Selasa, 29 September 2015
CIPTAKAN DUNIA BAHAGIA karya : Hans Bague Yassin
KESASAR DI DALAM PIKIRAN karya : Hans Bague Yassin
=HANS BAGUE YASSIN=
Jumat, 14 Agustus 2015
MIMPI karya : H. B. Yassin
Aku bermimpi puteri Cina
Mau mengajaknya jalan-jalan
Tapi ibunya menjaganya, menjaganya dengan ketat
#
Dia rindu kepada Lian,
Dia terpekik menyambut aku
Tidak mengira aku cinta padanya
Aku bekerja, bekerja, bekerja
Habibie senang tersenyum
Senang tersenyum melihat aku bekerja
#
Buku-buku dicetak,
Buku-buku baru dan cetak ulang
Buku-bukuku dicetak
Banyak, banyak sekali
#
Aku salat, salat Tahajud,
Subuh, Lohor, Asar, Maghrib dan Isa,
Aku salat sanah tiap salat wajib
Dan mengirim doa kepada kedua orang tuaku,
Kepada Hamka dan kawan-kawanku
Subagio Sastrowardojo dan lain-lain
#
Hidupku hidup nyata dan impian
Tak dapat kubedakan mana yang nyata mana impian
keduanya sama dalam hidupku
#
Aku berdoa: Ya Allah,
Bukakanlah hati semua orang
Bukakan hatinya menerima Al-Quran Berwajah Puisi
Dan menyebarkannya keseluruh penjuru
#
Tak dapat aku bedaskan pengalaman nyata,
impian dan harapan
Aku membaca, bacaanku pun menjadi nyata
Aku terbang ke istana Harun Alrasyid,
Melihat Hikayat Seribu satu Malam
#
Pagi-pagi ku baca koran,
Berita-berita terlukis di mata
Waktu tidur berita menjadi nyata
Bercampur baur peristiwa dan impian
Apa yang masuk dan keluar benakku
Keduanya mempunyai nilai yang sama
Benakku sungguh luar biasa
Apa yang keluar dari benak Taufik Ismail, Hamid Jabbar,
dan Sutardji Calzoum Bachri, menjadi bagian dari benakku
Alangkah besar alangkah Agung Tuhanku!
Jakarta '96
=H, B, YASSIN=
Selasa, 11 Agustus 2015
DOA karya : H. B. Yassin
Di atas runtuhan lahir dan batin
Oleh gempa peperangan dunia
Dalam sedih dan duka dunia berjuang
Terlahir Negara Indonesia Merdeka
Semoga bangsa mulia sempurna
Senantiasa ingat kepada Tuhan
Penjelmaan lahir segala yang indah
Di dalam laku dan perbuatan
Ya, Allah, berilah ilham yang suci abadi
Dalam pekerjaan bangsa kami
Turut membentuk perdamaian dunia
Manusia utama lahir dan batin
1945
=H. B. YASSIN=
SELINTAS KESAN karya : H. B. Yassin
Genderang berderam-deram,
Sepatu berderap-derap,
Terompet meteret-tet-tet,
Sorak manusia riuh gempita.
Lihat mereka tegap dan gagah,
Arab, India, Tionghoa, dan Indonesia.
Berbaris rapat teguh bersatu,
Satu tujuan: Asia Raya!
Menderu melintas mesin udara,
Tamsil pelindung yang Maha Kuasa,
Atas rakyat berjuta-juta.
Seluruh Asia bangun berbangkit,
Melepaskan belenggu perbudakan Barat,
Menuju Sinaran Matahari Terbit.
=H. B. YASSIN=
(Dimuat dalam Panji Pustaka No. 20 Th. VI, 16 Maret 1942)
MIMPI DAN HIDUP karya : H. B. Yassin
Pernah saudara bermimpi
Mendapat uang perak dan emas,
Lekas digenggam kuat dan keras,
Takut ‘kan hilang orang rampas,
Kemudian terinsyaf bangun,
Tiada sesen di dalam kantung?
Nampak saudara orang
Mengumpul harta dunia,
Memeras tenaga cepat lekas,
Inginkan harta limpah-limpahan,
Kemudian...
