Sayup gamelan mengantar legong
Desirkan nyanyian ketiadaan
Tentang masa kecil yang haru
Tentang ingat wajah nenek ketus
Tiap tarian kakek di puncak malam
Waktu aku berdiri di ambang bimbang
Pada mangkuk yang berjajar di bale
Mengusir dingin alas tanpa kasut
Muka beringas ngeri
Wajah itu kini tak pernah pergi
Di muka bertaring benci
Terornya melilit langkahku
Pada tiap lamunan
Melayangkan duka
Duka kayu mengkilat
Duka kursi rotan
Duka bilik gedek
Duka suplir mungil merunduk
Duka tegar kaca patri
Pada tiap detak kelengangan
Puluh tahun. Lalu
Tapi duka itu terpatri
Di kaca dan lampu rumahku
Bandung, 1983
=ARAHMAIANI=
Tidak ada komentar:
Posting Komentar