar:
Posting Komentar