Tampilkan postingan dengan label ABDUL HADI WIDJI MUTHARI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ABDUL HADI WIDJI MUTHARI. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Agustus 2015

BATIMURUNG I karya : Abdul Hadi Widji Muthari

Tubuhmu membuat air di jeram ini berterjunan

lagi

lebih gemuruh kini melemparkan rusukku

ke tebing-tebing gunung

 

Aku terbangun

seperti kupu dari pompongnya

Perih

karena kelahiran

 

Tapi sumber-sumber yang kutemukan

dari sanalah kata memancurkan sajak dan mantra

Ladang-ladang yang kau gemburkan

kutanam di sana segala jenis padi dan buah-buahan

 

Penat kini kupikul hasil panennya

berupa rindu dan cinta

berupa gelisah dan luka

Seperti lama dulu

kupapar lagi jiwaku dalam madu di atas bara



 

1977

=ABDUL HADI WIDJI MUTHARI=

IN MEMORIAM AMIR HAMZAH karya : Abdul Hadi Widji Muthari

Keranjang itu masih menatap. Tahun mau berbunga

Tapi langit berangkat kemarau di jendela

 

Tanganmu: Mulut yang mengucapkan kebenaran ombak

Tapi pendayung-pendayung datang terlambat

 

Kita jenguk ke air. Obor itu menyalakan malam

Angin itu angin kita. Tapi tak menghembus sampai senja

            lain tiba.



 

1976

=ABDUL HADI WIDJI MUTHARI=

GNOTI SEAUTON karya : Abdul Hadi Widji Muthari

 

Manusia bebas, ruhnya bagai

firman Tuhan, embun dalam cuaca putih

mencucinya

Manusia bebas, ruhnya berjalan

ke tempat-tempat jauh dan menemui para nabi dan orang suci

 

Di muka laut, ditemuinya batu karang

dan awan buruk

 

Manusia bebas, ruhnya bagai

rantai emas yang dibelenggu matahari dan waktu

 

Di tengah alam yang sempit: Nasib

menyesak jantung dan tenggorokan

dan menimbulkan batuk dan dahak kotor

di tengah alam yang sempit: Kita

mencari puncak kenikmatan

 

Manusia bebas, ruhnya mencari

bayang-bayang Tuhan

 

gambar binatang

perwujudan dewa-dewa

yang putus asa

 

Di gerbang kuil besar:

Ruh terbang dan tidak kembali



 

1969

=ABDUL HADI WIDJI MUTHARI=

ANAK karya : Abdul Hadi Widji Muthari

Anak ingin menangkap gelombang

rambutnya memutih seketika

 

Ia mengerti laut dalam

tapi tak tahu di mana suaranya terpendam

 

Ketika angin berhembus

bahkan dahan-dahan pun diam

 

Ketika air surut

bahkan pasang pun tak karam

 

Ketika tidur merenggut

di langit tak sebutir bintang



 

1975

=ABDUL HADI WIDJI MUTHARI=

Minggu, 23 Agustus 2015

BAHKAN karya : Abdul Hadi Widji Muthari

Bahkan jarum jam pun hanya mengulang

andai detiknya bukan kejemuan, kau tangkap

keluh bumi seperti anak yang tak habis berharap

dan mata kecilnya yang gelisah

memandang laut hanya dunia garam dan ikan-ikan

 

Bayang-bayangmu juga

yang susut karena lampu di pelupukmu padam

Lebih menjemukan dari rembang petang

Tapi berangkatlah!

Di seberang gelombang mungkin udara terang



 

1976

=ABDUL HADI WIDJI MUTHARI=

ANGIN: MENDESIR LAGI karya : Abdul Hadi Widji Muthari

Angin; mendesir lagi

Hampir mengantuk

Ada sepi

Berbisik di dahan-dahan pohon

Lagi tahu, gerimis turun

 

Di luar kamar yang tembaga

Di luar rongga kata

Engkau gemetar karena musim

Cemas dalam kata

Dan tahu: ada yang tiada

Bangkit di jendela

 

Dan mungkin: senja



 

1968

=ABDUL HADI WIDJI MUTHARI=

MEDITASI karya : Abdul Hadi Widji Muthari

Itulah bidadari Cina itu, dengan seekor kilin

dan menyeret kainnya basah: menggigil dalam kuil

(daun-daun salam berguguran dan di beranda

masih terdengar suara hujan, hujan pasir) Ia

menunjukkan yin-yang yang kabur di atas pintu

dan di mataku terasa hembusan angin yang merabunkan

(lihatlah, ujarmu, ia mengajak kita ke tempat sepi

di mana berdiri sebuah makam kaisar yang mati

dalam pertempuran merebut kota dari desa) Angin

berlarian menghamburkan bau-bauan dari tangan

perempuan-perempuan yang wangi dan kedinginan

di atas gapura yin-yang yang mulai memuat lumut

dengan tulisan-tulisan tua yang tak terbaca sudah

(langit adalah bayang-bayang, kau menyesal

telah memimpikannya; dan di sebelahnya

berdiri gedung, beribu sungai dan tebing gunung

yang terbuat dari batu, anggur dan lempung

yang kini menampakkan bintang kemukus yang panjang)

 

Itulah bidadari Cina itu dan mendekat ke arahmu

memandang dinding dan bertelanjang di sofa, tapi tak mengerti

(ia membeku jadi arca, waktu tentara kaisar mulai

membangun kota di langit) dan beribu mantra

memenuhi telinganya yang tuli



 

1972

=ABDUL HADI WIDJI MUTHARI=

EXODUS karya : Abdul Hadi Widji Muthari

Menyandang beban sunyi ini di sini

Menyandang beban salib ini di sini

Menyandang kehilangan

Yang seakan

Genderang mainan dipukul ombak

 

Di antara teluk dan pasir pantai

Serta senja yang menutup dinding laut ini

Kau mencari

Jejak nelayan

Nyiur tidak mendesir dan pelabuhan

Sudah jarang dikunjungi kapal-kapal

 

Menyandang sepi ini di sini

Menyandang kesal pikiran dan kekacauan ini

Menyandang mainan

Yang diberai ombak, senja, teluk dan pasir hitam

Seakan pecahan batu karang pada pantai yang legam

 

Kau mencari

Jejak nelayan

Nyiur tidak mendesir dan pelabuhan

Sudah jarang dikunjungi pelaut

 

Burung-burung pantai pergi, senja pergi

Tinggal genderang mainan ini

Berbunyi dan berbunyi juga

Dan betapa dekatnya sekarang

Hari haus dan lapar kita

Betapa dekatnya



 

1970

=ABDUL HADI WIDJI MUTHARI=

SAJAK PUTIH karya : Abdul Hadi Widji Muthari

Kita telah menjadi sekedar kenangan

lembaran asing pada buku harian

seperti tak pernah kautuliskan

peristiwa itu

 

Bunga-bunga sudah berguguran

tangkai dan kelopaknya

Pohon-pohon kering

Dan jendela jadi kusam

Seperti senja bakal tenggelam

 

Dan Titi telah semakin tua

meninggalkan masa kanak-kanaknya

Seakan cairan lilin

yang mengental

jadi malam

 

Dan masa-masa cintamu

hanyalah onggokan

puntung rokok

di lantai

yang dingin

 

Dan dengan pot-pot bunga

betapa asingnya

Kita



 

1971

=ABDUL HADI WIDJI MUTHARI=

TUHAN, KITA BEGITU DEKAT karya : Abdul Hadi Widji Muthari

Tuhan,

Kita begitu dekat

Sebagai api dengan panas

Aku panas dalam apimu

 

Tuhan,

Kita begitu dekat

Seperti kain dengan kapas

Aku kapas dalam kainmu

 

Tuhan,

Kita begitu dekat

Seperti angin dan arahnya

 

Kita begitu dekat

 

Dalam gelap

kini aku nyala

dalam lampu padammu



 

1976

=ABDUL HADI WIDJI MUTHARI=

FRAGMEN karya : Abdul Hadi Widji Muthari

Belumkah ada lindap sebelum

kau kembali ke kamar

yang suram dan kutandai musik beku?

Bayangan itu jadi gerimis

dan meleleh di kebon rumah yang gelap

 

Aku jadi garang pada malam seperti itu

dan ingin kukecup bibirmu semutlak mungkin

seperti juga hujan di padang-padang

dengan ringkik kuda yang memburu mega terbit

 

Rampungkan sepimu dan matangkan dagingmu

sampai jadi lengkap perjalanan kita nanti

pelancongan menuju dunia tanpa penyesalan

hingga pada suatu hari nanti

aku tak lagi bermimpi

tentang gua di rimba perburuan itu



 

1971

=ABDUL HADI WIDJI MUTHARI=

MADURA karya : Abdul Hadi Widji Muthari

Angin pelan-pelan bertiup di pelabuhan kecil itu

ketika tiba, dengan langit, pohon, terik, kapal

dan sampan yang tenggelam di pintu cakrawala

Selamat pagi tanah kelahiran

Sebab aku tak menghitung untuk ke berapa kali

Kapan saat menebal pada waktu

Sebab aku tahu yang paling berat adalah rindu

Sangsi selalu melagukan hasrat dan impian-impian

Dan adakah yang lebih nikmat daripada bersahabat

dengan alam, dengan tanah kelahiran, dan

dengan kerja serta dengan kehidupan?

Aku akan mengatakan, tapi tidak untuk yang penghabisan:

 

Ketenangan Selat Kamal

adalah ketenangan hatiku

membuang pikiran dangkal

yang mengganggu sajakku

 

kurangkul tubuh alam

seperti mula kelahiran Adam

sedang sesudah mengembara

baiklah kita rahasiakan

 

dari perjalanan ini

aku membawa timbun puisi

bahwa aku selalu asyik mencari

keteduhan mimpi

 

kebiruan Selat Kamal

adalah kebiruan sajakku

dan terasa hidup makin kekal

sesudah memusnah rindu

 

bertemu segala milik dan hak

dalam cinta dan sajak

noktah-noktah berdebu di bersihkan

di kedua tangan

 

kuberi pula salam sayup

kepada pantai yang berbatas pasir

dan langit yang mulai redup

pada waktu sajak lahir

 

Kedangkalan Sungai Sampang

adalah kedangkalan hatiku

menimbang hidup terlalu gamang

dan di situ ketergesaan mengganggu

 

dan terlalu tamak

dengan kesempurnaan

dengan sesuatu yang bukan hak

dengan kejemuan

 

tetapi sekali saat tiba juga

pada suatu tempat

tanpa petunjuk siapa-siapa

asal kita bersempat

 

mengerti juga kenapa kiambang

bertaut sepanjang sungai

dengan belukar dan kembang-kembang

sebelum kita sampai ke dasar dan muaranya

 

Diamnya Sungai Sampang

adalah diamnya sajakku

sekali waktu banjir datang

sekali waktu airnya biru

 

dan bertetap tujuan

ke suatu muara

yang berasal dari suatu daerah pegunungan

untuk sumber pertama

 

Kerendahan Bukit Payudan

adalah kerendahan hatiku

menerima nasib dalam kehidupan

di atas kedua bahu

 

sesekali pernah kita

tidak tahu tentang kelahiran

dan bertakut menjadi tua

karena ancaman kematian

 

Keramahan Bukit Payudan

adalah keramahan sajakku

untuk mengerti kepastian

yang lebih keras dari batu

 

sesekali pernah kita

tidak tahu ke mana mengembara

kemudian muncul kembali di tanah kesayangan

dengan kehampaan di tangan

 

tak seorang menyambut datang

tak seorang menanti pulang

tak seorang menerima lapang

atau membacakan tembang-tembang

 

dan kesia-siaan begini

akan selalu kualami

namun tak selalu kusesali

sebab kubenam sebelum jadi

 

Keterpencilan desa Pasongsongan

adalah keterpencilan hatiku

sebelum memulai perjalanan

ke jauh kota dan pulau

 

tapi keabadian lautnya kini

telah mengembalikan cintaku

tanah yang pernah tersia sebelum dimengerti

dan ditinggalkan rasa kebanggaanku

 

dan sebagai anak manusia

sekali aku minta istirah mengembara

berhenti membuat puisi yang mendera

dan berhenti memikat dara-dara

 

sebab di sinilah tumpahnya

darah kita pertama

dan terakhir berhentinya

mengaliri nadinya



 

1967

=ABDUL HADI WIDJI MUTHARI=

SAJAK SAMAR karya : Abdul Hadi Widji Muthari

Ada yang memisah kita, jam dinding ini

ada yang mengisah kita, bumi bisik-bisik ini

ada. Tapi tak ada kucium wangi kainmu sebelum pergi

tak ada. Tapi langkah gerimis bukan sendiri


 

1967

=ABDUL HADI WIDJI MUTHARI=

Sabtu, 22 Agustus 2015

UNTUK SEBUAH CATATAN HARIAN karya : Abdul Hadi Widji Muthari

Di bawah seribu mawar
Bulan Juli yang terbakar
Dan langit musim panas
Matahari berganti-ganti

Ada bayangan daun gugur
Pada tingkap musim mencari
Serta kuntum-kuntum kapur
Dan kota yang semakin sunyi

Malam: Berapa jejak sudah di jalan itu
Dan gerimis yang pulang sendiri
Ketika lonceng dari gereja mati
Ketika pelabuhan dari pulau abadi

Kau berkata, tak ada stasiun
Sebelum kereta memencar
Kau berkata, tak ada daun
Sebelum pohon berakar

Di bawah seribu mawar
Bulan Juli yang terbakar
Dan langit musim panas
Matahari menyuling keras sekali



1974
=ABDUL HADI WIDJI MUTHARI=

MEDITASI karya : Abdul Hadi Widji Muthari

I
Kupeluk sinar bulan. Tubuhku kedinginan.
Di gerbang cahaya yang berkilauan akan segera nampak di depan kita sebuah gereja tua. Ketika lonceng berbunyi beribu burung terbang ke sana hendak mensucikan diri. Sebab selalu ditempuhnya jalan yang sama, selalu dinyanyikannya lagu yang sama dan sesat di sarang yang sama.
Lalu kita dengar paduan suaranya. Seperti deru angin di pantai. “Demi Jesus, pahala sorga dan kenikmatan, akan kami hapuskan dosa kami seluruhnya,” begitu nyanyian mereka. “Tuhan, pujaan Ayub dan Yusuf, gembala Musa dan Muhammad – bentangkanlah pada kami jalan yang benar dari aroma bintang dan buah-buahan.”
O, burung-burung, sudahkah kau baca Farid Attar?
Yerussalem dan Mekkah tidak seluas hati dan jiwa ini.
Pohon-pohon rindang lebat tumbuh juga dalam hatimu.
Nyanyikanlah itu sepanjang pagi sepanjang sore.

II
Di sini semenjak lama aku aku adalah seorang rahib yang mengheningkan
cipta dalam sebatang kayu.
Kebenaran kudapat dari embun dan mawar.
Abadi.
Seperti ciuman perempuan dan bintang-bintang.
Tapi perempuan tua ini selalu merayuku dan minta aku menyusu pula
hingga kering dan mandul teteknya.
Itulah dunia.

III
Akupun sudah letih naik turun candi, ke luar masuk gereja dan mesjid.
Tuhan makin sempit rasa kebangsaannya,
“Musa! Musa! Akulah tuhan orang Israel!” teriaknya
Di mesjid, di rumah sucinya yang lain ia berkata pula:
“Akulah hadiah seluruh dunia, tapi sinarku memancar di Arab.”
Aku termenung. Apa kekurangan orang Jawa?
Kunyanyiakn Bach dalam tembang kinanti dan kupulas Budha jadi
seorang dukun di Madura.
Aku menemu sinar di mata kakekku yang sudah mati.
Bila hari menahun dan kota jadi benua, aku akan bikin negeri di sebuah
flat karena aku pun adalah rumah-Nya.

IV
Bercakap-cakap dari pintu ke pintu. Bernyanyi dari pintu ke pintu. Mengetuknya berkali-kali. Sudah lama aku tak tahu di mana Dia sebenarnya, di mesjid, di kuil ataukah di gereja.
Pernah aku percaya benar pada cinta dan kebijaksanaan yang jauh dari kemauanku sendiri. Kata mereka, “Berbaiklah kepada semua orang dan berjalanlah di jalan suci!”  Bagai seekor keledai aku pun melenggang membawa beban berisi hartanya dan sampai di sebuah gurun.
Kafilah tidak bisa menunjukkan jalan lagi. Kemi berpisah tengah malam. Bintang-bintang berloncatan gembira di langit yang tinggi. Tapi di tengah kelaparan dan panas aku pun menjelma seekor singa. Aku tak mau lagi mendengarkan khotbah dan nasehat. Sakramenku ialah ketiadaan. Sahabatku perobahan yang terus-menerus. Dan kota suciku ialah hati. Kalau di menara itu nanti kuteriakkan azan cacing-cacing akan berkumpul mendatangiku di waktu magrib bersembahyang berzikir mendoakan ketentraman dunia yang baru.

V
Tidak. Sebaiknya kau datang saja di sore hari di saat aku bercermin.
Tapi jangan lagi mewujud atau menjelma.
Tuhan, siapakah namaMu yang sebenarNya? Dari manakah asalMu?
Apakah kebangsaanMu? Dan apa pula agamaMu?
Manusia begitu ajaib. Mereka pandai benar membuat ratusan teori
tentang Aku dengan susah payah. Tapi siapa Aku yang sebenarnya
Aku sendiri pun tidak pernah tahu siapa sebenarnya Aku, dari mana
dan sedang menuju ke mana.



1974
=ABDUL HADI WIDJI MUTHARI=

NYANYIAN karya : Abdul Hadi Widji Muthari

Dalam hutan-hutan yang terik gerimis bersenandung
pada siang dan malam mimpi burung-burung
Temaram mata langit terpejam karena nyala sebuah tungku
sewaktu kabut terbakar oleh goncangan angin dan salju

Dan rindu mengapa seketika pedih seakan iringan air
berdengung dalam pawai kabung dari ulu jam ke lautan
Barangkali kau tak tahu si pengirim menunggu jawaban
atas suratnya yang tak sampai, di jendela terjatuh cahaya bulan



1974
=ABDUL HADI WIDJI MUTHARI=

SIANG karya : Abdul Hadi Widji Muthari

Siang ternyata hanya seorang pejalan jauh
Di atas kepalanya yang tak pernah teduh
udara kosong. Dan burung-burung hanya beterbangan
bagai kasih dan bisik-bisik kita
bagai lembut tangan dan cinta sia-sia kita
dan kata-kata mengalir bagai sungai ke lautan birunya

Mengapa maut juga yang tak terhindar
dan malam? Mustahil tidur
Gerimis hanya berangkat ke rumput-rumput
daun-daunan dan ginggang beracun…



1973
=ABDUL HADI WIDJI MUTHARI=

GERIMIS karya : Abdul Hadi Widji Muthari

I
Seribu gerimis menuliskan kemarau di kaca jendela
Basah langit yang sampai melepaskan senja
Bersama gemuruh yang dilemparkan jarum jam, kata-kata
bermimpilah bunga-bunga menyusun kenangannya
dari percakapan terik dan hama

“Kau toreh bibirnya yang merkah,” kata hama
“Dan kuhisap isi jantungnya yang masih merah”

II
Kenapa ia tak terkulai
dan masih bertahan juga
Dan bersenyum pada surya
yang mengunyah-ngunyah air matanya

III
Untukku ingar itu pun senantiasa menyurat
Atau mimpi
Tapi angin masih saja menggigil
mendesakkan pagi

IV
Tuhan, kau hanya kabar dari keluh

V
Burung-burung pun
asing di sana
karena jarak dan bahasa




1971
=ABDUL HADI WIDJI MUTHARI=

Sabtu, 11 Juli 2015

ADA SEBUAH KOTA, KATAMU, TAK PERNAH TEDUH karya : Abdul Hadi Widji Muthari

 

AKU ingin mengunjungi sebuah negeri tanpa mesjid dan rumah

sakit, tanpa kedai minum, lewat peperangan yang tak selesai di sana,

menyebrangi sungai-sungai dan jembatan-jembatan, melupakan

pengemis-pengemis yang merintih.

 

ADA kota yang tak pernah teduh, katamu setelah meneguk

kopi susu yang kental, bukan Paris bukan Roma bukan Jakarta dan

orang-orang telah diungsikan perlahan-lahan sebelum subuh, mereka

beriringan diam-diam melewati lembah yang gelap dan tak tahu

 

TERBACA pada koran sore yang bertumpuk di meja, berita-

berita pemboman di Vietnam Utara dan lapangan-lapangan terbang

di Tel Aviv dan Karachi. Kita luka ketika anak-anak yang berpawai

kemarin sore masih berkabung menyanyikan lagu perpisahan dan

kenangan pada pahlawan yang pergi, seorang pemetik gitar dan

penyanyi. Tapi kita selalu lupa bahwa orang-orang selalu punya

kalimat percakapan setiap berjumpa: mau ke mana atau langit di

kota itu selalu gelap dan setiap orang mengatakan demikian,

mengangguk-anggukan kepalanya demikian dan menyanyikannya

demikian

 

SUARA-suara mobil yang mondar-mandir dan orang-orang

di pasar, kaupun berkata: “Lihatlah kamar orang asing di hotel

itu, itulah yang selalu kita angankan, dengan blues yang selalu

memberikan hiburan nikmat bagi setiap pelancong dan dari atas

kamar bertingkat, pada kaca jendela yang kukuh bisa kaulihat orang-

orang bergerak diam-diam setelah pembantaian selesai untuk semen-

tara dan mereka itu selalu berkata: langit di atas kota selalu gelap

dan yang lainnya selalu berusaha mengatakannya demikian”.

kemudian kita dengar hujan dengan bunyi gamelan yang sayup,

menyebut nama seorang raja yang lama dirindukan.

 

DARI rahim senyap orang-orang sekonyong-konyong berjejalan

meneriakkan bahwa perang telah selesai, tanpa mengatakan bagai-

mana selesai, bagaimana bisa selesai, seperti perumpamaanmu

tentang Perang Badar, Perang Kerbela, Perang Salib, Perang Bubat

dan lain-lainnya dan lain-lainnya

 

KAU menunjuk langit yang menampakkan bintang susu, seperti

dilihat para pelaut, lalu ribuan bintang mengerumuni langit, lalu

kautaruhkan bibirmu membelitkan paha dengan penuh perasaan dan

mendoa agar bisa bermimpi dan bisa melupakan segala-galanya

dan segala-galanya

 

ADA sebuah kota, katamu setelah merebahkan tubuh yang

penat, sebuah kota yang tak pernah teduh dan kita musti pergi biarpun

belum selesai, bukan Paris bukan Roma bukan Jakarta, tapi di mana

kita hanya mengerti dengan menyebutkan sebuah amsal yang tak

jelas

 

 

 

1972

=ABDUL HADI WIDJI MUTHARI=