Selasa, 13 Oktober 2015
SEBARIS MIMPI karya : Alexander Robert Nainggolan
di teras tubuhmu semalaman
tak bisa kausingkirkan
bahkan ketika hujan tiba
pagi itu
semuanya mungkin kecemasanmu
yang mengeras
bertahun-tahun
akrab mengunyah bencana
saat kaukisahkan mimpimu
orang-orang menggeleng bersama
“mimpi itu untukmu! bukan milik kami!”
serempak menghardik
Jakarta, 2010
=ALEXANDER ROBERT NAINGGOLAN=
BUKU PENYAIR karya : Alexander Robert Nainggolan
bahagia tertahan
hujan tergenang
kenangan terasa remang
tak mampu dipilahnya malam atau sedikit sepi
di sana kata-kata meranggas lalu siap dikubur ke tanah
mengais rindunya yang lembab dengan sedikit darah
yang didapati cuma muka orang-orang
menanam meriang padanya sepanjang hari
dicabutnya baris kalimat resah
menunggu di sepanjang gang sempit berbau apak
sebuah pinggiran kota yang tak tersentuh senja
lalu dikailnya angin
sampai tubuhnya kering
fragmen kesedihan lelap lagi
mungkin hadir pada mimpinya
sepanjang malam yang resah
dirinya yang kalah
lalu dikuncinya semua cuaca
diam-diam belajar membaca
di ruangan yang sesak dengan buku
tak pernah ada yang selesai dengannya
meski pagi tumbuh
acap tak ada yang usai
2010
=ALEXANDER ROBERT NAINGGOLAN=
SUATU WAKTU karya : Alexander Robert Nainggolan
engkau akan mencatat sekelumit kalimat rumit
dan kau bilang itu sebuah puisi
sementara orang-orang pergi jauh
menempuh semua peluh di tubuh
suatu waktu, di sebuah tempat
engkau tergoda juga untuk mencumbu angin
sementara harapan semakin dingin
dan kepergian cuma cerita larat yang diulang-ulang
akhirnya, kaucuma memenggal dirimu sendiri
serupa jenar
menggoda waktu
agar nampak memar
dan kaubertemu dengan baris kecemasan baru
bertahun abai berdamai dengan waktu
2010
=ALEXANDER ROBERT NAINGGOLAN=
MENEMPUH NUH karya : Alexander Robert Nainggolan
tenggelam di laut
namun engkau masih saja menunggu
dengan wajah kerut
atau rindu yang semaput
segala yang penuh kabut
dan banjir bandang
gelisah bertandang
mungkin engkau bimbang
dengan apa mesti menempuh nuh
sebab ia terasa perkasa
memahami bencana
engkau terus saja menempuh
ke ujung laut
yang jauh
Jakarta, 2010
=ALEXANDER ROBERT NAINGGOLAN=
BUAT ANWAR karya : Alexander Robert Nainggolan
mengetuk di pintu-Nya
mungkin akan terbuka
menampung segala keluh
yang berkerumun di tubuh
tapi dari sudut mata tirusmu
sajak-sajak mengelupas
mengabarkan dunia yang luas
seperti telur menetas
anwar, jika suatu waktu aku sua
apa yang mesti kutanyakan?
ehm, mungkin tanpa bertanya saja
paling enaknya kita surfing
diksi saja di internet
atau mengapungkan tenung waktu
di kafe, dengan beberapa lagu
sekaligus cemilan juga capuccino
“aku ingin berdoa,” ucapmu lirih
“buat siapa? di kafe ini?” kejarku
“puisi yang telah lama pergi dan mati,”
hampir suaramu tak terdengar
Jakarta, 2010
=ALEXANDER ROBERT NAINGGOLAN=
Senin, 12 Oktober 2015
PASAR SUNGAI SARIAK karya : Alexander Robert Nainggolan
sepanjang kerucut rumah gadang
remah ingatan sepotong lagu
“kampuang nan jauh di mato…”
saat harga adalah rahasia
terjebak di antara ruas jemari
dan tak ada lagi curiga
cuma rangkuman percaya
rahasia di mata
sepanjang pasar
ternak yang beranak
kelak berpindah tangan
tanpa ucap
hanya terasa degap
ketika semuanya usai
tanpa mesti ada yang sangsai
di balik selendang
jemari yang sembunyi
tanpa suara
sunyi
dengan mata berbinar
cuaca yang berdenyar
mengharap kabar
dan tinggal menghitung arah angin
akan ke mana ini berakhir
ibarat muara
cuma suara ternak yang mengucap
percuma kaugoda
semacam obral di mall besar
sebab yang tamak kelak akan sia
ditikam bayangan kota padang
2011
=ALEXANDER ROBERT NAINGGOLAN=JAM GADANG YANG BERDENTANG karya : Alexander Robert Nainggolan
bagaimana bisa kuhapus seluruh wajah kotamu?
bahkan ketika getar gempa menghadang
dan jam gadang terus berdentang
seperti sebuah remang
yang melulu singgah dalam lukisan
lalu kotamu membeku
seperti bongkah batu
lalu kaupun membaca hikayat si malin kundang
ah, lupakan saja sekejap ihwal anak durhana itu
tubuhnya telah liat oleh cuaca
ia yang membatu dan seperti suara setubuh
yang dibangunkan orang-orang pada setiap jerit kalimat
namun kotamu terus apik
semacam menanam rindu
untuk pulang lagi
jam gadang yang berdentang
adakah ia menyimpan rahasia?
saat gegas langkah menderap singgah
memecah linu pejalan kaki
lalu ia merasa cuma sekadar penanda
“semacam waktu yang gugur, tak pernah sempat untuk dikubur.”
menelusup di kenangan pada buku waktu
ketika disibak halaman demi halaman
bersidekap pada silang kota
dan membelah segala gelisah
seperti dirawatnya luka orang-orang
seperti didengarnya tangis kanak-kanak
seperti dijemputnya binar harapan
dan ia tumbuh senantiasa
persis kecambah pada pepohon
yang liuk menekuk rimbun daun
dan ia berbunyi
seperti gema saung
menempuh subuh jauh
di antara bakan orang manatiang piriang
lalu disusun agenda
jam gadang terpejam
didengarnya detak dari detik
seperti degup tubuh yang dipenuhi sauh
ia berlayar bersama waktu
kerap bergetar dan melingkar
bertahun-tahun jam itu kukuh di sana
setia menjaga kota
juga ingatan remang yang pendar cahaya
sembul gedung
bayangan rumah gadang
harum kopi kawa
dengan batok kelapa kering
“hiruplah aku ketika asap masih mengepul. dan engkau akan membawa remah biji kopi
sampai ke palung mimpi.”
maka petiklah
hanya daun yang penuh getah
mengobati linumu
jauh di remah galau
setiap jarum penunjuk arah
bagai tak mau kalah
atau melompat keluar
sekadar bermimpi untuk pulang
berpalang-palang rajam untuk rumah
maka ditatanya kota itu sendirian
ia bertahan pada setiap gaduh yang tumbuh
barangkali masih sempat dijemputnya
aroma kapau dari sebuah restoran
atau teh telor yang sengat dengan susu
langkah orang-orang yang lelap di antara gagap
hingga tak mampu menjawab lidah usia
seakan menjemput tanda kerut di tubuh
ah, betapa ia tetap bertahan di sini
bahkan ketika kota ini dipenuhi guncang
lindu yang mengeras dari dalam tanah
sementara di wajah pejalan
yang menembus bandar
luka itu kerap tumbuh
tapi bukankah aku telah gadang;
bahkan ketika gempa datang?
2011
=ALEXANDER ROBERT NAINGGOLAN=
MENYUSUN PUZZLE karya : Alexander Robert Nainggolan
mestinya aku mengenangmu lewat hujan
tapi hanya cuaca sengat yang larat mendekat
dan aku terjerat padamu
segalanya membekas
semacam saat menyusun puzzle kenangan yang retak
membetulkan letak ingatan
tentang ranum bibirmu
meskipun sepanjang kota
kerumun orang mengumpat
hanya ada bekas tahun yang menguning
seperti terkunci
ah, betapa sulitnya kurekatkan dirimu
bertahun-tahun tak kunjung rapat
2012
=ALEXANDER ROBERT NAINGGOLAN=
ISTRI karya : Alexander Robert Nainggolan
1.
ia memasukkanku ke dalam kamar
ranjang yang hangat
dan secangkir kopi di meja depan
“selalu aku ingin menggambar hujan bersamamu!”
lengannya lebih rekat menyumbat ingatanku
2.
ia berdandan di depan cermin
“adakah aku menjadi tua?”
ia seperti ingin menggugat waktu
tapi pelukannya telah merawatku
setiap kali tubuhku gemetar
“kutinggalkan bekas gincu di telapak tanganmu. supaya engkau ingat selalu.”
ucapnya menjauh, sebelum aku tergesa kerja
3.
ia membenahi segalanya
aku yang tak pernah ingat letak pakaian
dan menyimpan usiaku yang kerap tak usai dikayuh
Poris Plawad, 2012
=ALEXANDER ROBERT NAINGGOLAN=
KUE ULANG TAHUN karya : Alexander Robert Nainggolan
- asrina
ayolah, potong kue itu
hanya ada desir waktu cemas menguntit dirimu
membayangkan engkau tumbuh
dan dipenuhi kerut wajah
hanya nyala lilin
uban yang memanjang
dan engkau yang telah menjadi ibu
ayolah, buka kado itu
setelah ini kita ke pantai
mengakrabi biru laut
dan menyimpan kenangan yang lama sungut
hanya senyumanmu
mengganti bilangan hari
yang selalu kautandai setiap pagi
2012
=ALEXANDER ROBERT NAINGGOLAN=
BANDAR JAKARTA karya : Alexander Robert Nainggolan
semestinya engkau tak usah menghubungiku
kenali saja kota ini sendiri
kau akan paham jika penat telah lama pucat
di antara kendaraan yang antri
dan debar klakson
waktu yang aus
tanpa per
yang mengajakmu kembali ke silam
gang sempit, suara jerit
sebab hanya ada hutan buatan di sini
pohon-pohon masuk ke dalam pot besar
dan trotoar bukan milik pejalan kaki
dan kau akan senantiasa kangen di sana
ingin singgah serupa kundang
di bandar besar
dengan otak jahat yang berlingkar
hanya tandus jalanan
beratus hari hilang hujan
2012
=ALEXANDER ROBERT NAINGGOLAN=
Jumat, 09 Oktober 2015
LUMBUNG karya : Alexander Robert Nainggolan
1/
sepanjang tahun ia menabung kata
di lumbung kenangan
tapi kata tak gandrung
cuma murung mengisapnya
tak kunjung jadi kuning tua
menanam benih yang tak tumbuh
dan kota ini jadi kering dan asing
bayangan puisi mengabur di kaca jendela
mungkin ia perlu bertahan dalam pelukan
seorang perempuan
ketika hujan tandang
2/
di malam ini,
ada isak kata menangis tersedu
tak bisa ia tenangkan
bahkan ketika sebuah sajak
selesai ditulisnya
2012
=ALEXANDER ROBERT NAINGGOLAN=
BERMAIN DENGAN HUJAN karya : Alexander Robert Nainggolan
Bukankah itu adalah hujan yang kautemui waktu kanak dulu?
Dengan tubuh kecilmu berlari sepanjang jalan, hingga tubuhmu kuyup, kulitmu mengerut.
Tanpa cemas.
Dan itulah kenangan yang panjang, meski engkau meriang,
menahan gemetar tubuh yang dibalut dingin.
Gigimu gemeretuk, mengetuk mimpi yang binar.
Nampak pijar matamu selalu berdenyar, sepanjang hari.
Kini engkau jalani lagi ingatan itu,
namun tubh yang dewasa tak sanggup menampung segala riang hujan.
Tubuhmu ngilu dan dihajar influenza berat.
Kau coba mengingat; ternyata kilap hujan lebih kuat.
Tak bisa kautampung hingga rampung di tempurung kepalamu.
Hanya ingatan pada selimut hangat atau jalanan yang terus membasah dalam kecambah
hujan.
Kebon Jeruk, 2014
=ALEXANDER ROBERT NAINGGOLAN=
TANPA LAGU karya : Alexander Robert Nainggolan
1.
mungkin telah kaulupakan
bagaimana aku tertatih menjemputmu
di masalalu
menguliti malam yang tumbuh di sepanjang ranjang
dan kausibuk menjumlahkan segala gagal
yang telah lama terpanggul di tubuhku
2.
cuma malam merangkak
selebihnya sunyi dingin
ketakutan yang congkak
dan sejarah terpilin
3.
kau bergerak tanpa lagu
juga senyum beku
yang pudar di bibir
4.
entah dengan cara apa aku mesti menciummu?
ketika ragu menumpuk
dan kita serasa kutuk
menempuh semua upacara ganjil
di tengah gerung rindu yang gigil
5.
seperti biasa
aku termenung di kafe ini
sunyipun merayap
tanpa lagu yang berdenting
aku yang kehilangan
2011
=ALEXANDER ROBERT NAINGGOLAN=
PERCAKAPAN TENTANG HUJAN YANG TAK JADI karya : Alexander Robert Nainggolan
1/
ia menemui tanah
telah lama luka
seperti kepul debu
yang membasuhnya
dan panas pecah di kornea
tiba-tiba ia ingat adam…
2/
tapi adam telah pulang
masuk ke remang
ia sembunyi
berpura akrab pada sunyi
nyatanya segala bermula
dari lempung
tanah yang murung
3/
langit hitam
bayangan awan
tebal seperti kepul asap
dari cangkir kopi
sisa rindu beremuruh
juga di langit
namun hujan tak tumbuh
cuma debu luruh
tak tertempuh
2011
=ALEXANDER ROBERT NAINGGOLAN=
SEGALA CAKAP DI TELEPON karya : Alexander Robert Nainggolan
hanya kidung
tanpa ujung
segala cakap di telepon
merayap di dinding malam
kau yang selalu kurindu
bahkan saat waktu
merekat dalam pilu
namun segala cakap
tak pernah selesai
untuk didekap
cuma kalimat lunglai
menembus
beku di jenjang perjalanan
2011
=ALEXANDER ROBERT NAINGGOLAN=
DI PUCUK LAUT karya : Alexander Robert Nainggolan
ada yang tak bisa kaupungut
segala sungut
yang terebut
bahkan saat kecipak ombak
meresap lenyap
terusir di pasir
bayangan angin
mimpi-mimpi remaja
aku yang kerap tertatih
mengibarkan bendera putih
di pucuk laut
masih kusebut
sebuah tanda
yang enggan dieja
2011
=ALEXANDER ROBERT NAINGGOLAN=
KUCING BELANG karya : Alexander Robert Nainggolan
kucing belang melompat ke meja makan
diarunginya berbagai aroma
perutnya mulai buncit
mungkin bulan depan kelak
ia bakal beranak lagi
kilat matanya
dalam lapar yang tak tamat
dan kauterjaga
dari mimpi buruk
tanpa ceruk
2011
=ALEXANDER ROBERT NAINGGOLAN=
SEMACAM PERJALANAN karya : Alexander Robert Nainggolan
mungkin ini bisa jadi semacam perjalanan.
di mana kaubisa berkisah pada orang, ihwal sebuah tempat yang tenang.
meski para penguasa berkomplot untuk terus menaikkan pajak,
tapi yang kautinggalkan cuma seberkas jejak.
langkah yang payah melintas di barisan rumah.
kini akalmu terbela, memotret sketsa buram negeri, yang tak pernah bisa dipercaya.
semuanya cuma lintasan tragedi, yang membangkitkan cercah.
juga sejumlah gombal tanpa logika.
barangkali ini adalah sebuah perjalanan.
saat kau tiba-tiba tua oleh usia.
tanpa sempat lengkap membaca tentang gerimis
yang jatuh mendekap hening, di suatu negeri.
2011
=ALEXANDER ROBERT NAINGGOLAN=
MENYIBAK ANGIN karya : Alexander Robert Nainggolan
seperti ada yang salah dengan negeri ini,
saat kausibak angin.
cuma bayangan epitaf, penuh ketakutan. bergelayutan seperti ayunan,
juga ketika kautanyakan di mana ibu yang sesungguhnya.
di kembaramu, setiap pelosok adalah tangis orok. tak pernah bisa ditenangkan
bahkan saat kauhibur dengan sebotol susu hangat, tapi bukan payudara ibu.
lalu kau berusaha menemukan jalan baru,
saat kerumun orang melempari batu ke jalanan.
semacam ingin mengirim ratusan onak di dalam mimpimu nanti malam.
saat itu, kota-kota nampak tenang.
tanpa angin. tanpa jejak suara gaduh yang biasa merambat di gendang telingamu.
suara kerumun yang penuh dengan keluh.
2011
=ALEXANDER ROBERT NAINGGOLAN=