Tampilkan postingan dengan label HANS BAGUE YASSIN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HANS BAGUE YASSIN. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 September 2015

CIPTAKAN DUNIA BAHAGIA karya : Hans Bague Yassin

Alangkah rapuh badan manusia
Walau seabad hidup di dunia
Hanya sedetik di samudra masa,

Lebih lama waktu terasa
Lebih hebat menderita raga dan jiwa
Oleh dikacau nafsu kebendaan,

Di atas bumi sedang berputar
Hilangkan angkara murka
Ciptakan bahagia di stasiun antara
Dari keabadian ke keabadian



1945
=HANS BAGUE YASSIN=

KESASAR DI DALAM PIKIRAN karya : Hans Bague Yassin

Pernah kubaca, manusia angkuh berkata:
“Akulah puncak segala yang sudah.
Dan mengandung segala yang datang.”

Sunglap kata, sunglap pikiran,
Ahli pikir, ahli penyair, pujangga-pujangga.
Semua mereka berputar-putar
Ke sasar di dalam pikiran
Semua suara ‘lah pernah kudengar,
Yang bodoh, yang bijaksana,
Yang bijaksana sebijaksananya,
Berpuluh abad sudah tuanya.
Tiada ubah-ubahnya,
Ah, membosankan belaka,
Permainan khayal bagi orang tiada bekerja,
Melupakan dunia yang nyata.



1943
=HANS BAGUE YASSIN=

Jumat, 14 Agustus 2015

MIMPI karya : H. B. Yassin

Aku bermimpi puteri Cina
Mau mengajaknya jalan-jalan
Tapi ibunya menjaganya, menjaganya dengan ketat
#
Dia rindu kepada Lian,
Dia terpekik menyambut aku
Tidak mengira aku cinta padanya
Aku bekerja, bekerja, bekerja
Habibie senang tersenyum
Senang tersenyum melihat aku bekerja
#
Buku-buku dicetak,
Buku-buku baru dan cetak ulang
Buku-bukuku dicetak
Banyak, banyak sekali
#
Aku salat, salat Tahajud,
Subuh, Lohor, Asar, Maghrib dan Isa,
Aku salat sanah tiap salat wajib
Dan mengirim doa kepada kedua orang tuaku,
Kepada Hamka dan kawan-kawanku
Subagio Sastrowardojo dan lain-lain
#
Hidupku hidup nyata dan impian
Tak dapat kubedakan mana yang nyata mana impian
keduanya sama dalam hidupku
#
Aku berdoa: Ya Allah,
Bukakanlah hati semua orang
Bukakan hatinya menerima Al-Quran Berwajah Puisi
Dan menyebarkannya keseluruh penjuru
#
Tak dapat aku bedaskan pengalaman nyata,
impian dan harapan
Aku membaca, bacaanku pun menjadi nyata
Aku terbang ke istana Harun Alrasyid,
Melihat Hikayat Seribu satu Malam
#
Pagi-pagi ku baca koran,
Berita-berita terlukis di mata
Waktu tidur berita menjadi nyata
Bercampur baur peristiwa dan impian
Apa yang masuk dan keluar benakku
Keduanya mempunyai nilai yang sama
Benakku sungguh luar biasa
Apa yang keluar dari benak Taufik Ismail, Hamid Jabbar,
dan Sutardji Calzoum Bachri, menjadi bagian dari benakku
Alangkah besar alangkah Agung Tuhanku!




Jakarta '96

=H, B, YASSIN=

Selasa, 11 Agustus 2015

DOA karya : H. B. Yassin

Di atas runtuhan lahir dan batin

Oleh gempa peperangan dunia

Dalam sedih dan duka dunia berjuang

Terlahir Negara Indonesia Merdeka

 

Semoga bangsa mulia sempurna

Senantiasa ingat kepada Tuhan

Penjelmaan lahir segala yang indah

Di dalam laku dan perbuatan

 

Ya, Allah, berilah ilham yang suci abadi

Dalam pekerjaan bangsa kami

Turut membentuk perdamaian dunia

Manusia utama lahir dan batin

 



1945

=H. B. YASSIN=

SELINTAS KESAN karya : H. B. Yassin

Genderang berderam-deram,

Sepatu berderap-derap,

Terompet meteret-tet-tet,

Sorak manusia riuh gempita.

 

Lihat mereka tegap dan gagah,

Arab, India, Tionghoa, dan Indonesia.

Berbaris rapat teguh bersatu,

Satu tujuan: Asia Raya!

 

Menderu melintas mesin udara,

Tamsil pelindung yang Maha Kuasa,

Atas rakyat berjuta-juta.

 

Seluruh Asia bangun berbangkit,

Melepaskan belenggu perbudakan Barat,

Menuju Sinaran Matahari Terbit.

 



=H. B. YASSIN=

(Dimuat dalam Panji Pustaka No. 20 Th. VI, 16 Maret 1942)

 

MIMPI DAN HIDUP karya : H. B. Yassin

Pernah saudara bermimpi

Mendapat uang perak dan emas,

Lekas digenggam kuat dan keras,

Takut ‘kan hilang orang rampas,

Kemudian terinsyaf bangun,

Tiada sesen di dalam kantung?

 

Nampak saudara orang

Mengumpul harta dunia,

Memeras tenaga cepat lekas,

Inginkan harta limpah-limpahan,

Kemudian...

Diusung ke kubur

Di dalam kafan?

 

Saudara. Coba bandingkan:

Mimpi dan Hidup mana yang benar,

Dalam kedua tiada bawaan.

 



1942

=H. B. YASSIN=

Sabtu, 01 Agustus 2015

PERBARUAN TEKAD karya : H.B. Yassin

Di tempatku terpencil jauh terasing

Kudengar suaramu penyanyi radio

Engkau menghibur hati dan jiwa

Orang yang sakit badan merana

 

Di tempatku terpencil jauh terasing

Kubaca madahmu, wahai pengarang

Kau alirkan rasa, kau atur pikiran

Terkuak kegelapan, menyinar benderang.

 

Kulihat pula sekeliling orang berjasa

Dokter dan suster, mantri dan kacung

Bekerja bersama dalam susunan

Melawan penyakit menumpas derita.

 

Demikian adanya hidup di dunia

Saling membantu bahagia membahagiakan

Ya, Tuhan, kembalilah tenaga, kuatlah sayapku,

Aku ingin turut berbakti.

 



1945 

=H.B. YASSIN=

Rabu, 15 Juli 2015

ANAKKU, JAM SEMBILAN SEKARANG karya : H.B. Yassin

 

a)   “Anakku, jam sembilan sekarang, dengarlah!

      Angin malam mendesir dan udara jadi sejuk

      Terlalu dingin mungkin bagimu, jidatmu hangat

      Kau main begitu lasak sehari-harian

      Kau tentulah letih, mari, tikarmu menunggu –”

 

      “Ah, Bunda, biarkan daku sebentar lagi

      Enak tiduran di sini – dan di sana,

      Di dalam sana di atas tikarku, aku segera tertidur,

      Dan tidakpun tahu apa mimpiku, – tapi di sini,

      Di sini segera ku dapat cerita apa mimpiku,

      Dan tanyakan apa artinya – dengarlah,

      Apakah itu?”

 

      – “Itu kepala yang jatuh ke tanah.” ­–

– “Sakitkah rasanya ia jatuh?”

 

                                    – Ku kira tidak,

Orang bilang buah dan batu tak punya perasaan.” –

 

– “Tapi kembang, tak merasakan juga?” –

                                                – “Tidak,

Orang bilang tak ada perasaannya.”

 

                                    – Kalau begitu,

Mengapa Bunda, waktu kemarin ku bawa pukul ampat

Bunda berkata aku sakiti dia?” –

 

– “Anakku, si pukul ampat amat cantiknya,

Kau tarik daunnya halus sehingga koyak

Sedih aku melihat kembang itu.

Sekalipun ia sendiri tidak merasa,

Aku merasakan untuknya, karena ia begitu cantiknya.” –

 

– “Tapi Bundaku sayang, kau pun cantikkah juga?”

                                    – “Tidak, anakku,

Ku kira tidak.” –

            – “Tapi Bunda punya perasaan?” –

 

b) – “Ya, orang punya perasaan, tapi tidak semuanya sama” –

     

      – “Dan dapatkah sesuatu menyakitimu?

                                                            Sakitkah itu kau rasa

      Jika kepalaku berat terhantar di pangkuanmu?” –

     

      – “Tidak, itu tidak sakit ku rasa!” –

                                                                        – “Dan Bunda,

      Apakah aku punya perasaan?” –

     

                                                            – “Tentu, ingatkah kau

      Waktu jatuh kesandung batu, tanganmu luka dan kau menangis,

      Kau pun menangis waktu Saudin menceritakan padamu

      Anak domba di bukit sana

      Jatuh ke dalam jurang lalu mati;

      Lama kau menangis, – itulah perasaan!” –

     

      – “Tapi Bunda, kalau begitu, perasaan

                                                            samakah dengan kesedihan?” –

                                                            – “Ya, seringkali demikian,

      Tapi tidak selalu, – kadang-kadang tidak! Kau tahu

      Kalau adikmu kecil mencekau rambutmu,

      Dan memekik riang menarik mukamu ke mukanya

      Kaupun tertawa girang, itu pun perasaan.” –

     

      – “Dan adikku kecil – dia menangis begitu sering

      Karena sakitkah? – Apakah dia berperasaan juga?” –

     

      – “Mungkin, anakku, tapi kita tidak tahu,

      Karena dia masih kecil dan tak dapat mengatakannya.” –

     

      – “Tapi Bunda … dengarlah, apakah itu?” –

     

                                                            – “Seekor rusa

      Yang kemalaman dalam hutan dan kini

      Berlari pulang melepas lelah

      Bersama rusa yang lain, rusa-russa kesayangannya.” –                           

     

                                                                        – “Bunda,

c)   Rusa itu, adakah adiknya kecil seperti aku

      Dan adakah Bundanya juga?” –

                                                            – “Entahlah, anakku.” –

      – “Kalau tidak, alangkah sayang!

      Tapi, Bunda, lihatlah – apa yang berkelip-kelip

                                                            di sana di dalam semak,

      Lihatlah bagaimana ia melompat-lompat dan menari-nari,

                                                            apakah itu bunga api?” –

     

      – “Itu adalah kunang-kunang” –

                                                            – “Bolehlah ku tangkap?” –

     

      “Boleh, tapi serangga itu begitu halus

      Kau pasti menyakitinya dan begitu

      Kau sentuh ia agak kasar dengan jarimu,

      Ia sakit dan mati dan tiada bercahaya lagi.”

     

      – “Itu sungguh menyedihkan – tidak, aku takkan

                                                                        menangkapnya, –

      Lihat dia menghilang – tidak, dia datang kemari, –

      Tapi aku takkan menangkapnya – dia terbang lagi,

      Gembira karena aku tak menangkapnya, –

      Itu dia terbang – tinggi – nun di atas – apa itu?

      Apakah itu pun kunang-kunang, nun di sana?” –

     

                                                                        – “Itu adalah

      Bintang-bintang.” –

                        – “Satu dan dua dan sepuluh dan seribu!

      Berapakah semuanya?” –

     

                                                                        – “Entahlah;

      Belum ada orang menghitung berapa jumlah bintang semua!” –

     

      – “Tapi coba katakan Bunda,

      Dia pun pernahkah tidak menghitung?” –

 

      – “Tidak sayang. Dia pun tidak.” –

     

                                                                        – “Jauhkah itu

      Nun di atas di mana ada bintang-bintang?” –

                                                                        – “Amat jauh” –

     

      – Tapi apakah mereka berperasaan juga, bintang-bintang itu?

      Dan bila kupegang dengan tangan,

      Segera sakit dan kehilangan cahaya

      Seperti kunang-kunang tadi? – Lihatlah, masih ia melayang –

      Katakanlah, apakah bintang juga merasa sakit?”

     

                                                                                    – “Tidak,

      Bintang tidakkan sakit kau pegang – tapi ia terlalu jauh

      Terlalu tinggi, tak dapat dicapai tanganmu kecil.” –

     

      – “Dapatkah Dia menangkap bintang dengan tangannya?” –

 

      – “Dia pun tidak, tak ada orang yang dapat menangkap.

                                                                                    – “Sayang,

      Aku ingin memberimu satu – tapi tunggu aku besar

      Nanti ku cintai kau, begitu besar cintaku sampai ku bisa.”

     

      Si anakpun tidur dan mimpikan “perasaan”

      Mimpikan bintang-bintang yang dicapainya dengan tangan –

Si Bunda lama baru tertidur pula.

                                                            Tapi dia pun bermimpi

      teringat kepada mereka yang jauh –




=H.B. YASSIN=

Cassel, Januari 1859

* Pukul empat – kembang yang membuka kelopaknya jam empat

* Saudin – penjaga anak

(Puisi ini juga tanpa judul, dihadirkan dalam bahasa aslinya di hlm. 230-233 dan terjemahan bahasa Indonesianya ada di bagian lampiran IV, hlm. 353-357)

 

LIHATLAH BAJING karya : H.B. Yassin

Lihatlah Bajing

 

Lihatlah betapa bajing mencari makan

Di pohon kelapa, ia naik ia turun, ia mengeracak kiri

dan kanan

Ia berlari (mengitari pohon), melompat, jauh,

memanjat dan jatuh lagi

Sayap ia tak punya namun ia cergas seperti burung

      Selamatlah bajingku, selamatlah

Pasti kau menemukan makan yang kau cari, …

Tapi aku seorang diri duduk di hutan jati

Menunggu makanan bagi hatiku.

      Sudah lama bajingku kenyang

Sudah lama ia kembali ke sarang

Tapi masih juga jiwaku

Dan hatiku sangat berdukacita … Adinda!

 

Lihatlah nun rama-rama keliling mengepak sayap

Sayapnya berkilau laksana kembang aneka warna

Hatinya cinta berahikan bunga kenari

Pastilah ia mencari, mencari kekasih yang harum wangi.

Selamatlah ramaku, selamatlah

Pastilah kau menemu apa dicari

Tapi aku duduk seorang diri di hutan jati

Menunggu kekasih idaman hati

      Sudah lama rama-rama mengecup

Kembang kenari yang sangat ia cintai

Tapi masih jiwaku

Dan hatiku alangkah berdukacita … Adinda!

 

Lihatlah betapa matahari bersinar nun di atas

Jauh di atas bukit Waringi

Terlalu panas ia merasa dan ingin turun ke bumi

Tidur di dasar laut seperti rangkulan seorang suami.

      Selamatlah o matahari, selamatlah

Pasti kau menemu apa dicari

Tapi aku seorang diri di hutan jati

Menunggu hatiku menjadi tenang

      Sudah lama nanti matahari turun

Dan tidur di dalam laut, jika segala telah kelam

Tapi masih jiwaku

Dan hatiku alangkah berdukacita … Adinda

 

Jika tiada lagi rama-rama terbang keliling mengepak sayap

Jika bintang tiada lagi berkilauan

Jika melati tiada lagi harum baunya

Jika tiada lagi hati berduka

Tiada lagi binatang liar di dalam hutan

Jika matahari kesasar jalan

Dan bulan lupa mana Timur mana Barat

Jika waktu itu belum juga datang Adinda

Maka turunlah malaikat dengan sayap kemilau

Ke atas bumi mencari apa yang tinggal

Maka mayatku terkapar di sini di bawah ketapang

Jiwaku alangkah berdukacita,… Adinda!

 

Maka malaikat melihat mayatku

Diberitahunya saudara-saudaranya, ditunjuknya

mayatku dengan jarinya

“Lihatlah, nun di sana ada seorang manusia mati terlupa

Mulutnya kejang mencium kembang melati

Marilah, kita angkat dia kita bawa ke surga

Orang yang menunggu Adinda sampai mati

Sungguh, ia tak boleh tinggal sendiri

Orang yang hatinya keras mencinta”

      Maka sekali lagi mulutku kejang akan membuka

Untuk memanggil Adinda yang kucinta

Sekali lagi kukecup melati

Yang dia berikan … Adinda … Adinda!




=H.B. YASSIN=

(Sajak ini muncul di hlm. 291-294. Sajak “Lihatlah Bajing” dalam bahasa Melayu, yang ditulis oleh Multatuli sendiri, kemudian ditemukan kembali oleh E. Du Perron dan dimuat ke dalam bukunya sendiri. Sajak berbahasa Melayu ini dimunculkan di Lampiran V, hlm. 358-359: begini sajaknya……)

 

AKU TAK TAHU DIMANA AKU AKAN MATI karya : H.B. Yassin

 

            Aku tak tahu di mana aku kan mati

Aku melihat samudera luas di pantai selatan ketika datang ke sana

                                    dengan ayahku, untuk membuat garam;

Bila ku mati di tengah lautan, dan tubuhku di lempar ke air dalam,

                                                            ikan hiu berebutan datang;

Berenang mengelilingi mayatku, dan bertanya: “siapa antara kita

                        akan melulur tubuh yang turun nun di dalam air?”

            Aku tak akan mendengarnya.

 

            Aku tak tahu di mana aku kan mati.

Kulihat terbakar rumah Pak Ansu, dibakarnya sendiri karena

                                                                        ia mata gelap;

Bila ku mati dalam rumah sedang terbakar, kepingan-kepingan

                                    kayu berpijar jatuh menimpa mayatku;

Dan di luar rumah orang-orang berteriak melemparkan

                                                            air pemadam api, –

            Aku takkan mendengarnya.

 

            Aku tak tahu di mana aku kan mati.

Kulihat Si Unah kecil jatuh dari pohon kelapa, waktu memetik

                                                            kelapa untuk ibunya;

Bila aku jatuh dari pohon kelapa, mayatku terkapar di kakinya,

                                                di dalam semak, seperti Si Unah;

Maka ibuku tidak kan menangis, sebab ia sudah tiada. Tapi

                        orang lain akan berseru: “Lihat Saijah di sana!”

                                                            dengan suara keras; –

            Aku takkan mendengarnya.

 

            Aku tak tahu di mana aku kan mati.

Kulihat mayat Pak Lisu, yang mati karena tuanya, sebab

                                                            rambutnya sudah putih;

Bila aku mati karena tua, berambut putih, perempuan meratap

                                                                        sekeliling mayatku;

Dan mereka akan menangis keras-keras, seperti perempuan-

      perempuan menangisi mayat Pak Lisu; dan juga cucu-cucunya

                                                            akan menangis, keras sekali; –

            Aku takkan mendengarnya

 

            Aku tak tahu di mana aku kan mati.

Banyak orang mati kulihat di Badur. Mereka dikafani, dan

                                                            ditanam di dalam tanah;

Bila aku mati di Badur, dan aku ditanam di luar desa, arah

            ke timur di kaki bukit dengan rumputnya yang tinggi;

Maka Adinda akan lewat di sana, tepi sarungnya perlahan

                                                mengingsut mendesir rumput,…

            Aku akan mendengarnya.




=H.B. YASSIN=

(Sajak ini ada di hlm. 283-284, tak memiliki judul. Juga hadir di sampul belakang buku, tentu dengan pemenggalan kalimat yang berbeda. Di roman ini, sajak dibuat oleh Saijah).

 

 

YANG UTAMA IALAH HIDUP, SEKALIPUN HIDUP MELARAT karya : H.B. Yassin

 

Dua puluh gulden, alangkah banyak!

Selamat tinggal sastra,

Selamat tinggal Kopiist!

Nasibku malang, aku mati kelaparan,

Hatiku sedih, kesal dan geram,…

Dua puluh gulden dua bulan makan

Kalau aku punya sekian… ku pakai sepatu bagus

Ku makan makanan enak, lebih indah tempatku tinggal

Aku kan hidup senang…

Yang utama ialah hidup, sekalipun hidup melarat

Kejahatan memalukan, bukan kemiskinan




=H.B. YASSIN=

*) De Kopiist : nama majalah yang terbit di Betawi tahun 1842.

(Merupakan “sajak” yang memprotes kemiskinannya sendiri - Max Havelaar -, yang ditulis di belakang kwitansi. Kwitansi seharga 20 gulden itu merupakan harga berlangganan majalah “De Kopiist” – yang  dilindungi pemerintah, di mana wang langganannya dibayarkan kepada kas negeri. Sajak berbahasa Belandanya hadir di halaman 185, terjemahannya ada di lampiran III, hlm. 352. Juga tanpa ada judul. )

 

LEGENDA TENTANG DOSA PERTAMA YANG MENENGGELAMKAN PULAU YANG DAHULU MELINDUNGI PELABUHAN NATAL karya : H.B. Yassin

 

Anda bertanya mengapa gerangan

Samudera di pelabuhan Natal,

Di mana-mana patuh dan ramah,

Namun ganas bergelora di pelabuhan Natal,

Senantiasa menggelegak dan bergolak?

 

Anda bertanya, dan si anak nelayan

Yang papa mendengar pertanyaan anda,

Berkedip matanya hitam,

Ia menunjuk arah ke Barat nun jauh di sana

Di bawah langit melengkung luas.

 

Dialihkannya pandang dari mata yang legam,

Dan ia memandang arah ke Barat,

Ke manapun anda memandang,

Hanya air, air semata,

Dan laut, laut di mana-mana.

 

Itulah sebabnya Samudera di sini

Menggeser keras pasir di pantai;

Sekitar anda laut semata,

Dan air, air, tiada lain,

Sampai-sampai ke pantai Madagaskar.

 

Dan banyak korban disampaikan

Sebagai pampasan kepada Samudera

Dan banyak jeritan terbenam di air,

Tiada yang mendengar, isteri, anak maupun keluarga

Yang tahu hanyalah Tuhan.

 

Tangan menggapai penghabisan kali,

Menggapai-gapai di atas air,

Meraba-raba, mencekau, mencepuk-cepuk

      berputar-putar,…

Mencari-cari tempat bertumpu,…

Lalu tenggelam selama-lamanya

Selanjutnya aku tak tahu lagi…




=H.B. YASSIN=

(Aslinya puisi ini tanpa judul, hadir di hlm. 165-166. Merupakan sajak yang dibuat oleh Max Havelaar saat memeriksa kebun-kebun lada yang terletak di Teluk-Balai, di sebelah utara Natal. Karena terletak di pantai, maka Max berperahu dengan seorang Datuk dan anak gadisnya, 13 tahun, yang sibuk menguntai manik. Adapun judulnya, merupakan kalimat yang saya temukan di bawah sajak)

 

CINTAKU, BUAT HATIKU karya : H.B. Yassin

 

Di atas sayap laguku, ku bawakan terbang cintaku,

Cintaku, buat hatiku

 

Ke sana, ke padang datar sungai Gangga

Di sana ku tahu tempat yang indah;

 

Di sana ada taman bersemarak kembang merah

Bermandi cahaya rembulan

Seroja rindukan adiknya sayang

Kembang violeta pacaran terkekeh-kekeh

Memandang ke atas ke bintang-bintang

Bunga mawar saling membisik

Dongeng-dongeng yang harum wangi

 

Rusa-rusa yang saleh, rusa-rusa yang cerdik,

Melompat-lompat mendekat memasang telinga

Dan nun di sana menderau air sungai yang suci

Di sana kita menyelam di bawah naungan palma

Menghirup ketenangan serta asmara

Mimpikan impian yang serba bahagia.

 



=H.B. YASSIN=

(Aslinya puisi ini tanpa judul, terjemahannya dihadirkan dalam lampiran II, hlm. 351. Merupakan sajak yang dideklamasikan oleh Stern kepada seorang gadis yang merajut di dalam suite. Dari keterangan di buku (hlm. 147), sajak ini ditulis oleh Kitsch Heine dan diulas oleh Batavus Droogstoppel bait per bait hanya untuk membuktikan bahwa sajak-sajak selalu berisi kebohongan-kebohongan dan penyair hanya sekumpulan penipu. Sajak ini dihadirkan dalam bahasa Belanda di hlm. 148-149)

KEMBALIKAN DULU IBUKU PADAKU karya : H.B. Yassin

 

      Ibu, jauh memang tempat ku lahir,

Negeri tempat kulihat cahaya mentari,

Airmataku berlinang pertama kali,

      Kau besarkan aku dalam bimbingan;

      Jiwa sang anak kau isi dan kau pimpin

Penuh kasih sayang seorang ibu

Setia kau mendampingiku

      Kau angkat jika ku jatuh; –

Nasib kejam memutus hubungan kita

      Tapi hanya lahirnya saja…

Sendiri aku berdiri di pantai asing

      Seorang diri,… dan Tuhan…

 

Namun, ibu, apapun menggelisahkan hati,

      Yang menyenangkan maupun menyedihkan

Janganlah ragu cintanya beta

      Cinta puteramu di dalam hati!

 

Belum ada empat tahun yang silam

      Aku berdiri penghabisan kali nun di sana

      Tanpa kata di tepi pantai

Menatap jauh ke masa depan;

      Kubayangkan segala yang indah

Yang menunggu di masa depan,

Kelecehkan masa kini dengan berani

      Kuciptakan surga firdausi;

      Hatiku tak gentar menempuh jalan

      Melanda segala hambatan,

Yang melintang di depan mata,

Ku rasa dunia bahagia semata…

 

 

      Tapi masa itu, sejak pertemuan penghabisan kali

Betapa cepat hilang menjauh,

      Seperti kilat tidak terperi.

Seperti bayangan melintas lalu…

      Namun alangkah dalam, alangkah dalam

      Bekasnya yang tinggal!

      Aku merasa girang dan sedih sekali datang,

Aku berpikir, dan aku berjuang,

Aku bersorak, dan aku mendoa…

      Ku rasa berabad-abad menghilang lalu!

      Aku mengejar kebahagiaan hidup,

Aku menemukan dan aku kehilangan,

Masa kanak kujalani cepat

      Bertahun-tahun rasa sesaat…

 

Namun percayalah bundaku sayang

      Demi langit yang melihat kita

Percayalah ibu percayalah…

      Puteramu tidak melupakanmu!

 

Aku cintakan seorang gadis. Seluruh

      Hidup ku rasa indah karena cintaku;

      Ku lihat dirinya laksana mahkota

Ganjaran akhir cita-citaku

Yang diberikan Tuhan sebagai tujuan; –

      Bahagia menerima karunia

Yang ditentukannya untuk diriku

      Yang dikaruniakannya kepadaku

Akupun bersyukur dengan airmata berlinang…

      Cinta dan agama adalah satu.

Dan jiwaku bahagia membubung tinggi

Mengucap syukur kepada Yang Mahatinggi

      Mengucap syukur dan mendoa untuknya sendiri…

 

Susah hatiku karena cintaku,

      Hatiku resah gelisah,

      Tiada tertahan rasanya dukacitaku

Mengiris melukai hatiku lemah;

      Hanya takut dan derita yang ku dapat

Bukannya nikmat yang ku harap,

Selamat bahagia yang ku cari,

      Racun dan petaka datang mendekat…

 

Aku senang dalam derita tanpa kata!

      Aku tabah penuh pengharapan; –

Untung malang menambah gairahku,…

      Untuknya biar ku pikul beban derita!

Tiada ku hirau pukulan malapetaka,

      Sukacita aku dalam dukacitaku,

Aku rela, aku rela memikul segala…

      Asalkan nasib jangan merenggutnya dari padaku!

 

Gambaran wajahnya, yang terindah bagiku di atas bumi,

      Ku bawa di dalam hati,

      Laksana barang tiada bernilai,

Ku simpan setia dalam hatiku!

Tiba-tiba asing ia bagiku!

      Walau cintaku bertahan

Sampai tarikan nafas penghabisan

      Akhirnya mengembalikannya padaku

Di tanah air nan lebih indah,…

Aku mulai mencintainya!

 

      Apakah cinta yang baru mulai,

Dibanding cinta bersama hidup

Dimasukkan Tuhan dalam hati si anak,

      Sebelum pandai ia bicara?...

      Tatkala ia di dada ibunya,

Baru saja meninggalkan kandungan,

      Menemukan susu pertama pemuas dahaga,

Cahaya pertama di mata Bunda?...

 

      Tidak, tiada ikatan yang lebih erat

Lebih kuat memadu hati.

Dari ikatan Tuhan ciptakan

      Antara si anak dan hati ibunda!

 

Dan hati yang begitu terpaut

      Pada keindahan sesaat berkilau;

      Yang memberiku duri semata,

Dia tiada menjalin satupun kembang,…

      Apakah hati itu, hati itu juga

Lupakan kesetiaan hati ibunda; –

      Dan cinta wanita

Yang menerima dalam hatinya gundah

      Teriakanku pertama sebagai bayi, –

Yang membujuk daku jika menangis,

Mencium kering airmata dari pipiku,…

      Yang memberi ku makan dengan darahnya?...

 

Bunda janganlah percaya,

      Demi Tuhan yang melihat kita.

Bunda janganlah percaya,

      Tidak, anakmu tiadalah lupa!

 

Di sini aku jauh dari kehidupan

Yang di sana penuh kemanisan dan keindahan;

      Kenikmatan masa pertama

Sering dipuji dan disanjung tinggi,

Di sini bukan bagianku

      Di tempatku yang sepi dan suram, –

Curam dan penuh duri jalanku,

      Untung malang menekan jiwaku,

Beban ku pikul memberat pundakku

      Dan menghimpit hatiku; –

 

Biarlah airmataku menjadi saksi

      Bila kepalaku terkulai pilu

      Di saat-saat tanpa harapan

Di tengah alam yang luas;…

      Sering bila harapan tiada lagi,

Hampir-hampir lepaslah keluhan:

“Tuhan, berilah daku di alam barzah,

      “Apa yang di dunia tidak kau berikan! –

“Tuhan, berilah daku di dunia sana,

      “Bila maut menyentuh bibirku, –

“Tuhan, berilah daku di dunia sana

      “Apa yang di sini tidak ku kecap …

                                                ketenangan!”

 

Tapi, terbenam dalam bibirku,

      Doaku tak sampai kepada Tuhan,…

      Memang aku berlutut, –

Memang keluhan lepas dari bibirku, –

      Tapi ucapanku: “Jangan dulu, ya Tuhan

      “Kembalikan dulu ibuku padaku!”




=H,B, YASSIN=

(Aslinya puisi ini tanpa judul, ada di Bab III, hlm. 23-27, merupakan sajak yang dideklamasikan Frits di rumah keluarga Rosemeijer- pedagang gula, yang diambil dari bungkusan milik Sjaalman yang dititipkan kepada Batavus Droogstoppel. Inti dari sajak ini adalah tentang seorang muda yang menulis kepada ibunya bahwa ia jatuh cinta dan bahwa gadisnya kawin dengan orang lain)