Rabu, 15 Juli 2015

KEMBALIKAN DULU IBUKU PADAKU karya : H.B. Yassin

 

      Ibu, jauh memang tempat ku lahir,

Negeri tempat kulihat cahaya mentari,

Airmataku berlinang pertama kali,

      Kau besarkan aku dalam bimbingan;

      Jiwa sang anak kau isi dan kau pimpin

Penuh kasih sayang seorang ibu

Setia kau mendampingiku

      Kau angkat jika ku jatuh; –

Nasib kejam memutus hubungan kita

      Tapi hanya lahirnya saja…

Sendiri aku berdiri di pantai asing

      Seorang diri,… dan Tuhan…

 

Namun, ibu, apapun menggelisahkan hati,

      Yang menyenangkan maupun menyedihkan

Janganlah ragu cintanya beta

      Cinta puteramu di dalam hati!

 

Belum ada empat tahun yang silam

      Aku berdiri penghabisan kali nun di sana

      Tanpa kata di tepi pantai

Menatap jauh ke masa depan;

      Kubayangkan segala yang indah

Yang menunggu di masa depan,

Kelecehkan masa kini dengan berani

      Kuciptakan surga firdausi;

      Hatiku tak gentar menempuh jalan

      Melanda segala hambatan,

Yang melintang di depan mata,

Ku rasa dunia bahagia semata…

 

 

      Tapi masa itu, sejak pertemuan penghabisan kali

Betapa cepat hilang menjauh,

      Seperti kilat tidak terperi.

Seperti bayangan melintas lalu…

      Namun alangkah dalam, alangkah dalam

      Bekasnya yang tinggal!

      Aku merasa girang dan sedih sekali datang,

Aku berpikir, dan aku berjuang,

Aku bersorak, dan aku mendoa…

      Ku rasa berabad-abad menghilang lalu!

      Aku mengejar kebahagiaan hidup,

Aku menemukan dan aku kehilangan,

Masa kanak kujalani cepat

      Bertahun-tahun rasa sesaat…

 

Namun percayalah bundaku sayang

      Demi langit yang melihat kita

Percayalah ibu percayalah…

      Puteramu tidak melupakanmu!

 

Aku cintakan seorang gadis. Seluruh

      Hidup ku rasa indah karena cintaku;

      Ku lihat dirinya laksana mahkota

Ganjaran akhir cita-citaku

Yang diberikan Tuhan sebagai tujuan; –

      Bahagia menerima karunia

Yang ditentukannya untuk diriku

      Yang dikaruniakannya kepadaku

Akupun bersyukur dengan airmata berlinang…

      Cinta dan agama adalah satu.

Dan jiwaku bahagia membubung tinggi

Mengucap syukur kepada Yang Mahatinggi

      Mengucap syukur dan mendoa untuknya sendiri…

 

Susah hatiku karena cintaku,

      Hatiku resah gelisah,

      Tiada tertahan rasanya dukacitaku

Mengiris melukai hatiku lemah;

      Hanya takut dan derita yang ku dapat

Bukannya nikmat yang ku harap,

Selamat bahagia yang ku cari,

      Racun dan petaka datang mendekat…

 

Aku senang dalam derita tanpa kata!

      Aku tabah penuh pengharapan; –

Untung malang menambah gairahku,…

      Untuknya biar ku pikul beban derita!

Tiada ku hirau pukulan malapetaka,

      Sukacita aku dalam dukacitaku,

Aku rela, aku rela memikul segala…

      Asalkan nasib jangan merenggutnya dari padaku!

 

Gambaran wajahnya, yang terindah bagiku di atas bumi,

      Ku bawa di dalam hati,

      Laksana barang tiada bernilai,

Ku simpan setia dalam hatiku!

Tiba-tiba asing ia bagiku!

      Walau cintaku bertahan

Sampai tarikan nafas penghabisan

      Akhirnya mengembalikannya padaku

Di tanah air nan lebih indah,…

Aku mulai mencintainya!

 

      Apakah cinta yang baru mulai,

Dibanding cinta bersama hidup

Dimasukkan Tuhan dalam hati si anak,

      Sebelum pandai ia bicara?...

      Tatkala ia di dada ibunya,

Baru saja meninggalkan kandungan,

      Menemukan susu pertama pemuas dahaga,

Cahaya pertama di mata Bunda?...

 

      Tidak, tiada ikatan yang lebih erat

Lebih kuat memadu hati.

Dari ikatan Tuhan ciptakan

      Antara si anak dan hati ibunda!

 

Dan hati yang begitu terpaut

      Pada keindahan sesaat berkilau;

      Yang memberiku duri semata,

Dia tiada menjalin satupun kembang,…

      Apakah hati itu, hati itu juga

Lupakan kesetiaan hati ibunda; –

      Dan cinta wanita

Yang menerima dalam hatinya gundah

      Teriakanku pertama sebagai bayi, –

Yang membujuk daku jika menangis,

Mencium kering airmata dari pipiku,…

      Yang memberi ku makan dengan darahnya?...

 

Bunda janganlah percaya,

      Demi Tuhan yang melihat kita.

Bunda janganlah percaya,

      Tidak, anakmu tiadalah lupa!

 

Di sini aku jauh dari kehidupan

Yang di sana penuh kemanisan dan keindahan;

      Kenikmatan masa pertama

Sering dipuji dan disanjung tinggi,

Di sini bukan bagianku

      Di tempatku yang sepi dan suram, –

Curam dan penuh duri jalanku,

      Untung malang menekan jiwaku,

Beban ku pikul memberat pundakku

      Dan menghimpit hatiku; –

 

Biarlah airmataku menjadi saksi

      Bila kepalaku terkulai pilu

      Di saat-saat tanpa harapan

Di tengah alam yang luas;…

      Sering bila harapan tiada lagi,

Hampir-hampir lepaslah keluhan:

“Tuhan, berilah daku di alam barzah,

      “Apa yang di dunia tidak kau berikan! –

“Tuhan, berilah daku di dunia sana,

      “Bila maut menyentuh bibirku, –

“Tuhan, berilah daku di dunia sana

      “Apa yang di sini tidak ku kecap …

                                                ketenangan!”

 

Tapi, terbenam dalam bibirku,

      Doaku tak sampai kepada Tuhan,…

      Memang aku berlutut, –

Memang keluhan lepas dari bibirku, –

      Tapi ucapanku: “Jangan dulu, ya Tuhan

      “Kembalikan dulu ibuku padaku!”




=H,B, YASSIN=

(Aslinya puisi ini tanpa judul, ada di Bab III, hlm. 23-27, merupakan sajak yang dideklamasikan Frits di rumah keluarga Rosemeijer- pedagang gula, yang diambil dari bungkusan milik Sjaalman yang dititipkan kepada Batavus Droogstoppel. Inti dari sajak ini adalah tentang seorang muda yang menulis kepada ibunya bahwa ia jatuh cinta dan bahwa gadisnya kawin dengan orang lain)

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar