Tampilkan postingan dengan label EVI IDAWATI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label EVI IDAWATI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 Agustus 2015

TENTANG POHON DAN MERPATI karya : Evi Idawati

Anak-anak melepas tujuh merpati putih

Di tengah hari

Di rimbun dedaun

Angin mengantarkan pesan

Agar disampaikan kepada tahta semesta

Sayapnya membawa luka

Cengkeram kaki dibungkus kafan

Tatapan matanya menembus cakrawala

Bersama desah daun jati

Bumi yang tergali membuka diri

“Tancapkan akarmu, agar siap kubuahi”

Bisik bumi pada mahoni

Dan cerita tentang merpati siang itu

Disambut hujan dan nyanyian batu-batu

“Dengarkan khotbahku!”

Dihentak hujan

Digoyang pepohonan

“Dengarkan khotbahku!”

Lewat getar bumi

Dan desis ular di batu kali

“Dengarkan khotbahku!”

 

Lalu semuanya diam

Hanya terdengar petikan tangan

Burung yang terbang

Pohon yang telah tertanam

Menyiapkan diri menjadi saksi

Dari peradaban yang tercerabut dari akar



 

Imogiri 1 muharam 2007

=EVI IDAWATI=

NIPAH karya : Evi Idawati

Lihatlah, laut mengepung kita

Kau hitung gelombang meriam yang ditembakkan?

Berapa debur raung pesawat tempur yang memutari kita?

Meski begitu

            Detik maju

            Ombak menyapa

Bukankah kau nahkoda?

Tapi engkau tersenyum merapatkan kedua telapak tangan

Di dada menunduk sambil berkata, “Aku seorang pelayan”

Gendering telah ditabuh

Pasir dijual

            Karang didatangkan

Tertulis prasasti keberagaman

Tenda, kursi dan tugu batu

Serta kumandang lagu kebangsaan

Sirene mengaung, bendera berkibar

Cemara dan ketapang menjadi saksi

Dua tangan mengucap janji

“Nipah, aku catatkan ikrarku di bumimu

dengan kata setia!”



 

KRI Tanjung Nusa Nive , mei 2006

=EVI IDAWATI=

SUNGAI karya : Evi Idawati

Sungai

            dangkal

                        mengering

tanah rekah

            ilalang menguning

telah sekian masa perahu ditambatkan

dayung menganggur

lumut garing

            bau laut

menyengat

rindu sapa

gerak bakau dan kelapa

“aku datang dari ruang silam

dari sakit yang terpelihara bertahun lamanya

sekarang kutenggok, sungaiku

aku tak menemukanmu!”

menjelajah

            rekahan tanah

rumah siput

kerang

jala

senar

umbria

semilir angin masih menyapa

telanjang kaki aku menutup janji

“aku mengaliri sungai dengan darahku

biarkan menggenang dan memberi hidup padamu.”

 

Bocah-bocah berlarian

menjejak kaki di dasar kali



 

Jogja 2006

=EVI IDAWATI=

BOCAH-BOCAH BERMAIN DI KALI karya : Evi Idawati

Bocah-bocah bermain di kali

Menambang pasir

Menggali bumi

Memisah air

Berlarian telanjang kaki

Menyentuh batu menyeberang kali

Sambil berteriak memanggil

Melempar kerikil

“Hoooi”

Suaranya menggema menyentuh batu

Menyapa daun

Menabrak sepi memantul kembali

Sementara di seberang perempuan mencuci

Meremas baju

Menumbukkan getir pada batu kali

 

Dilaluinya hari dengan laku yang sama

Bukankah hidup mengulang yang pernah ada

Dengan kemasan yang berbeda



 

Jogja 2007

=EVI IDAWATI=

BERBURU CAHAYA karya : Evi Idawati

Garis bumi yang gelap

Panji-panji menggantung di langit

Adalah tanda dari masa yang bergerak perlahan

Meski lampau dan sekarang bulan tetap sama

Seperti bumi seperti matahari

Ratusan tahun bintang berkelana menjelajah semesta

Tetaplah bintang yang sama

Hanya bergeser pada waktu tertentu

Jika tepi matahari muncul di permukaan

Langit merah seperti darah

Riuh suara bumi

Gerak penghuni

Pagi menari

Di atas kuda aku berburu cahaya

“Lihatlah, hari telah mulai, kutarik tali kekang kuda

menujuNya.”

Sambil membawa tombak dan baju zirah

Aku menuju titik matahari

Di atas pelana kudengar genderang

Di kejauhan menara mencatat peristiwa

Singgasana dari kota yang terampas

Mengusungku di atas tandu

Menuju tabir gaib rahasia



 

Jogja 2006

=EVI IDAWATI=

DARI KEKOSONGAN karya : Evi Idawati

Dari kekosongan itulah aku mulai menuliskan angka-angka

Awal dan akhir dalam hitungan bulan menggerakkan usia

Bebunyian dari angan dan hati memanggil-manggil

Berabad lamanya ruh yang datang bersemayam

Bahkan pekuburan dibongkar

Mimpi dipertengkarkan

Seluruh kerajaan bulan menyembunyikan sinar

Berjalanlah dari katulistiwa untuk menemukan angka-angka

Khutbah yang diperdengarkan akan mendera

Bayang dari latar cahaya menjelma

Lalu kesunyian menggerogoti malam

Kekasihku, di ujung ekor naga yang menyelimuti

bintang utara

Batu-batu akan melahirkan manusia

Cinta bagaimana yang membuat luka dan duka?

Hingga kering tulang dan bibir gemetar

Sementara di garis bintang takdir telah dijatuhkan

Kau lihat matahari, bulan dan bumi di garis yang sama?

Dalam hitungan rindu kalbuku terhampar

Wahai pengantinku,

Aku telah menempuh jalan lama dari bukit terjal

Akan kusebut nama sambil menghitung bintang

Meskipun berbeda tempat dan jaraknya

Dari kekosongan kutuliskan angka-angka

Namun hanya satu kata yang kubisikkan



 

Jogja 2006

=EVI IDAWATI=

SURAU PUTIH DI KALIDUNGU karya : Evi Idawati

kecil seperti tubuhku rapuh

papan-papan berbaris

mengelupas cat

diserap ilalang

beranak katak, ular

jamur dan lumut ke kolam

airnya bening tetes mataku

ketika bersujud terjatuh sajadah kayu

hentakan daun menyadarkan kebekuan

di kiri kanan leluhur mengantar

membaca falsafah ketajaman

melihat semesta dengan batin

mendengar awan, laut, tumbuhan hening

di surau putih kalidungu



 

Jogja 2001

=EVI IDAWATI=

TERENDAM LUMPUR karya : Evi Idawati

Benturan bumi serta gerakannya yang berubah

Seperti membaca awan langit dan tanda yang

dibawanya

Tapi ke mana?

Kampung, dusun dan desa

Rumah bernaung dari gelisah dan getir hidup

Tanah cinta telah tak ada

Terendam lumpur

Segala

Di tempat pengungsian, rumah sanak saudara, anak-

anak bertanya

“Ibunda, di mana aku dilahirkan?”

“Di negeri indah dekat bencana”

“Bisakah kita kembali ke sana, aku ingin bermain

di tanah lapang dekat rumah”

“Tidak anakku, biarlah hilang tanah kita, tempat

pijakan kaki

dan kubur moyang kita.”

“Kenapa?”

“Begitu dekatnya bencana dengan negeri kita

Jika kita salah pintu dan keliru membuka

Bencana akan menjadi milik kita selamanya.”

 

Lumpur berkembang, lumpur melebar

Mencari ruang bertahan

Yang tersisa hanya kenangan



 

Jogja 2007

=EVI IDAWATI=

MUSIM PANEN, DI JALAN DESA, DEMAK karya : Evi Idawati

sawah terhampar menyentuh kaki langit

bau padi menusuk hidung, sore hari

cericit burung berganti hembusan angin

mengibarkan kain dan plastik

senjata petani mengusir paruh dan sayap

menyanyikan tembang musim panen telah datang

 

air berhenti mengalir

ikan bersembunyi

di bawah enceng gondok, rumput dan teratai

petani memanggul sepeda berjalan di pematang

karung-karung padi

tumpukan tenaga dan mimpi

 

jelang malam

matahari

pipi perawan

merona karena ciuman

petani bergegas pulang

membawa butir padi

untuk esok hari



 

Demak 2004

=EVI IDAWATI=