Senin, 14 September 2015

TEKA TEKI YANG GANJIL karya : Wiji Thukul

Pada malam itu kami berkumpul dan berbicara,

Dari mulut kami tidak keluar hal-hal yang besar..

Masing-masing berbicara tentang keinginannya 

ang sederhana dan masuk akal

 

Ada yang sudah lama sekali ingin bikin dapur 

di rumah kontraknya

Dan itu mengingatkan yang lain

bahwa mereka juga belum punya panci, kompor

gelas minum dan wajan penggoreng

Mereka jadi ingat bahwa mereka pernah

ingin membeli barang-barang itu

tetapi keinginan itu dengan cepat terkubur

oleh keletihan kami,

Dan upah kami dalam waktu singkat telah berubah 

menjadi odol-shampo-sewa rumah

dan bon-bon di warung yang harus kami lunasi

 

Ternyata banyak di antara kami yang masih susah 

menikmati teh hangat

Karena kami masih pusing bagaimana mengatur 

letak tempat tidur dan gantungan pakaian

 

Ada yang sudah lama ingin mempunyai kamar mandisendiri

Dari situ pembicaraan meloncat ke soal harga semen 

dan juga cat tembok yang harganya tak pernah turun,

Kami juga berbicara tentang kampanye pemilihan umum 

yang sudah berlalu

Tiga partai politik yang ada kami simpulkan

Tak ada hubungannya sama sekali dengan kami: buruh

Mereka hanya memanfaatkan suara kami 

demi kedudukan mereka

 

Kami tertawa karena menyadari 

Bertahun-tahun kami dikibuli 

dan diperlakukan seperti kerbau

 

Akhirnya kami bertanya

Mengapa sedemikian sulitnya buruh membeli sekalengcat,

padahal tiap hari ia bekerja tak kurang dari 8 jam

Mengapa sedemikian sulitnya bagi buruh 

untuk menyekolahkan anak-anaknya

Padahal mereka tiap hari menghasilkan 

berton-ton barang

 

Lalu salah seorang di antara kami berdiri 

Memandang kami satu-persatu kemudian bertanya:

‘Adakah barang-barang yang kalian pakai 

yang tidak dibikin oleh buruh?’

Pertanyaan itu mendorong kami untuk mengamati 

barang-barang yang ada di sekitar kami:

neon, televisi, radio, baju, buku…

 

Sejak itu kami selalu merasa seperti 

sedang menghadapi teka-teki yang ganjil

Dan teka-teki itu selalu muncul 

ketika kami berbicara tentang panci-kompor-

gelas minum-wajan penggoreng

Juga di saat kami menghitung upah kami 

yang dalam waktu singkat telah berubah 

menjadi odol-shampo-sewa rumah 

dan bon-bon di warung yang harus kami lunasi

 

Kami selalu heran dan bertanya-tanya

Kekuatan macam apakah yang telah menghisap 

tenaga dan hasil kerja kami?

 



Kalangan, Solo, 21 September 93

=WIJI THUKUL=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar