Tampilkan postingan dengan label WIJI THUKUL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WIJI THUKUL. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 September 2015

TANPA JUDUL karya : Wiji Thukul

kuterima kabar dari kampung

rumahku kalian geledah

buku-bukuku kalian jarah

tapi aku ucapkan banyak terima kasih

karena kalian telah memperkenalkan

sendiri pada anak-anakku

kalian telah mengajar anak-anakku

membentuk makna kata penindasan

sejak dini

ini tak diajarkan di sekolahan

tapi rezim sekarang ini memperkenalkan

kepada semua kita

setiap hari di mana-mana

sambil nenteng-nenteng senapan

 

kekejaman kalian

adalah bukti pelajaran

yang tidak pernah ditulis Indonesia,

 



11 agustus 96

=WJI THUKUL=

SAJAK SUARA karya : Wiji Thukul

sesungguhnya suara itu tak bisa diredam

mulut bisa dibungkam

namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang

dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku

suara-suara itu tak bisa dipenjarakan

di sana bersemayam kemerdekaan

apabila engkau memaksa diam

aku siapkan untukmu: pemberontakan!

 

sesungguhnya suara itu bukan perampok

yang ingin merayah hartamu

ia ingin bicara

mengapa kau kokang senjata

dan gemetar ketika suara-suara itu

menuntut keadilan?

sesungguhnya suara itu akan menjadi kata

ialah yang mengajari aku bertanya

dan pada akhirnya tidak bisa tidak

engkau harus menjawabnya

apabila engkau tetap bertahan

aku akan memburumu seperti kutukan




=WIJI THUKUL=

SATU MIMPI SATU BARISAN karya : Wiji Thukul

Di lembang ada kawan sofyan
jualan bakso kini karena dipecat perusahaan
karena mogok karena ingin perbaikan
karena upah ya karena upah

Di ciroyom ada kawan sodiyah
si lakinya terbaring di amben kontrakan
buruh pabrik teh
terbaring pucet dihantam tipes
ya dihantam tipes
juga ada neni
kawan bariah
bekas buruh pabrik kaos kaki
kini jadi buruh di perusahaan lagi
dia dipecat ya dia dipecat
kesalahannya : karena menolak
diperlakukan sewenang-wenang

di cimahi ada kawan udin buruh sablon
kemarin kami datang dia bilang
umpama dironsen pasti nampak
isi dadaku ini pasti rusak
karena amoniak ya amoniak

di cigugur ada kawan siti
punya cerita harus lembur sampai pagi
pulang lunglai lemes ngantuk letih
membungkuk 24 jam
ya 24 jam

di majalaya ada kawan eman
buruh pabrik handuk dulu
kini luntang-lantung cari kerjaan
bini hamin tiga bulan
kesalahan : karena tak sudi
terus diperah seperti sapi

di mana-mana ada sofyan ada sodiyah ada bariyah
tak bisa dibungkam kodim
tak bisa dibungkam popor senapan
di mana-mana ada neni ada udin ada siti
di mana-mana ada eman
di bandung - solo - jakarta - tangerang

tak bisa dibungkam kodim
tak bisa dibungkam popor senapan
satu mimpi
satu barisan


Bandung 21 mei 1992

=WIJI THUKUL=

MAKIN TERANG BAGI KAMI karya : Wiji Thukul

Tempat pertemuan kami sempit
bola lampu kecil cahaya sedikit
tapi makin terang bagi kami
tangerang - solo - jakarta kawan kami

Kami satu : buruh
kami punya tenaga

Tempat pertemuan kami sempit
di langit bintang kelap-kelip
tapi makin terang bagi kami
banyak pemogokan di sanasini

Tempat pertemuan kami sempit
tapi pikiran ini makin luas
makin terang bagi kami
kegelapan disibak tukar-pikiran

kami satu : buruh
kami punya tenaga

tempat pertemuan kami sempit
tanpa buah cuma kacang dan air putih
tapi makin terang bagi kami
kesadaran kami tumbuh menyirami

kami satu : buruh
kami punya tenaga
jika kami satu hati
kami tahu mesin berhenti
sebab kami adalah nyawa
yang menggerakkannya


Bandung 21 mei 1992

=WIJI THUKUL=

LEUWIGAJAH MASIH HAUS karya : Wiji Thukul

Leuwigajah tak mau berhenti
dari pagi sampai pagi
bis-bis-mobil pengangkut tenaga murah
bikin gemetar jalan-jalan
dan debu-debu tebal membumbung

Mesin-mesin tak mau berhenti
membangunkan buruh tak berkamar-mandi
tanpa jendela tanpa cahaya matahari
jejer berjejer alas tikar
lantai dinding dingin lembab pengap

Mulut lidah-lidah penghuni rumah kontrak
terus bercerita buruk
lembur paksa sampai pagi
tubuh mengelupas-jari jempol putus - upah rendah
mogok - pecat
seperti nyabuti bulu ketiak

Tubuh-tubuh muda
terus mengalis ke leuwigajah
seperti buah-buah disedot vitaminnya
mesin-mesin terus menggilas
memerah tenaga murah
satu kali duapuluhempat jam
masuk - absen - tombol ditekan
dan truk-truk pengangkut produksi
meluncur terus ke pasar

Leuwigajah tak mau berhenti
dari pagi sampai pagi

Asap crobong terus kotor
selokan air limbah berwarna
mesin-mesin tak mau berhenti
terus minta darah tenaga muda

Leuwigajah makin panas
berputar dan terus menguras


Bandung 21 mei 1992

=WIJI THUKUL=

LEUWIGAJAH karya : Wiji Thukul

Leuwigajah berputar
dari pagi sampai pagi
jalan-jalan gemetar
debu-debu membumbung
dari knalpot kendaraan pengangkut

Mesin-mesin terus membangunkan
buruh-buruh tak berkamar-mandi
tidur jejer berjejer alas tikar
tanpa jendela tanpa cahaya matahari
lantai dinding dingin lembab pengap

Lidah-lidah penghuni rumah kontrak
terus menyemburkan cerita buruk:
lembur paksa sampai pagi - upah rendah
jari jempol putus - kecelakaan-kecelakaan
kencing dilarang - sakit ongkos sendiri
mogok? pecat!
seperti nyabuti bulu ketiak

Tubuh-tubuh muda
terus mengalir ke Leuwigajah
seperti buah-buah disedot vitaminnya
mesin-mesin terus menggilas
memerah tenaga murah
satu kali dua puluh empat jam
masuk - absen - tombol ditekan
dan truk-truk pengangkut produksi
meluncur terus ke pasar

Leuwigajah tak mau berhenti
dari pagi sampai pagi
cerobong asap terus mengotori langit
limbah mengental selokan berwarna

Leuwigajah terus minta darah tenaga muda
Leuwigajah makin panas
berputar dan terus menguras
tenaga-tenaga murah



Bandung - Solo 21 Mei - 16 Juni
=WIJI THUKUL=

Senin, 14 September 2015

EDAN karya : Wiji Thukul

Sudah dengan cerita mursilah?
edan!
dia dituduh maling
karena mengumpulkan serpihan kain
dia sambung-sambung jadi mukena
untuk sembahyang
padahal mukena tak dibawa pulang
padahal mukena dia taroh
di tempat kerja
edan!
sudah diperas
dituduh maling pula

Sudah dengan cerita santi?
edan!
karena istirahat gaji dipotong
edan!
karena main kartu
lima kawannya langsung dipecat majikan
padahal tak pakai wang
padahal pas waktu luang
edan!
kita mah bukan sekrup



Bandung 21 Mei 1992
=WIJI THUKUL=

BUKAN DIMULUT POLITIKUS, BUKAN DIMEJA SPSI karya : Wiji Thukul

Berlima dari solo berkeretaapi kelas ekonomi murah
tak dapat kursi melengkung tidur di kolong
pas tepat di kepala kami bokong-bong
kiri kanan telapak kaki tas sandal sepatu
tak apa di pertemuan ketemu lagi kawan
dari krawang-bandung-jakarta-jogya-tangerang
buruh pabrik plastik, tekstil, kertas dan macam-macam
datang dengan satu soal

Dari jakarta pulang tengah malam dapat bis rongsok
pulang letih tak apa diri telah ditempa
sepanjang jalan hujan kami jongkok tempat duduk
nempel jendela
bocor
bocor
sepanjang jalan tangan terus mengelapi
agar pakeyan tak basah
dingin
dingin
tapi tak apa
diri telah ditempa
kepala dan dada masih penuh nyanyi panas
hari depan buruh di tangan kami sendiri
bukan di mulut politikus
bukan di meja spsi



Solo 14 Mei 1992

=WIJI THUKUL=

BUKAN KATA BARU karya : Wiji Thukul

Ada kata baru kapitalis, baru? Ah tidak, tidak
sudah lama kita dihisap
bukan kata baru, bukan
kita dibayar murah
sudah lama, sudah lama
sudah lama kita saksikan
buruh mogok dia telpon kodim, pangdam
datang senjata sebataliyon
kita dibungkam
tapi tidak, tidak
dia belum hilang kapitalis
dia terus makan
tetes ya tetes tetes keringat kita
dia terus makan

Sekarang rasakan kembali jantung
yang gelisah memukul-mukul marah
karena darah dan otak jalan
kapitalis
dia hidup
bahkan berhadap-hadapan
kau aku buruh mereka kapitalis
sama-sama hidup
bertarung
ya, bertarung

Sama-sama?
tidak, tidak bisa
kita tidak bisa bersama-sama
sudah lama ya sejak mula
kau aku tahu
berapa harga lengan dan otot kau aku
kau tahu berapa upahmu
kau tahu
jika mesin-mesin berhenti
kau tahu berapa harga tenagamu

Mogoklah
maka kau akan melihat
dunia mereka
jembatan ke dunia baru
dunia baru ya dunia baru.



Tebet 9/5/1992
=WIJI THUKUL=

SEORANG BURUH MASUK TOKO karya : Wiji Thukul

Masuk toko
yang pertama kurasa adalah cahaya
yang terang benderang
tak seperti jalan-jalan sempit
di kampungku yang gelap

Sorot mata para penjaga
dan lampu-lampu yang mengitariku
seperti sengaja hendak menunjukkan
dari mana asalku

Aku melihat kakiku - jari-jarinya bergerak
aku melihat sandal jepitku
aku menoleh ke kiri ke kanan - bau-bau harum
aku menatap betis-betis dan sepatu
bulu tubuhku berdiri merasakan desir
kipas angin
yang berputar-putar halus lembut
badanku makin mingkup
aku melihat barang-barang yang dipajang
aku menghitung-hitung
aku menghitung upahku
aku menghitung harga tenagaku
yang menggerakkan mesin-mesin di pabrik
aku melihat harga-harga kebutuhan
di etalase
aku melihat bayanganku
makin letih
dan terus diisap



10 September 1991
=WIJI THUKUL=

APA GUNA karya : Wiji Thukul

Apa gunanya punya ilmu tinggi

Kalau hanya untuk mengibuli

 

Apa gunanya banyak baca buku

Kalau mulut kau bungkam melulu

 

Di mana-mana moncong senjata

berdiri gagah

kongkalikong

Dengan kaum cukong

 

Di desa-desa rakyat dipaksa

Menjual tanah

Tapi, tapi, tapi, tapi

Dengan harga murah

 

Apa gunanya punya ilmu tinggi

Kalau hanya untuk mengibuli

 

Apa gunanya banyak baca buku

Kalau mulut kau bungkam melulu




=WIJI THUKUL=

SEHARI SAJA KAWAN karya : Wiji Thukul

Satu kawan bawa tiga kawan

Masing-masing nggandeng lima kawan

Sudah berapa kita punya kawan

 

Satukawan bawa tiga kawan

Masing-masing bawa lima kawan

Kalau kita satu pabrik bayangkan kawan

 

Kalau kita satu hati kawan

Satu tuntutan bersatu suara

Satu pabrik satu kekuatan

Kita tak mimpi kawan!

 

Kalau satu pabrik bersatu hati

Mogok dengan seratus poster

Tiga hari tiga malam

Kenapa tidak kawan

 

Kalau satu pabrik satu serikat buruh

Bersatu hati

Mogok bersama sepuluh daerah

Sehari saja kawan

Sehari saja kawan

 

Sehari saja kawan

Kalau kita yang berjuta-juta

Bersatu hati mogok

Maka kapas tetap terwujud kapas

Karena mesin pintal akan mati

Kapas akan tetap berwujud kapas

Tidak akan berwujud menjadi kain

Serupa pelangi pabrik akan lumpuh mati

 

Juga jalan-jalan

Anak-anak tak pergi sekolah

Karena tak ada bis

Langit pun akan sunyi

Karena mesin pesawat terbang tak berputar

Karena lapangan terbang lumpuh mati

 

Sehari saja kawan

Kalau kita mogok kerja

Dan menyanyi dalam satu barisan

Sehari saja kawan

Kapitalis pasti kelabakan!!

 



(12-11-94)

=WIJI THUKUL=

TEKA TEKI YANG GANJIL karya : Wiji Thukul

Pada malam itu kami berkumpul dan berbicara,

Dari mulut kami tidak keluar hal-hal yang besar..

Masing-masing berbicara tentang keinginannya 

ang sederhana dan masuk akal

 

Ada yang sudah lama sekali ingin bikin dapur 

di rumah kontraknya

Dan itu mengingatkan yang lain

bahwa mereka juga belum punya panci, kompor

gelas minum dan wajan penggoreng

Mereka jadi ingat bahwa mereka pernah

ingin membeli barang-barang itu

tetapi keinginan itu dengan cepat terkubur

oleh keletihan kami,

Dan upah kami dalam waktu singkat telah berubah 

menjadi odol-shampo-sewa rumah

dan bon-bon di warung yang harus kami lunasi

 

Ternyata banyak di antara kami yang masih susah 

menikmati teh hangat

Karena kami masih pusing bagaimana mengatur 

letak tempat tidur dan gantungan pakaian

 

Ada yang sudah lama ingin mempunyai kamar mandisendiri

Dari situ pembicaraan meloncat ke soal harga semen 

dan juga cat tembok yang harganya tak pernah turun,

Kami juga berbicara tentang kampanye pemilihan umum 

yang sudah berlalu

Tiga partai politik yang ada kami simpulkan

Tak ada hubungannya sama sekali dengan kami: buruh

Mereka hanya memanfaatkan suara kami 

demi kedudukan mereka

 

Kami tertawa karena menyadari 

Bertahun-tahun kami dikibuli 

dan diperlakukan seperti kerbau

 

Akhirnya kami bertanya

Mengapa sedemikian sulitnya buruh membeli sekalengcat,

padahal tiap hari ia bekerja tak kurang dari 8 jam

Mengapa sedemikian sulitnya bagi buruh 

untuk menyekolahkan anak-anaknya

Padahal mereka tiap hari menghasilkan 

berton-ton barang

 

Lalu salah seorang di antara kami berdiri 

Memandang kami satu-persatu kemudian bertanya:

‘Adakah barang-barang yang kalian pakai 

yang tidak dibikin oleh buruh?’

Pertanyaan itu mendorong kami untuk mengamati 

barang-barang yang ada di sekitar kami:

neon, televisi, radio, baju, buku…

 

Sejak itu kami selalu merasa seperti 

sedang menghadapi teka-teki yang ganjil

Dan teka-teki itu selalu muncul 

ketika kami berbicara tentang panci-kompor-

gelas minum-wajan penggoreng

Juga di saat kami menghitung upah kami 

yang dalam waktu singkat telah berubah 

menjadi odol-shampo-sewa rumah 

dan bon-bon di warung yang harus kami lunasi

 

Kami selalu heran dan bertanya-tanya

Kekuatan macam apakah yang telah menghisap 

tenaga dan hasil kerja kami?

 



Kalangan, Solo, 21 September 93

=WIJI THUKUL=

BURUH - BURUH karya : Wiji Thukul

di batas desa

pagi - pagi 

dijemput truk

dihitung seperti pesakitan

diangkut ke pabrik

begitu seterusnya

 

mesin terus berputar

pabrik harus berproduksi 

pulang malam

badan loyo

nasi dingin 

 

bagaimana kalau anak sakit

bagaimana obat

bagaimana dokter

bagaimana rumah sakit

bagaimana uang

bagaimana gaji

bagaimana pabrik? mogok?

pecat! mesin tak boleh berhenti

maka mengalirlah tenaga murah

mbak ayu kakang dari desa

 

disedot

sampai pucat 




solo, 4-86)

=WIJI THUKUL=

SUKMAKU MERDEKA karya : Wiji Thukul

Tidak tergantung kepada Departemen Tenaga Kerja

Semakin hari semakin nyata nasib di tanganku

Tidak diubah oleh siapapun

Tidak juga akan dirubah oleh Tuhan Pemilik Surga

Apakah ini menyakitkan? entahlah !

