Sabtu, 11 Juli 2015

ADA SEBUAH KOTA, KATAMU, TAK PERNAH TEDUH karya : Abdul Hadi Widji Muthari

 

AKU ingin mengunjungi sebuah negeri tanpa mesjid dan rumah

sakit, tanpa kedai minum, lewat peperangan yang tak selesai di sana,

menyebrangi sungai-sungai dan jembatan-jembatan, melupakan

pengemis-pengemis yang merintih.

 

ADA kota yang tak pernah teduh, katamu setelah meneguk

kopi susu yang kental, bukan Paris bukan Roma bukan Jakarta dan

orang-orang telah diungsikan perlahan-lahan sebelum subuh, mereka

beriringan diam-diam melewati lembah yang gelap dan tak tahu

 

TERBACA pada koran sore yang bertumpuk di meja, berita-

berita pemboman di Vietnam Utara dan lapangan-lapangan terbang

di Tel Aviv dan Karachi. Kita luka ketika anak-anak yang berpawai

kemarin sore masih berkabung menyanyikan lagu perpisahan dan

kenangan pada pahlawan yang pergi, seorang pemetik gitar dan

penyanyi. Tapi kita selalu lupa bahwa orang-orang selalu punya

kalimat percakapan setiap berjumpa: mau ke mana atau langit di

kota itu selalu gelap dan setiap orang mengatakan demikian,

mengangguk-anggukan kepalanya demikian dan menyanyikannya

demikian

 

SUARA-suara mobil yang mondar-mandir dan orang-orang

di pasar, kaupun berkata: “Lihatlah kamar orang asing di hotel

itu, itulah yang selalu kita angankan, dengan blues yang selalu

memberikan hiburan nikmat bagi setiap pelancong dan dari atas

kamar bertingkat, pada kaca jendela yang kukuh bisa kaulihat orang-

orang bergerak diam-diam setelah pembantaian selesai untuk semen-

tara dan mereka itu selalu berkata: langit di atas kota selalu gelap

dan yang lainnya selalu berusaha mengatakannya demikian”.

kemudian kita dengar hujan dengan bunyi gamelan yang sayup,

menyebut nama seorang raja yang lama dirindukan.

 

DARI rahim senyap orang-orang sekonyong-konyong berjejalan

meneriakkan bahwa perang telah selesai, tanpa mengatakan bagai-

mana selesai, bagaimana bisa selesai, seperti perumpamaanmu

tentang Perang Badar, Perang Kerbela, Perang Salib, Perang Bubat

dan lain-lainnya dan lain-lainnya

 

KAU menunjuk langit yang menampakkan bintang susu, seperti

dilihat para pelaut, lalu ribuan bintang mengerumuni langit, lalu

kautaruhkan bibirmu membelitkan paha dengan penuh perasaan dan

mendoa agar bisa bermimpi dan bisa melupakan segala-galanya

dan segala-galanya

 

ADA sebuah kota, katamu setelah merebahkan tubuh yang

penat, sebuah kota yang tak pernah teduh dan kita musti pergi biarpun

belum selesai, bukan Paris bukan Roma bukan Jakarta, tapi di mana

kita hanya mengerti dengan menyebutkan sebuah amsal yang tak

jelas

 

 

 

1972

=ABDUL HADI WIDJI MUTHARI=

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar