Tampilkan postingan dengan label ARAHMAIANI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARAHMAIANI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Agustus 2015

WAJAHMU karya : Arahmaiani

Aku berdiri di persimpangan

Aku menoleh

Ke kanan

Lalu ke kiri

Tak begitu paham

Arah mana harus berjalan

 

Kamu

Hadir tak terduga

Wajahmu bercahaya

Lingkaran surya

Kala aku tersesat

Dan terperangkap!

 

Dunia cuma bayang-bayang belaka

Tetapi aku kerap terkesima

Terjebak dalam pesona

Kecemasan

Keinginan dicinta

Dan mencintai

 

Duduk bersisian

Dalam diam

Kata lenyap

Kau dan aku hanyut

Pada sebuah sungai tak bertepi

Tenang dan dalam

 

Hidup cuma sementara

Namun aku sering terpana

Terjerat dalam harapan

Kegembiraan

Kesedihan

Dan rasa takut

 

Entah sampai kapan

Kau akan duduk dalam diam

Hilang bentuk

Hilang rupa

Menyatu dalam gelombang

Meninggalkan fana

 

Seperti labirin

Jalan hidup tak lurus

Kau terjebak di dalamnya

Engkau dan aku

Mengaliri

Keindahannya



 

Yogyakarta, 2002

=ARAHMAIANI=

AMSTERDAM BLUES karya : Arahmaiani

Di rambutku kusut

Bertebar rasa takut

Bergelinjang mengerang

Sepanjang malam

Berselimut gemerlap lampu

 

Kekasihku,

Hujan dingin turun

Basahi kepedihanku yang batu

Cucurannya aliri

Kesepian beku

Di kanal-kanal dosa

Gang-gang sempit kejahatan bisu

Jatuh

Sebagai butir-butir air mata

Di bata-bata tua

Berkilau

Bercahaya

Dalam gelap makna cinta

 

Aku melaju di atas sepeda reyotku

Menentang sunyi

Melawan sepi

Tembus langit-langit berdebu

Menuju kamu



 

Amsterdam, 1992

=ARAHMAIANI=

UN-KNOWN TERRITORY karya : Arahmaiani

Telah kujalani

Hal pantas dan tidak pantas

Melawan aturan

Melanggar larangan

Menyalahgunakan pikiran

Meninggalkan agama

Melupakan Tuhan

 

Aku menggadaikan

Keyakinan

Dan kupertaruhkan

Dalam perjudian kehidupan

Aku tidak pernah menang

Aku terlunta

Diombang-ambing tanda tanya

 

Waktu berjalan

Merayapi pikiran dan tubuhku

Yang kerap bimbang

Mengabur-baur segala dugaan

Mengaduk campur

Pola dan tanda

Mengacau birama

 

Kuhapus segala nama

Kubuang segala rambu

Kusapu segala hiasan

Kupupus segala warna

Kusenyapkan segala nada

Kuhancurkan segala rupa

Kuenyahkan segala tanya

 

Tiada pahala

Tiada dosa

Tiada kebaikan

Tiada keburukan

Tiada benar

Tiada salah

Tiada yang tiada

 

Teritori yang tak kukenali

Membentang di cakrawala

Kosong dan sunyi

Tidak tahu aku sedih atau bahagia

Hanya satu hal yang kutahu

Aku butuh kamu

Wajah Tuhanku



 

Yogyakarta, 2002

=ARAHMAIANI=

DUKA KACA karya : Arahmaiani

Sayup gamelan mengantar legong

Desirkan nyanyian ketiadaan

Tentang masa kecil yang haru

Tentang ingat wajah nenek ketus

Tiap tarian kakek di puncak malam

Waktu aku berdiri di ambang bimbang

Pada mangkuk yang berjajar di bale

Mengusir dingin alas tanpa kasut

Muka beringas ngeri

Wajah itu kini tak pernah pergi

Di muka bertaring benci

Terornya melilit langkahku

Pada tiap lamunan

Melayangkan duka

Duka kayu mengkilat

Duka kursi rotan

Duka bilik gedek

Duka suplir mungil merunduk

Duka tegar kaca patri

Pada tiap detak kelengangan

Puluh tahun. Lalu

Tapi duka itu terpatri

Di kaca dan lampu rumahku



Bandung, 1983

=ARAHMAIANI=

PUISI HATI karya : Arahmaiani

Perempuan berkaca mata

Menyanyi sendiri

Di dalam hati

Musiknya detak jantungnya

 

Perempuan berkaca mata

Berpuisi sendiri

Di dalam hati

Kata-katanya derita


 

Sydney, 1986

=ARAHMAIANI=

SAJAK TIGA PERINGATAN karya : Arahmaiani

Terhimpit kemiskinan dan penindasan

Manusia akan berusaha menjawabnya

 

Apabila Negara bijaksana

Menyediakan lowongan kerja dan kesempatan bicara

Juga orang kaya mau membagikan sebagian hartanya

Kedamaian akan terjaga

 

Namun apabila tak ada yang peduli

Dan orang-orang papa dicekik kemelaratan

Ditekan kehinaan

Hidup sudah pasti akan jadi neraka bagi siapa saja

 

Tak usah kaget dan kecewa

Apabila menyaksikan pemuda tamatan SLA

Menggorong leher tetangganya yang kaya

Ataupun mendapati perawan

Menjajakan tubuhnya di jalan raya

 

Tak usah marah dan terluka

Apabila melihat orang-orang melibatkan diri

Ke dalam pemerasan dan penipuan

Mempertaruhkan miliknya dalam perjudian

Ataupun melilit dirinya dengan hutang-hutang

 

Juga tak perlu merasa heran dan teraniaya

Apabila orang-orang menjadi liar tak mematuhi aturan

Lalu menjadi ganas seperti binatang

Dan akhirnya melakukan pemberontakan



 

Jakarta, 1989

=ARAHMAIANI=

PERCAKAPAN SEORANG KELANA DENGAN O karya : Arahmaiani

Kelana :    Engkau diam memaku

                   Bicara lewat mata

                   Membuat aku terpana

                   Membuat aku lupa

                   Siapa diriku adanya

 

                   Engkau memancarkan wibawa

                   Selalu berdo’a dan memuja

                   Membuat aku segan

                   Takut melakukan kesalahan

 

                   Engkau si pemilik cinta

                   Adalah seumpama rahim Bunda

                   Membuat aku terharu

                   Titikkan airmata

 

                   Aku tak kuasa memalingkan muka

                   Tak kuasa menahan degup jantung

                   Ingin mengetahui

                   Siapakah tuanku sebenarnya

 

                   (Suburlah, subur pohon kebajikan

                   Gemburlah, gembur persemaian keindahan

                   Sang pujangga harus berani menelanjangi

                   kenyataan)

 

O :              Aku adalah batu

                   Beribu api

                   Berbapak air

                   Tempatku di rimba belantara

                   Balaku srigala dan singa

                   Tungganganku burung garuda

 

                   Aku tapa brata

                   Aku jiwanmukta

                   Aku sejumlah senjata

                   Aku musuh para kurawa

                   Aku adalah gagasan

                   Aku adalah perbuatan

                   Aku melakukan pembunuhan

 

                   Aku mengukir takdir

                   Aku menatah salib

                   Aku menguntai karma

                   Aku mewarnai padma

 

                   Aku delapan jalan semesta

                   Aku jalannya matahari

                   Aku jalannya bulan

                   Aku jalannya bintang

                   Aku jalannya angin

                   Aku jalannya mendung

                   Aku jalannya api

                   Aku jalannya samudra

                   Aku jalannya bumi

 

Kelana :    Tuanku

                   Lewat kehadiranmu aku mengerti

                   Aku melihat

                   Kebahagiaan menampakkan diri

                   Dialah purnama di malam gulita

                   Dialah sekuntum bunga di padang ilalang

                   Tak terangkum dalam kata

                   Tak terungkap oleh suara

                   Gerak ataupun warna

 

                   Aku sang musafir

                   Telah meninggalkan dzikir

                   Menjadi seorang kafir

                   Sebab kerinduan tak tertahankan

                   Ingin bertemu

                   Mengabdi kepada Tuanku kebenaran

 

                   Aku hanya debu

                   Terlilit kebodohan dan nafsu

                   Ingin bertanya

                   Apakah sebab Tuan bicara kepada hamba?

 

                   (Mengalirlah, mengalir air kehidupan

                   Hanyutlah, hanyut mendung kematian

                   Sang pujangga harus berjuang demi kebenaran)

 

O :              Aku datang tak ada yang menitah

                   Aku pergi bukan karena diperintah

                   Sebab aku kemandirian

                   Yang menggariskan batas-batas

                   Kejahatan dan kebajikan

                   Kepalsuan dan keabsahan

                   Kesucian dan noda

                   Kebajikan dan dosa

 

                   Aku merambah hutan

                   Membuka jalan

                   Mengumpulkan bahan

                   Mendirikan bangunan

                   Membuat pintu dan jendela

                   Memegang kuncinya

                   Menyimpan harta peninggalan para raja

                   Mengetahui lorong-lorong rahasia

 

                   Kuwujudkan diriku

                   Kujadikan engkau sekutuku

                   Sebab engkau berani

                   Tanggalkan seluruh pakaian

                   Engkau tega matikan raga

                   Engkau kuat hidup di antara mayat

                   Engkau sadar dunia ini kegilaan belaka

 

Kelana :    Tuanku,

                   Rasa ini hanya satu

                   Tunggal walau terlihat seribu

                   Jernih bagai tirta

                   Manis bagai madu

 

                   Aku pengembara

                   Meninggalkan teman dan saudara

                   Hayati jalan tercela

                   Sebab dikuasai cinta birahi

                   Ingin menyetubuhi ilmu pengetahuan

                   Dan beranak pinak kebajikan

 

                   Aku setitik air di tengah samudra

                   Mencoba menemukan jati diri

                   Rahasia hati

                   Sekali lagi hendak bertanya

                   Kalau tuanku telah menyatakan

                   Ini sebuah persekutuan

                   Lalu apa yang hendak kita lakukan?

 

                   (Bersinarlah, bersinar mentari sukama

                   Berkobarlah, berkobar api jiwa

                   Sang pujangga harus berkorban dan jujur pada

                   suratan)

 

O :              Aku penebar benang sutra

                   Engkau penenunnya

                   Aku kata

                   Engkau lidahnya

                   Aku nada

                   Engkau musiknya

                   Aku gerak

                   Engkau penarinya

                   Aku warna

                   Engkau pelukisnya

                   Aku dara jelita

                   Engkau jejakanya

                   Aku Ratu

                   Engkau abdi setia



 

Kaliurang, 1990           

=ARAHMAIANI=

KENANGAN karya : Arahmaiani

Dulu,

Bapakku menanamkan do’a

Tanah hitam

Tumbuh jadi piramida

 

Ibuku meniup mantra

Sungai lengang

Membuat ikan-ikan menari

Ganggang bersinar terang

 

Bintang-bintang dirajut

Langit disulam

Benangnya berjurai ke bumi

Menyentuh dedaunan

 

Bapak

Menatahkan nyanyian di batu

Debunya berterbangan

Jadi kunang-kunang



 

Amsterdam, 1992

=ARAHMAIANI=

CITA CITA karya : Arahmaiani

Waktu kecil aku ditanya

Cita-citaku apa

Kubilang mau jadi nabi

Bapak bilang: tidak bisa!

Anak perempuan boleh meraih cita-cita

Mencari ilmu ke Roma atau ke Cina

Mendapat gelar terhormat

Kemuliaan

Tapi bukan sebagai nabi

Itu hanya untuk anak lelaki

 

Sesudah dewasa

Aku ditanya

Kapan akan berkeluarga

Dan aku bilang: kapan-kapan saja

Sebab keinginanku untuk jadi nabi

Dan boleh mendapat wahyu

Belum juga sirna

Kalaupun aku harus punya lelaki

Mestilah ia seseorang yang

Ingin jadi tuhan



 

Yogyakarta, 2002

=ARAHMAIANI=

TUBUHKU MERINDUKAN TUBUHMU karya : Arahmaiani

Ini tubuh

Siapa punya?

Aku terperangkap di dalamnya

Mengeja belulang

Membaca daging dan darah

Melapal saraf

 

Tubuhku

Satu unit organ

Mengeluarkan cairan

Menyedot cairan

Berdenyut

Diam

 

Menangis

Mengembang kempis

Gerah

Bergairah

Lelah

Dan menjadi tua

 

Tubuhku

Dipasung waktu

Diikat aturan alam

Sendiri

Bergerak

Dalam isolasi

 

Tubuhku

Buah kehidupan

Dari benih tertanam

Rasakan

hangat menyusur

Sekujur

Jatuhan keringat

 

Pori-pori

terbuka

Lajur urat nadi seperti renda

Merentang dan berkelok

Di rimbunan bulu rambut

Rasakan gelombang hangat

Gairah birahi

 

Tubuhku

Sepenggal pernyataan

Sebutir tanda

Setitik air

Sebuah kenyataan

Merindukan tubuhmu



 

Yogyakarta, 2002

=ARAHMAIANI=

Sabtu, 01 Agustus 2015

DAUN NANGKA DAN PINTU PINTU TERBUKA karya : Arahmaiani

Sehelai daun nangka jatuh ke kepala

Apakah kegilaan ini nyata?

 

Pintu-pintu terbelah

Jendela kaca pecah

Kurobek dada

Kuperlihatkan isinya

 

Inilah aku darah yang berasal dari tanah

Roh yang rindu

Tersesat di lautan galau

Tak berurut tak ada petunjuk

 

Pintu-pintu rumah terbuka semua

Segala angin jahat, syahwat

Menyerbu, menyeru, bersatu

Menjadi sebongkah batu

 

Inilah aku: setitik nurani

Dalam kacau porak poranda

Gelap napsu getir kuatir

Harus mengabdi kepada waktu

 

Tuanku, bisakah nasib ini kuperangkap

Dan kujebloskan ke dalam kebohongan pengkhianatan?

Atau kupercayakan pada ombak

Yang menerpa pantai karang?

 

(Wajahnya tak kelihatan

Namun degupnya selalu terasakan)

 

Bagaimana mungkin aku bisa melarikan diri

Menjelmakan hakikat kesesatan bersekutu dengan setan

Dan membawa panji-panji pernyataan:

Bahwa di alam ini tidak ada Tuhan

 

Aku teringat cerita panjang

Tentang awal kehidupan

Aku bertanya:

Apakah makna penciptaan?

 

Adalah gairahku, minat yang terbangkitkan

Ketika menyaksikan kilap sebilah pedang teramat tajam

Merah seciprat darah di lantai marmer mewah

Dan hewan-hewan melakukan persetubuhan

 

Hasratku bergejolak, mengombak, beriak, berteriak:

Oi, lahirkan kenikmatan-kenikmatan

Sebagai anak-anak dari persekutuan

Antara malaikat dan setan!

 

Telah diciptakan dua kekuatan

Dua saling berlawanan, saling melengkapi

Untuk membangkitkan keinsyafan

Menyadarkan kemanusiaan

 

Setiap kali kubuka mata

Selalu kulihat tanah di bawah sini, langit di atas sana

Setiap kali aku tertawa

Selalu diikuti tetes airmata

 

Kesetiaan mengharukan

Tunjukkan aku pada kenyataan

Kokohkan aku pada janji

Dan robohkan aku apabila mengingkari

 

Telah diciptakan matahari & bulan, daratan & lautan

Laki-laki & perempuan, kawan & lawan, ketertiban & kekacauan

Jadi satu dan sebadan

Dalam segala tindak dan kejadian

 

Tuanku,

Dapatkah angin dirobah arah tiaupannya?

Dapatkah hati disembunyikan dalam almari?

Dan lalu dikunci?

 

Di ambang setiap pintu terbuka

Iblis-iblis berdiri menjulurkan lidahnya

Matanya menelanjangiku

Cakarnya mengoyak keyakinanku

 

Siapakah sebenarnya kamu?

Siapakah sebenarnya aku?

 

Sungai membelah hutan

Cinta menunjukkan jalan

Sekalipun aral akan tetap datang

Cemas menghadang dan iman guncang

 

Dari buah asalnya biji

Dari mentari datangnya api

Bagaimana berhadapan dengan siluman

Adalah rahasia kedaulatan diri

 

Bagaimana memutuskan kebergantungan

Adalah makna kemerdekaan

 

II

 

Halilintar menyambar-nyambar

Kilat berkelebat

Aku tergetar

Tubuh terkapar

 

Bangkit! Bangkit!

Bangkitlah kesadaran

Bangkitkan diri dari kelemahan

Bangkitkan diri dari impotensi

 

Bangkit engkau penghuni surga

Bangkit engkau penghuni neraka

Bangkit dan uji kebenaran

Bangkit dan wujudkan cita-cita

Biarkan pertentangan datang

Biarkan keterbatasan menunjukkan kekuatan

Hadirkan kebencian

Dan cinta kasih akan memperlihatkan kekuasaan

 

Hadirkan pengkhianatan

Dan kesetiaan akan menjadi keindahan

Hadirkan penderitaan

Dan kita akan mengerti kebahagiaan

 

Memang hidup bukan bunga cempaka

Bukan rumah yang hangat

Di mana ibu dan bapak selalu ada

Ataupun rangkaian pelukan tak berkeputusan

 

Bukan lodong yang diledakkan dekat lebaran

Itu sensasi, kata lain puas diri

Bukan pula pelor-pelor yang ditembakkan pada tawanan

Itu eksekusi, kata lain penganiayaan

 

Ya, keberadaan biarkan bicara atas namanya sendiri

Ya, rahasia penciptaan bukan untuk dicari

Tetapi untuk diungkapkan

Lewat kesadaran diri

 

Aku tak pernah ingat kapan aku dilahirkan

Aku tak pernah bertatap muka dengan Adam

Aku tak pernah ingat dari mana aku datang

Hanya kurasakan rindu yang tak berkeputusan

 

Rindu yang membawa aku ke rumah-rumah gelap

Namun terbuka semua pintu-pintunya

Membawa aku pada duka cita, amarah, dan dendam

Curiga tidak percaya, kecut dan takut, gerah gelisah

 

Dan sakitnya terpisah

Di mana matahari garang memanggang dan tak pernah tenggelam

Rindu yang dahaga

Rindu yang sakit jiwanya

 

Tuanku,

Apakah peredaran matahari dapat dihentikan?

Apakah dalam gelap harus selalu tersesat?

Tidak bisa selamat?

 

Aku ingin meniti pelangi dan memamah matahari

Ah, alangkah sulitnya mengikuti gerak api

Sebab empat penjuru angin selalu terbuka lebar-lebar

pintu-pintunya

Di mana aku berdiri angin menerpa pada setiap sisi

 

Pada langit kelam munculnya bintang

Dalam gelap adanya hati yang tetap

 

Hitunglah degup jantung

Dan ulang dan ulang

Dan ulang

Maka setan takkan berani datang

Bergeraklah berputar

Ciptakan pagar

Karena tak sselamanya dalam gelap

Harus selalu tersesat

 

Awan hitam lebur menjadi hujan

Kokok ayam menjadi peringatan pagi kan menjelang

Bahwa manusia mampu melakukan perubahan dan

mengolah mekanisme pertahanan

Ditegaskan dan disampaikan

 

Kalau ada gelap, ada terang

Aka ketetapan, ada perubahan

Ada perangkap, ada pembebasan

Ada sikap, ada jalan

 

Tak usah,

Tak usah ditanyakan di mana Tuhan

Tapi bunuhlah benih-benih pengkhianatan

Kuburkan dalam iman

 

Telah diciptakan kegembiraan dan kegundahan

Kewajaran dan keanehan, keyakinan dan keraguan

Dalam dinamika daur ulang

Berulang dan berulang

Di peringkat atas letaknya pusat kekuasaan

Di bawah sumber pemberontakan

Berulang dan berulang bertukaran

 

Daun-daun kering berjatuhan

Menjadi humus dan menyuburkan

Dalam hening aku tersadarkan:

Hidup tak perlu dilakoni

Apabila sia-sia belaka

Cinta tak dipelihara

Tak ada maknanya

 

Inilah aku:

Kegelisahan dalam kental kekecewaan

Berusaha membidik makna

Hidup teramat purba

Hidup duka

Hidup cedera

Hidup kita

 



Sekalaras, 1987 

=ARAHMAIANI=