Aku tak menyumpahi rahim ibuku lagi

Sebab pasti malam tidak akan berubah menjadi pagi

Hanya dengan memaki-maki

 

Waktu yang diisi keluh akan berisi keluh

Waktu yang berkeringat karena kerja akan melahirkan

Serdadu-serdadu kebijaksanaan

Biar perang meletus kapan saja

Itu bukan apa-apa

Masalah nomer satu adalah hari ini

Jangan mati sebelum dimampus takdir

 

Sebelum malam mengucap selamat malam

Sebelum kubur mengucapkan selamat datang

Aku mengucap kepada hidup yang jelata

M E R D E K A ! !



=WIJI THUKUL=

ISYARAT karya : Wiji Thukul

Jika rakyat pergi 

Ketika penguasa pidato

Kita harus hati-hati barangkali mereka putus asa 

Kalau rakyat sembunyi dan berbisik-bisik 

Ketika membicarakan masalahnya sendiri 

Penguasa harus waspada dan belajar mendengar 

Bila rakyat tidak berani mengeluh Itu artinya sudah gawat 

Dan bila omongan penguasa \

Tidak boleh dibantah 

Kebenaran pasti terancam 

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang 

Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan 

Dituduh subversif dan mengganggu keamanan 

Maka hanya ada satu kata: LAWAN!




=WIJI THUKUL=

Senin, 10 Agustus 2015

AKU DILAHIRKAN DISEBUAH PESTA YANG TAK PERNAH SELESAI karya : Wiji Thukul

aku dilahirkan di sebuah pesta yang tak pernah selesai

selalu saja ada yang datang dan pergi hingga hari ini

 

ada bunga putih dan ungu dekat jendela di mana

mereka dapat

memandang dan merasakan kesedihan dan kebahagiaan

tak ada menjadi miliknya

 

ada potret penuh debu, potret mereka yang pernah hadir

dalam pesta itu entah sekarang di mana setelah mati

ada yang merindukan kubur bagi angannya sendiri

yang melukis waktu sebagai ular

ada yang ingin tidur sepanjang hari bangun ketika hari

penjemputan tiba agar tidak merasakan menit-menit

yang menekan dan berat

 

di sana ada meja penuh kue aneka warna, mereka

menawarkannya

padaku, kuterima kucicipi semua, enak!

itulah sebabnya aku selalu lapar

sebab aku hanya punya satu, kemungkinan!

 

Tuhanku aku terluka dalam keindahan-Mu.

 




=WIJI THUKUL=

OTOBIOGRAFI karya : Wiji Thukul

tak pernah selesai pertarungan menjadi manusia

tak pernah terurai pertarungan menjadi rahasia

adalah buku lapar arti

tipis segara habis diburu kubur-kubur waktu

 

hari-hari pun sajak menagih kata

kata-kata pun ketagihan jiwa

dalam sebuah buku lembar-lembar berguguran

tak seperti bunga tetap kita sirami di taman-Mu ini

 




=WIJI THUKUL=

TENTANG SEBUAH GERAKAN karya : Wiji Thukul

tadinya aku pengin bilang

aku butuh rumah

tapi lantas kuganti

dengan kalimat:

setiap orang butuh tanah

ingat: setiap orang!

 

aku berpikir tentang

sebuah gerakan

tapi mana mungkin

aku nuntut sendirian?

 

aku bukan orang suci

yang bisa hidup dari sekepal nasi

dan air sekendi

aku butuh celana dan baju

untuk menutup kemaluanku

 

aku berpikir tentang gerakan

tapi mana mungkin

kalau diam?



 

1989

=WIJI THUKUL=

SAJAK TIGA BAIT karya : Wiji Thukul

kepada: kun

 

yang gelisah mengajakku pulang

aku tahu aku tak sendirian

sesenyap apa di mana pun

 

ada yang mengajak berhenti ketika lari

ada yang mengajak bicara ketika diam

ada yang mengajak terbahak ketika bungkam

ada yang mengajak jaga ketika tidur

aku tak tahu siapa namamu

 

yang mengajakku pulang

dengan suara rindu bapa pada anaknya

yang membuatku tersedu

di tengah jalan yang panjang dan remang

 



=WIJI THUKUL=