a) “Anakku, jam sembilan sekarang, dengarlah!
Angin malam mendesir dan udara jadi sejuk
Terlalu dingin mungkin bagimu, jidatmu hangat
Kau main begitu lasak sehari-harian
Kau tentulah letih, mari, tikarmu menunggu –”
“Ah, Bunda, biarkan daku sebentar lagi
Enak tiduran di sini – dan di sana,
Di dalam sana di atas tikarku, aku segera tertidur,
Dan tidakpun tahu apa mimpiku, – tapi di sini,
Di sini segera ku dapat cerita apa mimpiku,
Dan tanyakan apa artinya – dengarlah,
Apakah itu?”
– “Itu kepala yang jatuh ke tanah.” –
– “Sakitkah rasanya ia jatuh?”
– Ku kira tidak,
Orang bilang buah dan batu tak punya perasaan.” –
– “Tapi kembang, tak merasakan juga?” –
– “Tidak,
Orang bilang tak ada perasaannya.”
– Kalau begitu,
Mengapa Bunda, waktu kemarin ku bawa pukul ampat
Bunda berkata aku sakiti dia?” –
– “Anakku, si pukul ampat amat cantiknya,
Kau tarik daunnya halus sehingga koyak
Sedih aku melihat kembang itu.
Sekalipun ia sendiri tidak merasa,
Aku merasakan untuknya, karena ia begitu cantiknya.” –
– “Tapi Bundaku sayang, kau pun cantikkah juga?”
– “Tidak, anakku,
Ku kira tidak.” –
– “Tapi Bunda punya perasaan?” –
b) – “Ya, orang punya perasaan, tapi tidak semuanya sama” –
– “Dan dapatkah sesuatu menyakitimu?
Sakitkah itu kau rasa
Jika kepalaku berat terhantar di pangkuanmu?” –
– “Tidak, itu tidak sakit ku rasa!” –
– “Dan Bunda,
Apakah aku punya perasaan?” –
– “Tentu, ingatkah kau
Waktu jatuh kesandung batu, tanganmu luka dan kau menangis,
Kau pun menangis waktu Saudin menceritakan padamu
Anak domba di bukit sana
Jatuh ke dalam jurang lalu mati;
Lama kau menangis, – itulah perasaan!” –
– “Tapi Bunda, kalau begitu, perasaan
samakah dengan kesedihan?” –
– “Ya, seringkali demikian,
Tapi tidak selalu, – kadang-kadang tidak! Kau tahu
Kalau adikmu kecil mencekau rambutmu,
Dan memekik riang menarik mukamu ke mukanya
Kaupun tertawa girang, itu pun perasaan.” –
– “Dan adikku kecil – dia menangis begitu sering
Karena sakitkah? – Apakah dia berperasaan juga?” –
– “Mungkin, anakku, tapi kita tidak tahu,
Karena dia masih kecil dan tak dapat mengatakannya.” –
– “Tapi Bunda … dengarlah, apakah itu?” –
– “Seekor rusa
Yang kemalaman dalam hutan dan kini
Berlari pulang melepas lelah
Bersama rusa yang lain, rusa-russa kesayangannya.” –
– “Bunda,
c) Rusa itu, adakah adiknya kecil seperti aku
Dan adakah Bundanya juga?” –
– “Entahlah, anakku.” –
– “Kalau tidak, alangkah sayang!
Tapi, Bunda, lihatlah – apa yang berkelip-kelip
di sana di dalam semak,
Lihatlah bagaimana ia melompat-lompat dan menari-nari,
apakah itu bunga api?” –
– “Itu adalah kunang-kunang” –
– “Bolehlah ku tangkap?” –
“Boleh, tapi serangga itu begitu halus
Kau pasti menyakitinya dan begitu
Kau sentuh ia agak kasar dengan jarimu,
Ia sakit dan mati dan tiada bercahaya lagi.”
– “Itu sungguh menyedihkan – tidak, aku takkan
menangkapnya, –
Lihat dia menghilang – tidak, dia datang kemari, –
Tapi aku takkan menangkapnya – dia terbang lagi,
Gembira karena aku tak menangkapnya, –
Itu dia terbang – tinggi – nun di atas – apa itu?
Apakah itu pun kunang-kunang, nun di sana?” –
– “Itu adalah
Bintang-bintang.” –
– “Satu dan dua dan sepuluh dan seribu!
Berapakah semuanya?” –
– “Entahlah;
Belum ada orang menghitung berapa jumlah bintang semua!” –
– “Tapi coba katakan Bunda,
Dia pun pernahkah tidak menghitung?” –
– “Tidak sayang. Dia pun tidak.” –
– “Jauhkah itu
Nun di atas di mana ada bintang-bintang?” –
– “Amat jauh” –
– Tapi apakah mereka berperasaan juga, bintang-bintang itu?
Dan bila kupegang dengan tangan,
Segera sakit dan kehilangan cahaya
Seperti kunang-kunang tadi? – Lihatlah, masih ia melayang –
Katakanlah, apakah bintang juga merasa sakit?”
– “Tidak,
Bintang tidakkan sakit kau pegang – tapi ia terlalu jauh
Terlalu tinggi, tak dapat dicapai tanganmu kecil.” –
– “Dapatkah Dia menangkap bintang dengan tangannya?” –
– “Dia pun tidak, tak ada orang yang dapat menangkap.
– “Sayang,
Aku ingin memberimu satu – tapi tunggu aku besar
Nanti ku cintai kau, begitu besar cintaku sampai ku bisa.”
Si anakpun tidur dan mimpikan “perasaan”
Mimpikan bintang-bintang yang dicapainya dengan tangan –
Si Bunda lama baru tertidur pula.
Tapi dia pun bermimpi
teringat kepada mereka yang jauh –
=H.B. YASSIN=
Cassel, Januari 1859
* Pukul empat – kembang yang membuka kelopaknya jam empat
* Saudin – penjaga anak
(Puisi ini juga tanpa judul, dihadirkan dalam bahasa aslinya di hlm. 230-233 dan terjemahan bahasa Indonesianya ada di bagian lampiran IV, hlm. 353-357)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar