Tampilkan postingan dengan label RINI INTAMA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RINI INTAMA. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 September 2015

SAJAK LUKA NEGERI BERKABUT karya : Rini Intama

Jingga kusuma hati
jingga api mengasap hitam
mengoyak pusaran amarah
yang habis sia- sia

menembang nada lara cemara tertiup angin
tanah basah memerah menyimpan lukaluka

batu kayu mengayun menyeret diri
tak kendali mengena kening tak berbaja
ratusan pedang niat ruwat menebas
tak menduga warna darah menetes tak tuntas

meretas perih dan luka

Marah api mengerat kalbu negeri berkabut

seperti tontonan di atas tungku
cerita negeri, cerita harga diri, harga tanah, harga monumen
dan harga sejarah lalu harga harkat mengapung tak berjunjung
harga hak azasi kabur melebur dalam debudebu
derit nafas terus melaju

lupa kaki pada tanah berpijak, menuding berteriak
lupa diri pada negeri terkoyak, menyerapah mengoyak sanak

awan putih mengarak luka
makam dan aroma kamboja tetap membisu



2010
=RINI INTAMA=

LIMA NOVEMBER karya : Rini Intama

Lupa pada warna senja yang sebentar lagi turun

Suara ibu memanggilku hingga suara serak berdahak

Lamat menghilang dalam pekat awan yang berserak

Secangkir air mata panas tumpah menyiram hatiku

 

Malam, kutanya di mana ibu?

Ayah berbisik, sudah di surga sore tadi nak.

 



November 2010

=RINI INTAMA=

LAYANG LAYANG MU karya : Rini Intama

kau datang tanpa mawar

Hanya benang dari layanglayang yang sudah kau terbangkan di pantai

Kau berbisik, kubawakan layanglayang ini untukmu

Kukirim kisah tentang hidup yang siap di terpa badai dan angin

lalu bergerak kemana arah mata angin membawa

 

Kita tertawa pada layanglayang berbentuk kupukupu hitam besar bernoktah kuning

yang menggantung di langit seperti terik yang mengirimkan cahaya dari balik hening

 

ada bayanganmu di sana

juga rindu yang menjelma doadoa

dan bersamamu kerinduanku meleleh seperti lilin yang terbakar api

seperti gelora ombak dan tarian kehidupan di antara awan dan kepakkepak camar

 

layanglayangmu di Slamaran mengurai mimpi dan kisahkisah panjang

jejak menapak di pasir lalu menghilang tersapu ombak

melepas tawa seusai siang menunggu hingga langit jingga

layanglayangmu kembali turun menyimpan gelisahnya sendiri

 

Slamaran dan debur ombak

mengabarkan terik siang dan kesiur angin

 

kita memang hanya mampu menelusuri pantai ini



 

Maret 2011

=RINI INTAMA=

PUISI HATI - SEBUAH PUISI KECIL karya : Rini Intama

mengerti secara sederhana saja

tak menghilang makna

seperti doa dan cerita dini hari

menyaji diri dengan teropong hati



 

Tgr 6 Sept 2010

=RINI INTAMA=

LAGU SANG HUJAN karya : Rini Intama

Lagu sang hujan menarik larik

disetiap catatan peristiwa dalam jambangan cantik

ketika menemukan segaris senyum di dongeng lirik

 

Sang hujan berlari mengejar mimpi tak kunjung temu

keinginan menjadi sebuah kemustahilan di negeri angin

Langit kelabu menyanyikan lagu hujan

 

butir air adalah pesona kekalahannya yang patut

menepis keinginan, bertaruh nyawa

dan sebuah kata bermakna nama

yang mungkin carut marut

mengusung sorak penghuni bumi

 

Tapi sang hujan mematut diri

sebagai kelayakan dalam cermin usang

dan coreng warna jelaga

Langit tetap memerah

lagu sang hujan mengalun



 

Delapan April 2010

=RINI INTAMA=

DI PERSIMPANGAN YANG LINDAP karya : Rini Intama

ku tebas pedang karat di pucuk rindu senyap

ku pinang darah pekat di dada nafasku megap

di langit kisah kuat mengendap

 

roda pagi arah barat melintang merah lambat

angin resah suara lamat habis terlumat

 

debu debu sapu sendu

 

habiskan beku

habiskan waktu

habiskan rindu



 

sembilan Juni 2010
=RINI INTAMA=

PEREMPUAN ITU MENULIS PUISINYA karya : Rini Intama


pada sebuah lagu kutitip makna syair, nada dan irama yang sempurna

tentang perempuan yang meninggalkan tangisan

pada petapeta sajak di tubuhnya yang sunyi

serupa petualang yang memahat cinta hingga berlabuh di dermaga

Lalu memutuskan pulang dari perjalanan yang panjang

 

Perempuan itu menulis puisi,

 

Hidup ini ada di bawah kaki yang berdiri tegak di atas batu dingin

mengikuti jalan angin

 

Serupa lukisan abstrak yang bermakna besar

Serupa syairsyair cinta yang tak tertebak

Dari seorang penyair yang melagukan puisi rayuan semerbak mawar

 

cericit burung melempar ribuan tanya pada belukar

 

Berapa banyak anakanak lagikah akan lahir dari persetubuhan alam ?

Berapa banyak perempuan lagikah yang akan lahir dari rahim puisipuisi cinta ?

atau wajah penuh amarah yang akan lahir dari percikan api di langit malam ?

 

tapi bukankah kita terlahir untuk dan karena sebuah alasan

bahwa hidup serupa jalan di loronglorong waktu yang gulita

dan membaca kata di panggung kosong tanpa suara

 

Perempuan itu menghentikan puisinya,

 

Ah aku melangkah menghitung detik yang menimbun luka tanpa kata

tak perlu lagi ada tanya tentang berapa, apa dan bagaimana

hingga waktu bertanya dalam bahasanya, sampai di manakah perahu akan berlayar ?

memecah rindurindu menuju jalan kembali pada tanah asal



 

Maret 2011

=RINI INTAMA=

AKU DAN KATAKU karya : Rini Intama

Aku dan kata mencintaimu,
menyelinap diantara syair syair mengalir bersama butir
butir pasir laut, bukankah sama seperti ketika mencoba
menumpahkan warna diatas kanvas seraya menunggumu,
lantas langit dan awan bergerak pelan

Aku dan kata kerinduanku,
menyelinap diantara derasnya makna aksara dalam
untaian kalimat yang menumpah, sama seperti ketika
gundukan tanah menggunung dan memuntahkan lahar…
deburannya mengalir begitu saja menerabas segala

Aku dan kata kemarahanku,
adalah ketika terbengkalainya air disela jemari mengering,
menggenggam dan cinta itu sendiri yang memberangus
ego dalam kalut, takut dan pengecut. Ada sisa waktu
yang berlari dalam rimbun hutan Halimun yang
berembun lalu sepi

Aku dan kata kesetiaanku.
adalah merasakan butiran embun sisa malam yang datang
pada dedaunan diantara kabut dingin yang menyatu lalu menunggu
esok terus datang,meski aku tertunduk lesu




10 Maret 2010

=RINI INTAMA=

Minggu, 20 September 2015

MIMPI ANAK ANAK karya : Rini Intama


Melompati pagar berduri siang hari

Menghambur sambangi tanah lapang berilalang

Mengarungi air hingga tengah telaga

Tawa riang, cahaya di binar mata itu ada

Serantang bekal mimpi tentang matahari

Saat awan kelabu, melompat girang menanti hujan

lalu berlari hingga batas langit menunggu pelangi

Anakanak dan khayalan seribu cahaya bintang

Lalu Menembang rembulan, memanggilnya turun saat malam

menunggu kunangkunang sinari wajahnya

bermimpi tentang ayah dan ibu yang menggantung di langit

Melukiskan tawatawa suka dan celoteh yang sempurna

Atau memaknai aksara dan angka, menghitung bilangan hari dengan jemari

Anakanak mengeja namanya di setiap doa, ajari kita bahwa rindu dan cinta itu ada


Februari 2011

=RINI INTAMA=

MERAJUK karya : Rini Intama

Merajuk, dengar genta kasmaran
membenam nyawa
dibinar mata yang menggenang
air yang tak jatuh

cumbu wewangi haru dalam biru..
tangisan cinta sayup merajuk

gemetar menggunung
getar mengungkung
debar menggulung

gelisah mengepung

dengar suara daun akasia memanggil berteduh
melabuh
genderang hati menabuh
rikuh..

merajuk, tak hingga jemariku
menggapai bayang
pada mimpi yang terkerat
dan..
melambailah ujung kain yang tersulam indah
menyeret sebaris bait nyanyian sukma



=RINI INTAMA=

KENANG karya : Rini Intama

kenang, diujung senja dalam lingkaran
kata merajuk rindu penuh kecemasan

kenang, diujung malam dalam wangi
hasrat merujuk penuh takjub

kenang, diujung hari dalam penantian
mengecup bulan penuh gelora
dan menghitung fantasi ruang waktu

kenang, dia mengingatnya dengan baik
ketika menuntaskan keinginan temu yang terkubur

Kenang, dia menuliskannya disetiap lembar kertas
dalam batas Imaji ketika memaknai ketidakpastian



Kutabumi, Lima April 2010
=RINI INTAMA=


KEKASIH karya : Rini Intama

lihat saja rinduku menari-nari dilangit

Bersulam benang memintal warna
mendulang suara pagi bingkai kain melarang lara
Sumringah warna pena melukis wajah cinta

Digerimis tak sepotong katapun tertulis

Kekasih
Tak sedepapun membentang jarak
Nanti kupinta mendekat dekap sejenak

Tak sedetikpun sunyi meradang
Nanti kupinta mendendang
Nanti kupinta dimimpi mendatang



30 Juni 2010

=RINI INTAMA=

DEBAR karya : Rini Intama

Bawa jiwa malam ini melambung
disetiap debar yang terjunjung

bawa seikat bunga bakung ungu
dalam tangan yang melingkar rindu

debar langit ditengah karam dan segelas air jeruk
debar harap di ruang waktu yang tak sempurna
debar batas yang memburu temu tak tuntas
debar kenang mengingat indah liukan tari ilalang



7 Mei 2010
=RINI INTAMA=

Sabtu, 05 September 2015

SAJAK SANG LELAKI karya : Rini Intama

Sang Lelaki, sebatang cerutu mengasap
mengepul mabuk cinta kepayang
duduk merentang tangan melipat kaki
membaca ulasan syair pada lontar

duhai Pujangga ditaman sang dewi
menembang kidung kasmaran tak lapuk
oleh waktu yang menggilas panjang

duhai Juwita wiwitan cinta
degung, kecapi karawitan
memetik denting mengalun syahdu



Pantura, Dua April 2010
=RINI INTAMA=

SAJAK RINDU PETIKAN DAWAIMU karya : Rini Intama

Petikan dawaimu menelanjangiku
aku telanjang diatas langit malam
imajinasi liarku menari meliuk liuk lepas
memanggang hasrat menggelinjang
menunggu embun bebas mengecupku lembut…

petikan dawaimu memukau, tarianku melemah….
keberanianku tak tangguh kukuh
aku bagikan kisah bagai langit luruh
diantara suara rindu bergemuruh…

Petikan dawaimu memukau
oh… rinduku pada Ilalang ….

Petikan dawaimu mengalun
menggairahkan pesona diujung penantian

Petikan dawaimu ….
dan aku disini dikaki langit hingga senja membias jingga



13/02/2010
=RINI INTAMA=

SAJAK HAMPA, SENANDUNG LIRIH DI SEBUAH RUMAH SAKIT JIWA karya : Rini Intama

Di rintih jiwa melolong jerit kehidupan yang hilang

ziarahi jarum kecil menusuk dikesakitan yang kelabu
tak ada kata selain lengking jurit malam

angin menderai membawa sedu sedan sepanjang jalan
tulang belulang meluruh seketika dan hitam diam
bukan upaya tak menyebar sadar mengayuh rakit
dan biduk bergetar diriak air

tak ingkar jika melihat nestapa dalam debar
cahaya memendar melepas didepan cermin kusam
dalam waktu sepanjang badan

kerontang jiwa, kerontang raga
tatap kosong melompong
menggadai rindu tak bergejolak
tertikam lelap tak sempat ada tawa
memeluk pagi tanpa suara

Aku melihat jelas
dengus lirih, menggores
mencabik, menjejal dikepala
berbisik meraba keinginan
syair bertanya dimana lagu sang pipit ?

kumandang dendam merajam
tentang kesalahan sesosok damba
yang terseret arus tak bertuan

maka hilang hilanglah seraya menunggu jawab Tuhan

Jatibening, 23 Maret 2010
=RINI INTAMA=
(Dalam Buku Gemulai Tarian Naz)


SAJAK NELAYAN TUA karya : Rini Intama

Lelaki itu Nelayan tua
mengeja hari mengusap wajah
membisik kalimat lirih maaf pada seluruh sanak

Dia kenang karang garang
menunggu waktu tenggang
berjalan langkah terseok
duduk diam merendam kaki kecil
tangan tak lagi menebar jala

Hangat mentari
hangat air sepanjang pesisir

Nyiur nyiur memanggil
meneduhkan mata cekung menghitam

Pulanglah pulang suara desir angin !
meraup ikan, menggulung ombak adalah sakit yang mengiris

Pulanglah pulang suara riak ombak !
menyimpan sepinggan duka mengering adalah isak tangis

Pulanglah pulang suara langkah kaki berpasir !
memejam mata tertidur panjang adalah mimpi yang menipis

Tapi pulang adalah jalan



23 Maret 2010
=RINI INTAMA=

SAJAK KEMATIAN karya : Rini Intama

Kelam menggenggam cekam
tapi gumpalan awan menyemai damai
ketika jingga senja menebar
atau suara fajar menuai segar

Sayup Sangkakala terdengar syahdu merayu dayu
menghembus aroma maut kelu dan suara sendu

Ilalang kering ikut riuh
gemuruh menghempas luruh
akar kering ikut tercerabut
dalam takut dan kalut

Tak surut doa turut
tidak sekedar patut
demi polah yang masih carut marut

Nyawa meregang, memisah jasad dingin menegang
Nyawa melayang terbang ruh menghilang
tinggalkan wajah pias membias dalam kenang
Kaku tubuh terbujur tanpa dengkur panjang

waktu telah habis terkikis
dalam telapak jejak bergaris garis
tak lagi sempat merasa miris dan menadah rinai gerimis
apalagi bisa menangis, hanya mata menutup tipis
dan senyum mengiris sakit yang manis

Mati dan kafan putih membentang
sama saja dengan tanah merah basah yang memberi ruang
menanti tutupi jasad mati dan taburan melati ….

….riuh riuh doa memanjat, riuh riuh celoteh burung burung kematian
….riuh riuh isak tangis, riuh riuh jejak jejak meninggalkan tapak…



Tangerang 27 Feb 2010
=RINI INTAMA=

SAJAK PANTAI UTARA, HUTAN BAKAU DAN AROMA CINTA karya : Rini Intama

Burung burung hanyut bercengkrama lepas dalam gairah yang sublim
diatas akar akar bakau yang menjalar
menyela kokoh dirawa berlumpur
memisah kejauhan dari debur ombak yang menderu

mengalun nyanyian cinta

Burung burung masih menyapa birunya mega dalam kenang
berkubang kisah metamorfosa alam
tentang tanah pantai, kuat cengkram akar bakau
tentang buih air pasang menyeret pasir

tentang tepian merindu nyanyian sang ombak

Getar sayap menari dalam liukan berenergi gelora yang memadu

ada riang kasmaran, lugu tawa merayu
terbang beriringan sayap sepundak menunduk ragu
menunggu rindu kumandang dendang
dan pelukan setumpuk jerami hangat

Kayu kayu api menyisakan kisah akar bakau



akhir Maret 2010
=RINI INTAMA=

KISAH PESAWAT KERTAS karya : Rini Intama

Disepinggan rindu yang senyap
lantas lirih aku berkata
maaf sudah mengetuk pintu
dan duduk diruangmu yang sejuk

celoteh keajaiban yang tak terkira
kiranya Tuhan berbaik padaku ?

Sembilanbelas ribu kilometer
ku cium aromamu
ku ikut nalar ikuti jejak
ku cinta tak henti

berpayung langit terbangkan kisah pesawat kertas



4 Juli 2010

=RINI INTAMA=