Anda bertanya mengapa gerangan
Samudera di pelabuhan Natal,
Di mana-mana patuh dan ramah,
Namun ganas bergelora di pelabuhan Natal,
Senantiasa menggelegak dan bergolak?
Anda bertanya, dan si anak nelayan
Yang papa mendengar pertanyaan anda,
Berkedip matanya hitam,
Ia menunjuk arah ke Barat nun jauh di sana
Di bawah langit melengkung luas.
Dialihkannya pandang dari mata yang legam,
Dan ia memandang arah ke Barat,
Ke manapun anda memandang,
Hanya air, air semata,
Dan laut, laut di mana-mana.
Itulah sebabnya Samudera di sini
Menggeser keras pasir di pantai;
Sekitar anda laut semata,
Dan air, air, tiada lain,
Sampai-sampai ke pantai Madagaskar.
Dan banyak korban disampaikan
Sebagai pampasan kepada Samudera
Dan banyak jeritan terbenam di air,
Tiada yang mendengar, isteri, anak maupun keluarga
Yang tahu hanyalah Tuhan.
Tangan menggapai penghabisan kali,
Menggapai-gapai di atas air,
Meraba-raba, mencekau, mencepuk-cepuk
berputar-putar,…
Mencari-cari tempat bertumpu,…
Lalu tenggelam selama-lamanya
Selanjutnya aku tak tahu lagi…
=H.B. YASSIN=
(Aslinya puisi ini tanpa judul, hadir di hlm. 165-166. Merupakan sajak yang dibuat oleh Max Havelaar saat memeriksa kebun-kebun lada yang terletak di Teluk-Balai, di sebelah utara Natal. Karena terletak di pantai, maka Max berperahu dengan seorang Datuk dan anak gadisnya, 13 tahun, yang sibuk menguntai manik. Adapun judulnya, merupakan kalimat yang saya temukan di bawah sajak)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar