Tampilkan postingan dengan label SUBAGIO SASTROWARDOJO. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SUBAGIO SASTROWARDOJO. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 September 2015

DALANG karya : Subagio Sastrowardojo

Pulang dari seberang pantai

lidahnya seperti kelu

dan ia tidak sedia

memainkan lagi bonekanya

Pondoknya tertutup buat tamu

Rakyat yang kebingungan

mendobrak pintunya dan berteriak:

– Kisahkan lakon hidup ini

dan terangkan apa artinya!

Terbangun dari keheningan

ia menulis sajak satu kata

yang paling bagus

berbunyi: “Hong”

 




=SUBAGIO SASTROWARDOJO=

ILHAM karya : Subagio Sastrowardojo

di bukit siguntang

 – di puncaknya pernah kuciptakan bulan –

bintang berburuan

 

angin yang kucinta

mengucup pelupuk mata

– dinginnya menusuk, tajam

seperti duri embun –

 

apa tidak baik

mendirikan dinding

dari puing mega

dan menjaga

supaya api menyala

 

sebab aku suka kepada cahaya

yang mekar sebagai bunga

dan membakar seluruh kota

 

api, bikin aku muda

 

sebentar lagi bakal pagi

terasa pada selera lidah

dan gelitik kaki

 

segera ke lembah aku lari




=SUBAGIO SASTROWARDOJO=

 

ADAM karya : Subagio Sastrowardojo

Karena terkutuk

manusia pertama yang terdampar di pantai

matanya buta

 

Dinding mega memagari cakrawala

Dunianya adalah kekosongan tanpa makna

 

Waktu ditanya dari mana ia berasal

dan mengapa bintang berlayangan di langit

ia hanya menggeleng tak mengerti

 




=SUBAGIO SASTROWARDOJO=

PASRAH karya : Subagio Sastrowardojo

Demi malam yang ramah

aku berjanji akan menyerah

kepada angin

yang menyisir tepi hari

 

Di pinggir lembah

aku akan diam terbaring

 

Yang membuat aku takut

hanya bulan di sela ranting

yang memperdalam hening

 




=SUBAGIO SASTROWARDOJO=

BELUKAR karya : Subagio Sastrowardojo

terlepas dari napas pertama

aku terlempar ke padang sepi

anjing liar tersekat di belukar

bernasib mengembara tiada henti

dirundung rindu

kugoreskan napsu ke perut bumi

– aku sungguh tak nyeleweng dari janji –

berkubang dalam lumpur dan tahi

masih maukah kau menerimaku kembali

apa sempat kau memberiku mimpi

 




=SUBAGIO SASTROWARDOJO=

L'EDUCATION SENTIMENTALE karya : Subagio Sastrowardojo

untuk mempelajari warna

aku kembali kepada bunga

di musim tumbuh –

merah, kuning, ungu – dan hijau

dari rumput

di sela hitam tanah

untuk kilau cahaya aku belajar

dari sinar mata dan perang rambut

seperti emas, dan putih

ah, dari langit yang telanjang

atau dari tubuhmu yang kukasih

atau dari maut

semua putih

aku kumbang yang melayang

demi gairah menuntut

dan sanggup hidup sehari

 




=SUBAGIO SASTROWARDOJO=

Rabu, 16 September 2015

KAMPUNG karya : Subagio Sastrowardojo

Kalau aku pergi ke luar negeri, dik

karena hawa di sini sudah pengap oleh

pikiran-pikiran beku.

 

Hidup di negeri ini seperti di dalam kampung

di mana setiap orang ingin bikin peraturan

mengenai lalu lintas di gang, jaga malam dan

daftar diri di kemantren.

 

Di mana setiap orang ingin jadi hakim

dan berbincang tentang susila, politik dan agama

seperti soal-soal yang dikuasai.

 

 

Di mana setiap tukang jamu disambut dengan hangat

dengan perhatian dan tawanya.

 

Di mana ocehan di jalan lebih berharga

dari renungan tenang di kamar.

 

Di mana curiga lebih mendalam dari cinta dan percaya.

 

Kalau aku pergi ke luar negeri, dik

karena aku ingin merdeka dan menemukan diri.




=SUBAGIO SASTROWARDOJO=

KEJATUHAN karya : Subagio Sastrowardojo

Di daerah mimpi

nyawaku berdiri sebagai pohon hitam

dengan buah-buah getir bergantung di dahan

Hanya ular yang menjaga tahu akan rasanya

Perempuan yang telah kehilangan selera:

jangan masuk taman terlarang

atau akan bangun aku tersentak

menyaksikan diri telanjang

Atau cukup lebarkah tanganmu

untuk menutup lobang malu?




=SUBAGIO SASTROWARDOJO=

NUH karya : Subagio Sastrowardojo

Kadang-kadang

di tengah keramaian pesta

atau waktu sendiri berjalan di gurun

terdengar debur laut

menghempas karang

 

Aku tahu pasti

sehabis mengembara

dan bercengkerama di kota

aku akan kembali ke pantai

memenuhi janji

 

Sekali ini tidak akan ada pelarian

atau perlawanan

 

Kapal terakhir terdampar di pasir

 

Aku akan menyerah diam

waktu air membenam




=SUBAGIO SASTROWARDOJO=

SAYAP PATAH karya : Subagio Sastrowardojo

sejak berdiam di kota

hati yang memberontak

telah menjadi jinak

kini pekerjaan tinggal

membaca di kamar

barang dua-tiga sajak

atau memperbaiki pagar di halaman

(yang sudah mulai rusak)

atau menyuapi anak

waktu menangis karena lapar

kadang-kadang juga memuji istri

memakai baju yang baru dibeli

--  meneropong bintang

bukan lagi menjadi hobi –

hanya sesekali di muka kaca

aku berkata menghibur diri:

bidadari! sayapmu patah

sekali waktu akan pulih kembali




=SUBAGIO SASTROWARDOJO=

JIKA HARI REMBANG PETANG karya : Subagio Sastrowardojo

Jika hari rembang petang

tidak berarti permainan bakal selesai

dan boleh tinggalkan gelanggang

 

hanya peranan bertukar

dari pemain di dalam

menjadi penonton di luar

 

kita lantas memasuki ruang penuh cahaya

dan melihat bayang

terlempar di layar

 

kita bisa jaga dan menatap semalam suntuk

 

hari sudah tinggi

kau tak berbenah?

 

di bawah bayang senja

setiap barang nampak indah

 

muka-muka yang lelah

berbinar di redup sinar

 

di antara kita berdua, kekasih

siapa dulu akan terkapar?




=SUBAGIO SASTROWARDOJO=

PASRAH karya : Subagio Sastrowardojo

Demi malam yang ramah

aku berjanji akan menyerah

kepada angin

yang menyisir tepi hari

 

Di pinggir lembah

aku akan diam terbaring

 

Yang membuat aku takut

hanya bulan di sela ranting

yang memperdalam hening

 




=SUBAGIO SASTROWARDOJO=

PARADISE REGAINED karya : Subagio Sastrowardojo

hari yang mempesona

betapa hampa cita

tembikar retak di bawah rabaan jari

jam terlalu deras

insin saja dilepaskan dari pergelangan

lantas lekas menembus ruang malam

yang cerah intinya

di mana bersinar cahaya di langit angan

dan tak hangus muka oleh usia

langkah mengalah

dan berita pertama terdengar dari sumbernya

yang asli

kuncup muda terpetik dari ranting

lalu membuka bunga sajak

kehadirannya merdu seperti lonceng

lembah meriah

sungguh firdusi

tak kelak

tak ketika 

semerbak abadi




=SUBAGIO SASTROWARDOJO=

SAJAK SEJENAK karya : Subagio Sastrowardojo

tamu

 

masih ada yang mau singgah

di pondok tua – kesan sesal

gamit rindu, gores duka

biar terbuka pintu muka

buat tamu tak terduga

siapa akan mengajak berbicara –

rumput, batu, matahari

arti kabur di pudar hari

di bawah jenjang berdiri bayang

di tangan pisau belati

tiba ia menoleh memperhati




=SUBAGIO SASTROWARDOJO=

MENARA karya : Subagio Sastrowardojo

Setiap pagi

membuka sorga

dan anak-anak mengulang lagi bahasa

yang terlupa malam hari 

Itu sebelum tiba kutuk

yang memisah arti

dari kata

dan percakapan tak mungkin lagi

Sebelum musnah menara kesadaran

terbakar api senja

Menyusul kemudian penantian

semalaman

kepada pagi




=SUBAGIO SASTROWARDOJO=

KAYON karya : Subagio Sastrowardojo

pohon purba

- di tengah hutan merah tua -

tahu akan makna dunia

maka diam

tak bicara




=SUBAGIO SASTROWARDOJO=

PERTIWI karya : Subagio Sastrowardojo

ia rebah di lembah pagi:

paha putih menjulurkan ketela

lengan manis beruas tebu

dan jari tangan mengalirkan bulir padi

pemburu, apa yang kautunggu!

rambut rindang melindungi kelapa

gading – buah dadanya

tanpa ayal kutempuh semak belukar

menyambut daging ilahi

di belah gapura kuhirup madu abadi




=SUBAGIO SASTROWARDOJO=

PAGI karya : Subagio Sastrowardojo

tepat pukul lima pagi

jagat mengental

malam yang menyerua

menumpahkan noda di sutera langit

diriku yang terbakar dekat dinding

kehabisan arus berahi

dan kau juga

remabutmu yang terkait di sela jari

tidak lagi membersitkan selera

nasibmu terhela di ranjang tua

siapa sempat bicara tentang dosa:

telah terhenti suara lantang di taman firdausi

suara lelaki yang tak mungkin berulang lagi




=SUBAGIO SASTROWARDOJO=

WAWANCARA karya : Subagio Sastrowardojo

 

I

Di balik cinta yang hilang, Tuhan

terus menusuk duri kenangan

sehingga terkelupas kulit nyawaku

dan darahku telanjang

menjerit

dari rongga rindu paling kelam

 

II

 

Apatah yang lebih hitam

dari bayanganmu

yang tercapak di sudut tembok

di mana tumbang jembangan bunga

 

Atau di papan pintu tua

yang kuketuk tapi tak ada yang membuka

 

Hatimu terlalu baik, Tuhan

dan membiarkan bayangan hitam

mengikut langkahku sendirian

lalu mencekikku di lorong lengang

 

III

 

Mataku rabun

(karena terlalu banyak membaca)

sulit lagi percaya

di mana kau berada

 

Di hari hampa

masihkah kau di situ, berjaga?

Telah kututup buku di meja

dan dadaku sudah penuh dengan napasmu

Tuhan, akan kembali kau bersabda?

 

IV

 

Sebelum mereka bangun

aku telah selesai mendirikan rumah

dari pasir di pantai

O, betapa indahnya berbaring

membayangkan kuda putih

dan kapal layar di mega

Parak siang menurut rencana

aku akan berlomba di lapang bola

dan main perang dengan kayu dan api

pura-pura tertembak dan menangkup mati

Terpelanting ke alam kanak

aku sering berpaling ke dini hari

saat sebelum mimpi siang ini terjadi

Sebab aku sebenarnya tidak berbeda

dengan kau, Tuhan:

Hadirku di sini lebih dulu dari bapa

dan nyawaku purba tidak pernah jadi tua

 

V

 

Hatiku putih kini

karena kalis dari dosa

Dapatkah kau kubujuk

dan minta kau bicara?

Telah kulecut tubuhku

dengan siksa penyesalan

sehingga remuk dagingku

dan tinggal hanya rindu kepada suaramu

Tetapi mukamu tetap diam

seperti kertas kosong

tak beraksara

Haruskan aku mabuk lagi oleh kata

dan berceloteh tanpa makna?

Tuhan, aku tak sabar menanti berita kalam

langsung terbit dari sumber ilham

 

VI

 

Di bagian musim ini

mendung di pantai

mendatangkan resah

di hati dan dinding rumah

Dan kau, Tuhan, berlaku sebagai tamu asing

gelisah keluar-masuk

melintasi lantai pintu

Mengapa tidak singgah di laut batinku

dan memancarkan rahmatmu dari sana

dari hening lubuk

yang tak pernah goncang oleh badai

di mana kau bisa betah

 



=SUBAGIO SASTROWARDOJO=

Sabtu, 05 September 2015

SALJU karya : Subagio Sastrowardojo

Asal mula adalah salju
sebelum tercipta Waktu
sentuhan perawan seringan kenangan
adalah semua yang disebut bumi
dan udara terus bicara
sebab bicara tak pernah berhenti
dan salju jatuh seperti mimpi
Angin kutub memanjang selalu
dan meraba tanpa jari
dan di ambang anjing belang menggonggong
sia sia membuka pagi
hanya geliat bayi sudah terasa
pada dinding tua dekat musim binasa
dan salju melebari hari
Bangunnya Waktu bersama penyesalan
ketika manusia dengan mukanya yang jelek
meninggalkan telapak kakinya di salju

pada setiap langkah menetes darah
sedang gelegar bintang berpadu ringkik kuda
terlempar damba ke angkasa
Pada saat begini terjadi penciptaan
ketika orang bungkuk dari gua di daerah selatan
menghembuskan napas dan bahasa
bagi segala yang tak terucapkan
sedang selera yang meleleh dari pahanya
menerbitkan keturunan yang kerdil
dengan muka tipis dan alis terlipat
suaranya serak meniru gagak menyerbu mangsa
Dengan tangan kasar digalinya kubur
di salju buat tuhan-tuhannya yang mati
dan di lopak-lopak air membeku
mereka cari muka sendiri terbayang sehari
di antara subuh dan kilat senja
sebelum kebinasaan menjadi mutlak
dan salju turun lagi menghapus semua rupa
dalam kenanaran mimpi

 


=SUBAGIO SASTROWARDOJO=