Diusung ke kubur
Di dalam kafan?
Saudara. Coba bandingkan:
Mimpi dan Hidup mana yang benar,
Dalam kedua tiada bawaan.
1942
=H. B. YASSIN=
Sabtu, 01 Agustus 2015
PERBARUAN TEKAD karya : H.B. Yassin
Di tempatku terpencil jauh terasing
Kudengar suaramu penyanyi radio
Engkau menghibur hati dan jiwa
Orang yang sakit badan merana
Di tempatku terpencil jauh terasing
Kubaca madahmu, wahai pengarang
Kau alirkan rasa, kau atur pikiran
Terkuak kegelapan, menyinar benderang.
Kulihat pula sekeliling orang berjasa
Dokter dan suster, mantri dan kacung
Bekerja bersama dalam susunan
Melawan penyakit menumpas derita.
Demikian adanya hidup di dunia
Saling membantu bahagia membahagiakan
Ya, Tuhan, kembalilah tenaga, kuatlah sayapku,
Aku ingin turut berbakti.
1945
=H.B. YASSIN=
Rabu, 15 Juli 2015
ANAKKU, JAM SEMBILAN SEKARANG karya : H.B. Yassin
a) “Anakku, jam sembilan sekarang, dengarlah!
Angin malam mendesir dan udara jadi sejuk
Terlalu dingin mungkin bagimu, jidatmu hangat
Kau main begitu lasak sehari-harian
Kau tentulah letih, mari, tikarmu menunggu –”
“Ah, Bunda, biarkan daku sebentar lagi
Enak tiduran di sini – dan di sana,
Di dalam sana di atas tikarku, aku segera tertidur,
Dan tidakpun tahu apa mimpiku, – tapi di sini,
Di sini segera ku dapat cerita apa mimpiku,
Dan tanyakan apa artinya – dengarlah,
Apakah itu?”
– “Itu kepala yang jatuh ke tanah.” –
– “Sakitkah rasanya ia jatuh?”
– Ku kira tidak,
Orang bilang buah dan batu tak punya perasaan.” –
– “Tapi kembang, tak merasakan juga?” –
– “Tidak,
Orang bilang tak ada perasaannya.”
– Kalau begitu,
Mengapa Bunda, waktu kemarin ku bawa pukul ampat
Bunda berkata aku sakiti dia?” –
– “Anakku, si pukul ampat amat cantiknya,
Kau tarik daunnya halus sehingga koyak
Sedih aku melihat kembang itu.
Sekalipun ia sendiri tidak merasa,
Aku merasakan untuknya, karena ia begitu cantiknya.” –
– “Tapi Bundaku sayang, kau pun cantikkah juga?”
– “Tidak, anakku,
Ku kira tidak.” –
– “Tapi Bunda punya perasaan?” –
b) – “Ya, orang punya perasaan, tapi tidak semuanya sama” –
– “Dan dapatkah sesuatu menyakitimu?
Sakitkah itu kau rasa
Jika kepalaku berat terhantar di pangkuanmu?” –
– “Tidak, itu tidak sakit ku rasa!” –
– “Dan Bunda,
Apakah aku punya perasaan?” –
– “Tentu, ingatkah kau
Waktu jatuh kesandung batu, tanganmu luka dan kau menangis,
Kau pun menangis waktu Saudin menceritakan padamu
Anak domba di bukit sana
Jatuh ke dalam jurang lalu mati;
Lama kau menangis, – itulah perasaan!” –
– “Tapi Bunda, kalau begitu, perasaan
samakah dengan kesedihan?” –
– “Ya, seringkali demikian,
Tapi tidak selalu, – kadang-kadang tidak! Kau tahu
Kalau adikmu kecil mencekau rambutmu,
Dan memekik riang menarik mukamu ke mukanya
Kaupun tertawa girang, itu pun perasaan.” –
– “Dan adikku kecil – dia menangis begitu sering
Karena sakitkah? – Apakah dia berperasaan juga?” –
– “Mungkin, anakku, tapi kita tidak tahu,
Karena dia masih kecil dan tak dapat mengatakannya.” –
– “Tapi Bunda … dengarlah, apakah itu?” –
– “Seekor rusa
Yang kemalaman dalam hutan dan kini
Berlari pulang melepas lelah
Bersama rusa yang lain, rusa-russa kesayangannya.” –
– “Bunda,
c) Rusa itu, adakah adiknya kecil seperti aku
Dan adakah Bundanya juga?” –
– “Entahlah, anakku.” –
– “Kalau tidak, alangkah sayang!
Tapi, Bunda, lihatlah – apa yang berkelip-kelip
di sana di dalam semak,
Lihatlah bagaimana ia melompat-lompat dan menari-nari,
apakah itu bunga api?” –
– “Itu adalah kunang-kunang” –
– “Bolehlah ku tangkap?” –
“Boleh, tapi serangga itu begitu halus
Kau pasti menyakitinya dan begitu
Kau sentuh ia agak kasar dengan jarimu,
Ia sakit dan mati dan tiada bercahaya lagi.”
– “Itu sungguh menyedihkan – tidak, aku takkan
menangkapnya, –
Lihat dia menghilang – tidak, dia datang kemari, –
Tapi aku takkan menangkapnya – dia terbang lagi,
Gembira karena aku tak menangkapnya, –
Itu dia terbang – tinggi – nun di atas – apa itu?
Apakah itu pun kunang-kunang, nun di sana?” –
– “Itu adalah
Bintang-bintang.” –
– “Satu dan dua dan sepuluh dan seribu!
Berapakah semuanya?” –
– “Entahlah;
Belum ada orang menghitung berapa jumlah bintang semua!” –
– “Tapi coba katakan Bunda,
Dia pun pernahkah tidak menghitung?” –
– “Tidak sayang. Dia pun tidak.” –
– “Jauhkah itu
Nun di atas di mana ada bintang-bintang?” –
– “Amat jauh” –
– Tapi apakah mereka berperasaan juga, bintang-bintang itu?
Dan bila kupegang dengan tangan,
Segera sakit dan kehilangan cahaya
Seperti kunang-kunang tadi? – Lihatlah, masih ia melayang –
Katakanlah, apakah bintang juga merasa sakit?”
– “Tidak,
Bintang tidakkan sakit kau pegang – tapi ia terlalu jauh
Terlalu tinggi, tak dapat dicapai tanganmu kecil.” –
– “Dapatkah Dia menangkap bintang dengan tangannya?” –
– “Dia pun tidak, tak ada orang yang dapat menangkap.
– “Sayang,
Aku ingin memberimu satu – tapi tunggu aku besar
Nanti ku cintai kau, begitu besar cintaku sampai ku bisa.”
Si anakpun tidur dan mimpikan “perasaan”
Mimpikan bintang-bintang yang dicapainya dengan tangan –
Si Bunda lama baru tertidur pula.
Tapi dia pun bermimpi
teringat kepada mereka yang jauh –
=H.B. YASSIN=
Cassel, Januari 1859
* Pukul empat – kembang yang membuka kelopaknya jam empat
* Saudin – penjaga anak
(Puisi ini juga tanpa judul, dihadirkan dalam bahasa aslinya di hlm. 230-233 dan terjemahan bahasa Indonesianya ada di bagian lampiran IV, hlm. 353-357)
LIHATLAH BAJING karya : H.B. Yassin
Lihatlah Bajing
Lihatlah betapa bajing mencari makan
Di pohon kelapa, ia naik ia turun, ia mengeracak kiri
dan kanan
Ia berlari (mengitari pohon), melompat, jauh,
memanjat dan jatuh lagi
Sayap ia tak punya namun ia cergas seperti burung
Selamatlah bajingku, selamatlah
Pasti kau menemukan makan yang kau cari, …
Tapi aku seorang diri duduk di hutan jati
Menunggu makanan bagi hatiku.
Sudah lama bajingku kenyang
Sudah lama ia kembali ke sarang
Tapi masih juga jiwaku
Dan hatiku sangat berdukacita … Adinda!
Lihatlah nun rama-rama keliling mengepak sayap
Sayapnya berkilau laksana kembang aneka warna
Hatinya cinta berahikan bunga kenari
Pastilah ia mencari, mencari kekasih yang harum wangi.
Selamatlah ramaku, selamatlah
Pastilah kau menemu apa dicari
Tapi aku duduk seorang diri di hutan jati
Menunggu kekasih idaman hati
Sudah lama rama-rama mengecup
Kembang kenari yang sangat ia cintai
Tapi masih jiwaku
Dan hatiku alangkah berdukacita … Adinda!
Lihatlah betapa matahari bersinar nun di atas
Jauh di atas bukit Waringi
Terlalu panas ia merasa dan ingin turun ke bumi
Tidur di dasar laut seperti rangkulan seorang suami.
Selamatlah o matahari, selamatlah
Pasti kau menemu apa dicari
Tapi aku seorang diri di hutan jati
Menunggu hatiku menjadi tenang
Sudah lama nanti matahari turun
Dan tidur di dalam laut, jika segala telah kelam
Tapi masih jiwaku
Dan hatiku alangkah berdukacita … Adinda
Jika tiada lagi rama-rama terbang keliling mengepak sayap
Jika bintang tiada lagi berkilauan
Jika melati tiada lagi harum baunya
Jika tiada lagi hati berduka
Tiada lagi binatang liar di dalam hutan
Jika matahari kesasar jalan
Dan bulan lupa mana Timur mana Barat
Jika waktu itu belum juga datang Adinda
Maka turunlah malaikat dengan sayap kemilau
Ke atas bumi mencari apa yang tinggal
Maka mayatku terkapar di sini di bawah ketapang
Jiwaku alangkah berdukacita,… Adinda!
Maka malaikat melihat mayatku
Diberitahunya saudara-saudaranya, ditunjuknya
mayatku dengan jarinya
“Lihatlah, nun di sana ada seorang manusia mati terlupa
Mulutnya kejang mencium kembang melati
Marilah, kita angkat dia kita bawa ke surga
Orang yang menunggu Adinda sampai mati
Sungguh, ia tak boleh tinggal sendiri
Orang yang hatinya keras mencinta”
Maka sekali lagi mulutku kejang akan membuka
Untuk memanggil Adinda yang kucinta
Sekali lagi kukecup melati
Yang dia berikan … Adinda … Adinda!
=H.B. YASSIN=
(Sajak ini muncul di hlm. 291-294. Sajak “Lihatlah Bajing” dalam bahasa Melayu, yang ditulis oleh Multatuli sendiri, kemudian ditemukan kembali oleh E. Du Perron dan dimuat ke dalam bukunya sendiri. Sajak berbahasa Melayu ini dimunculkan di Lampiran V, hlm. 358-359: begini sajaknya……)
AKU TAK TAHU DIMANA AKU AKAN MATI karya : H.B. Yassin
Aku tak tahu di mana aku kan mati
Aku melihat samudera luas di pantai selatan ketika datang ke sana
dengan ayahku, untuk membuat garam;
Bila ku mati di tengah lautan, dan tubuhku di lempar ke air dalam,
ikan hiu berebutan datang;
Berenang mengelilingi mayatku, dan bertanya: “siapa antara kita
akan melulur tubuh yang turun nun di dalam air?”
Aku tak akan mendengarnya.
Aku tak tahu di mana aku kan mati.
Kulihat terbakar rumah Pak Ansu, dibakarnya sendiri karena
ia mata gelap;
Bila ku mati dalam rumah sedang terbakar, kepingan-kepingan
kayu berpijar jatuh menimpa mayatku;
Dan di luar rumah orang-orang berteriak melemparkan
air pemadam api, –
Aku takkan mendengarnya.
Aku tak tahu di mana aku kan mati.
Kulihat Si Unah kecil jatuh dari pohon kelapa, waktu memetik
kelapa untuk ibunya;
Bila aku jatuh dari pohon kelapa, mayatku terkapar di kakinya,
di dalam semak, seperti Si Unah;
Maka ibuku tidak kan menangis, sebab ia sudah tiada. Tapi
orang lain akan berseru: “Lihat Saijah di sana!”
dengan suara keras; –
Aku takkan mendengarnya.
Aku tak tahu di mana aku kan mati.
Kulihat mayat Pak Lisu, yang mati karena tuanya, sebab
rambutnya sudah putih;
Bila aku mati karena tua, berambut putih, perempuan meratap
sekeliling mayatku;
Dan mereka akan menangis keras-keras, seperti perempuan-
perempuan menangisi mayat Pak Lisu; dan juga cucu-cucunya
akan menangis, keras sekali; –
Aku takkan mendengarnya
Aku tak tahu di mana aku kan mati.
Banyak orang mati kulihat di Badur. Mereka dikafani, dan
ditanam di dalam tanah;
Bila aku mati di Badur, dan aku ditanam di luar desa, arah
ke timur di kaki bukit dengan rumputnya yang tinggi;
Maka Adinda akan lewat di sana, tepi sarungnya perlahan
mengingsut mendesir rumput,…
Aku akan mendengarnya.
=H.B. YASSIN=
(Sajak ini ada di hlm. 283-284, tak memiliki judul. Juga hadir di sampul belakang buku, tentu dengan pemenggalan kalimat yang berbeda. Di roman ini, sajak dibuat oleh Saijah).
YANG UTAMA IALAH HIDUP, SEKALIPUN HIDUP MELARAT karya : H.B. Yassin
Dua puluh gulden, alangkah banyak!
Selamat tinggal sastra,
Selamat tinggal Kopiist!
Nasibku malang, aku mati kelaparan,
Hatiku sedih, kesal dan geram,…
Dua puluh gulden dua bulan makan
Kalau aku punya sekian… ku pakai sepatu bagus
Ku makan makanan enak, lebih indah tempatku tinggal
Aku kan hidup senang…
Yang utama ialah hidup, sekalipun hidup melarat
Kejahatan memalukan, bukan kemiskinan
=H.B. YASSIN=
*) De Kopiist : nama majalah yang terbit di Betawi tahun 1842.
(Merupakan “sajak” yang memprotes kemiskinannya sendiri - Max Havelaar -, yang ditulis di belakang kwitansi. Kwitansi seharga 20 gulden itu merupakan harga berlangganan majalah “De Kopiist” – yang dilindungi pemerintah, di mana wang langganannya dibayarkan kepada kas negeri. Sajak berbahasa Belandanya hadir di halaman 185, terjemahannya ada di lampiran III, hlm. 352. Juga tanpa ada judul. )
LEGENDA TENTANG DOSA PERTAMA YANG MENENGGELAMKAN PULAU YANG DAHULU MELINDUNGI PELABUHAN NATAL karya : H.B. Yassin
Anda bertanya mengapa gerangan
Samudera di pelabuhan Natal,
Di mana-mana patuh dan ramah,
Namun ganas bergelora di pelabuhan Natal,
Senantiasa menggelegak dan bergolak?
Anda bertanya, dan si anak nelayan
Yang papa mendengar pertanyaan anda,
Berkedip matanya hitam,
Ia menunjuk arah ke Barat nun jauh di sana
Di bawah langit melengkung luas.
Dialihkannya pandang dari mata yang legam,
Dan ia memandang arah ke Barat,
Ke manapun anda memandang,
Hanya air, air semata,
Dan laut, laut di mana-mana.
Itulah sebabnya Samudera di sini
Menggeser keras pasir di pantai;
Sekitar anda laut semata,
Dan air, air, tiada lain,
Sampai-sampai ke pantai Madagaskar.
Dan banyak korban disampaikan
Sebagai pampasan kepada Samudera
Dan banyak jeritan terbenam di air,
Tiada yang mendengar, isteri, anak maupun keluarga
Yang tahu hanyalah Tuhan.
Tangan menggapai penghabisan kali,
Menggapai-gapai di atas air,
Meraba-raba, mencekau, mencepuk-cepuk
berputar-putar,…
Mencari-cari tempat bertumpu,…
Lalu tenggelam selama-lamanya
Selanjutnya aku tak tahu lagi…
=H.B. YASSIN=
(Aslinya puisi ini tanpa judul, hadir di hlm. 165-166. Merupakan sajak yang dibuat oleh Max Havelaar saat memeriksa kebun-kebun lada yang terletak di Teluk-Balai, di sebelah utara Natal. Karena terletak di pantai, maka Max berperahu dengan seorang Datuk dan anak gadisnya, 13 tahun, yang sibuk menguntai manik. Adapun judulnya, merupakan kalimat yang saya temukan di bawah sajak)
CINTAKU, BUAT HATIKU karya : H.B. Yassin
Di atas sayap laguku, ku bawakan terbang cintaku,
Cintaku, buat hatiku
Ke sana, ke padang datar sungai Gangga
Di sana ku tahu tempat yang indah;
Di sana ada taman bersemarak kembang merah
Bermandi cahaya rembulan
Seroja rindukan adiknya sayang
Kembang violeta pacaran terkekeh-kekeh
Memandang ke atas ke bintang-bintang
Bunga mawar saling membisik
Dongeng-dongeng yang harum wangi
Rusa-rusa yang saleh, rusa-rusa yang cerdik,
Melompat-lompat mendekat memasang telinga
Dan nun di sana menderau air sungai yang suci
Di sana kita menyelam di bawah naungan palma
Menghirup ketenangan serta asmara
Mimpikan impian yang serba bahagia.
=H.B. YASSIN=
(Aslinya puisi ini tanpa judul, terjemahannya dihadirkan dalam lampiran II, hlm. 351. Merupakan sajak yang dideklamasikan oleh Stern kepada seorang gadis yang merajut di dalam suite. Dari keterangan di buku (hlm. 147), sajak ini ditulis oleh Kitsch Heine dan diulas oleh Batavus Droogstoppel bait per bait hanya untuk membuktikan bahwa sajak-sajak selalu berisi kebohongan-kebohongan dan penyair hanya sekumpulan penipu. Sajak ini dihadirkan dalam bahasa Belanda di hlm. 148-149)
KEMBALIKAN DULU IBUKU PADAKU karya : H.B. Yassin
Ibu, jauh memang tempat ku lahir,
Negeri tempat kulihat cahaya mentari,
Airmataku berlinang pertama kali,
Kau besarkan aku dalam bimbingan;
Jiwa sang anak kau isi dan kau pimpin
Penuh kasih sayang seorang ibu
Setia kau mendampingiku
Kau angkat jika ku jatuh; –
Nasib kejam memutus hubungan kita
Tapi hanya lahirnya saja…
Sendiri aku berdiri di pantai asing
Seorang diri,… dan Tuhan…
Namun, ibu, apapun menggelisahkan hati,
Yang menyenangkan maupun menyedihkan
Janganlah ragu cintanya beta
Cinta puteramu di dalam hati!
Belum ada empat tahun yang silam
Aku berdiri penghabisan kali nun di sana
Tanpa kata di tepi pantai
Menatap jauh ke masa depan;
Kubayangkan segala yang indah
Yang menunggu di masa depan,
Kelecehkan masa kini dengan berani
Kuciptakan surga firdausi;
Hatiku tak gentar menempuh jalan
Melanda segala hambatan,
Yang melintang di depan mata,
Ku rasa dunia bahagia semata…
Tapi masa itu, sejak pertemuan penghabisan kali
Betapa cepat hilang menjauh,
Seperti kilat tidak terperi.
Seperti bayangan melintas lalu…
Namun alangkah dalam, alangkah dalam
Bekasnya yang tinggal!
Aku merasa girang dan sedih sekali datang,
Aku berpikir, dan aku berjuang,
Aku bersorak, dan aku mendoa…
Ku rasa berabad-abad menghilang lalu!
Aku mengejar kebahagiaan hidup,
Aku menemukan dan aku kehilangan,
Masa kanak kujalani cepat
Bertahun-tahun rasa sesaat…
Namun percayalah bundaku sayang
Demi langit yang melihat kita
Percayalah ibu percayalah…
Puteramu tidak melupakanmu!
Aku cintakan seorang gadis. Seluruh
Hidup ku rasa indah karena cintaku;
Ku lihat dirinya laksana mahkota
Ganjaran akhir cita-citaku
Yang diberikan Tuhan sebagai tujuan; –
Bahagia menerima karunia
Yang ditentukannya untuk diriku
Yang dikaruniakannya kepadaku
Akupun bersyukur dengan airmata berlinang…
Cinta dan agama adalah satu.
Dan jiwaku bahagia membubung tinggi
Mengucap syukur kepada Yang Mahatinggi
Mengucap syukur dan mendoa untuknya sendiri…
Susah hatiku karena cintaku,
Hatiku resah gelisah,
Tiada tertahan rasanya dukacitaku
Mengiris melukai hatiku lemah;
Hanya takut dan derita yang ku dapat
Bukannya nikmat yang ku harap,
Selamat bahagia yang ku cari,
Racun dan petaka datang mendekat…
Aku senang dalam derita tanpa kata!
Aku tabah penuh pengharapan; –
Untung malang menambah gairahku,…
Untuknya biar ku pikul beban derita!
Tiada ku hirau pukulan malapetaka,
Sukacita aku dalam dukacitaku,
Aku rela, aku rela memikul segala…
Asalkan nasib jangan merenggutnya dari padaku!
Gambaran wajahnya, yang terindah bagiku di atas bumi,
Ku bawa di dalam hati,
Laksana barang tiada bernilai,
Ku simpan setia dalam hatiku!
Tiba-tiba asing ia bagiku!
Walau cintaku bertahan
Sampai tarikan nafas penghabisan
Akhirnya mengembalikannya padaku
Di tanah air nan lebih indah,…
Aku mulai mencintainya!
Apakah cinta yang baru mulai,
Dibanding cinta bersama hidup
Dimasukkan Tuhan dalam hati si anak,
Sebelum pandai ia bicara?...
Tatkala ia di dada ibunya,
Baru saja meninggalkan kandungan,
Menemukan susu pertama pemuas dahaga,
Cahaya pertama di mata Bunda?...
Tidak, tiada ikatan yang lebih erat
Lebih kuat memadu hati.
Dari ikatan Tuhan ciptakan
Antara si anak dan hati ibunda!
Dan hati yang begitu terpaut
Pada keindahan sesaat berkilau;
Yang memberiku duri semata,
Dia tiada menjalin satupun kembang,…
Apakah hati itu, hati itu juga
Lupakan kesetiaan hati ibunda; –
Dan cinta wanita
Yang menerima dalam hatinya gundah
Teriakanku pertama sebagai bayi, –
Yang membujuk daku jika menangis,
Mencium kering airmata dari pipiku,…
Yang memberi ku makan dengan darahnya?...
Bunda janganlah percaya,
Demi Tuhan yang melihat kita.
Bunda janganlah percaya,
Tidak, anakmu tiadalah lupa!
Di sini aku jauh dari kehidupan
Yang di sana penuh kemanisan dan keindahan;
Kenikmatan masa pertama
Sering dipuji dan disanjung tinggi,
Di sini bukan bagianku
Di tempatku yang sepi dan suram, –
Curam dan penuh duri jalanku,
Untung malang menekan jiwaku,
Beban ku pikul memberat pundakku
Dan menghimpit hatiku; –
Biarlah airmataku menjadi saksi
Bila kepalaku terkulai pilu
Di saat-saat tanpa harapan
Di tengah alam yang luas;…
Sering bila harapan tiada lagi,
Hampir-hampir lepaslah keluhan:
“Tuhan, berilah daku di alam barzah,
“Apa yang di dunia tidak kau berikan! –
“Tuhan, berilah daku di dunia sana,
“Bila maut menyentuh bibirku, –
“Tuhan, berilah daku di dunia sana
“Apa yang di sini tidak ku kecap …
ketenangan!”
Tapi, terbenam dalam bibirku,
Doaku tak sampai kepada Tuhan,…
Memang aku berlutut, –
Memang keluhan lepas dari bibirku, –
Tapi ucapanku: “Jangan dulu, ya Tuhan
“Kembalikan dulu ibuku padaku!”
=H,B, YASSIN=
(Aslinya puisi ini tanpa judul, ada di Bab III, hlm. 23-27, merupakan sajak yang dideklamasikan Frits di rumah keluarga Rosemeijer- pedagang gula, yang diambil dari bungkusan milik Sjaalman yang dititipkan kepada Batavus Droogstoppel. Inti dari sajak ini adalah tentang seorang muda yang menulis kepada ibunya bahwa ia jatuh cinta dan bahwa gadisnya kawin dengan orang lain)