AKU ingin mengunjungi sebuah negeri tanpa mesjid dan rumah
sakit, tanpa kedai minum, lewat peperangan yang tak selesai di sana,
menyebrangi sungai-sungai dan jembatan-jembatan, melupakan
pengemis-pengemis yang merintih.
ADA kota yang tak pernah teduh, katamu setelah meneguk
kopi susu yang kental, bukan Paris bukan Roma bukan Jakarta dan
orang-orang telah diungsikan perlahan-lahan sebelum subuh, mereka
beriringan diam-diam melewati lembah yang gelap dan tak tahu
TERBACA pada koran sore yang bertumpuk di meja, berita-
berita pemboman di Vietnam Utara dan lapangan-lapangan terbang
di Tel Aviv dan Karachi. Kita luka ketika anak-anak yang berpawai
kemarin sore masih berkabung menyanyikan lagu perpisahan dan
kenangan pada pahlawan yang pergi, seorang pemetik gitar dan
penyanyi. Tapi kita selalu lupa bahwa orang-orang selalu punya
kalimat percakapan setiap berjumpa: mau ke mana atau langit di
kota itu selalu gelap dan setiap orang mengatakan demikian,
mengangguk-anggukan kepalanya demikian dan menyanyikannya
demikian
SUARA-suara mobil yang mondar-mandir dan orang-orang
di pasar, kaupun berkata: “Lihatlah kamar orang asing di hotel
itu, itulah yang selalu kita angankan, dengan blues yang selalu
memberikan hiburan nikmat bagi setiap pelancong dan dari atas
kamar bertingkat, pada kaca jendela yang kukuh bisa kaulihat orang-
orang bergerak diam-diam setelah pembantaian selesai untuk semen-
tara dan mereka itu selalu berkata: langit di atas kota selalu gelap
dan yang lainnya selalu berusaha mengatakannya demikian”.
kemudian kita dengar hujan dengan bunyi gamelan yang sayup,
menyebut nama seorang raja yang lama dirindukan.
DARI rahim senyap orang-orang sekonyong-konyong berjejalan
meneriakkan bahwa perang telah selesai, tanpa mengatakan bagai-
mana selesai, bagaimana bisa selesai, seperti perumpamaanmu
tentang Perang Badar, Perang Kerbela, Perang Salib, Perang Bubat
dan lain-lainnya dan lain-lainnya
KAU menunjuk langit yang menampakkan bintang susu, seperti
dilihat para pelaut, lalu ribuan bintang mengerumuni langit, lalu
kautaruhkan bibirmu membelitkan paha dengan penuh perasaan dan
mendoa agar bisa bermimpi dan bisa melupakan segala-galanya
dan segala-galanya
ADA sebuah kota, katamu setelah merebahkan tubuh yang
penat, sebuah kota yang tak pernah teduh dan kita musti pergi biarpun
belum selesai, bukan Paris bukan Roma bukan Jakarta, tapi di mana
kita hanya mengerti dengan menyebutkan sebuah amsal yang tak
jelas
1972
=ABDUL HADI WIDJI MUTHARI=
Tidak ada komentar:
Posting Komentar