Kamis, 16 Juli 2015

ULANG TAHUN DALAM PENJARA karya : Ajip Rosidi


Kepada Saikin dan Alibasah

 

I

Telah setahun yang lalu

Depan dan belakang putih bisu

Tapi suaramu jernih riang

 

Telah setahun yang lalu

Harapan dan impian hanya dinding

Tapi matamu menyorotkan kepastian

 

II

Sebuah rangka rumah

Hitam menjadi arang

Asap putih membubung tinggi

 

Sebuah danau hijau

Kecipak perahu di dayung

Gelombang lemah di dasar hati

 

III

Jalan berkelok dan mendaki

Terjal tanah berbatu

Dari rumah menuju pancuran

 

Jalan berkelok dan mendaki

Licin tanah berlumpur

Hidup kini menuju hari depan

 

IV

Alangkah tenangnya hutan

Kicau burung menyongsong pagi

Alangkah hijaunya hutan

Kicau burung menyongsong hari

 

Alangkah megahnya hari depan

Kita daki gunung tinggi

Alangkah megahnya kebanggaan

Menunjuk ke dada sendiri

 

V

Sebuah gunung hijau

Kini gundul saja

Kampung-kampung lumat, hutan tinggal abu

Api merah, darah pun merah

 

Sebuah lembah subur

Kini gersang, riak-riak siang hari

Ternak musnah, rumah musnah

Kolam ikan retak-retak dasarnya

 

VI

Ingatkah kau kepada tawa dan teriak anak-anak

Yang mengacungkan tangan serentak, “Hurip!”

Ingatkah kau kepada sorot mata meminta perlindungan

Yang menadahkan tapak tangan, “Kasihan …?”

 

Meski menadahkan tangan, percuma saja

Sia-sia mereka meratap, “Kasihan …”

Tiada lagi yang tertawa, tiada teriakan

Tiada lagi yang mengacungkan tangan, “Hurip!”

 

VII

Kadang-kadang kecewa dan putus asa

Kurangkul bumi hitam yang kucintai

Memeluk bencana yang mengintip usia

Degupan tresna mendebar keras

Mendera tubuhku bangkit kembali

 

Kadang-kadang kecewa dan putus asa

Kuteriakkan sesak dada padat nestapa

Melengking ke ujung lembah

Menggaung ke punggung gunung

Yang menyeringai, menista

 

Kadang-kadang kecewa dan putus asa

Kulari ke keamanan rumah

Namun sesak terasa

Kudengar rintih anak-anak diterkam srigala

Memanggil daku, ayahnya

 

VIII

Kadang-kadang masih kusangsi

Jalan yang telah kutempuh menuju Matahari

Namun impian menyadarkan daku dari impian

 

Kadang-kadang masih kusangsi

Telah kususun batu-batu pendiri hari depan lebih baik

Namun kenyataan menyadarkan daku melihat kenyataan

 

IX

Kalau kamarmu gelap dan depek

Udara mengganggang angin mati

Kalau jendelamu sempit dan bulat

Dirimu terpanggang, kecewa pun menjadi

 

Kalau kau teraling dinding tinggi

Langkah terhambat, pandangan terhambat

Kalau pintumu hitam dan berat

Dirimu terasing, dendam pun bangkit

 

X

Meski duniaku hijau dan terang

Dedaunan berdesir, angin menyilir

Dinding lebih tinggi dari segala dinding

Menghadang langkahku, mematikan suaraku

 

Setiap sepuluh langkah ke depan

Dan sepuluh langkah ke samping

Setiap sepuluh kata kuucapkan

Berdiri sebuah dinding

 

XI

Telah setahun yang lalu

Depan dan belakang putih bisu

Tapi suaramu jernih riang

 

Telah setahun yang lalu

Harapan dan impian hanya dinding

Tapi langkahmu menandakan keyakinan




=AJIP ROSIDI=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar