Sabtu, 18 Juli 2015

SEPASANG MEMPELAI karya : D. Zawawi imron

 

Bulan sembunyi

mendengar sunyi memintal hati

Di bawah bubungan bertanduk sapi

detik-detik menunggu kelanjutan

sabda leluhur yang agung:

selaput yang akan pecah

 

Ranjang dipesan dari Karduluk

dicat perada emas, coklat dan hijau jeruk

Kalaras pun seakan mengerti

tidak berbisik tidak bergoyang

 

Di puncak pohon polai

Kiai Poleng yang bijaksana

bersiap dengan gong untuk ditabuh

 

Nyiur gading nyiur bulan

mereka tak pernah kenalan

Maka sunyi pun bertanya

Langit juga bertanya

 

Kepolosan biji siwalan muda

menyepuh warna dunia

Terbukalah sebuah telaga

lahang pagi berlaru mimpi

bekal sangu ke alam sorga

 

Sentuhan yang pertama

di ubun-ubun batu ampar

mengeliat anak kijang di atas rumputan

 

Kiai Poleng mengidung di atas bubungan,

--    Cung-kuncung konce

      Wadon mutamat lanang sejati

      telah diminum getah jarak

      telah dikunyah pinang muda

      Yang genap telah ganjil

      Yang ganjil telah genap

 

Di serambi menanti sanak pamili

Pintu terbuka, menyembahlah menantu lanang

disambut mayang lepas seludang

pertanda semua tak punya hutang

 

Kepasrahan yang diterima bulan

tubuh tergolek di atas ranjang

digaibkan beburung malam

masa depan yang panjang

 

Air bunga pun disiramkan

bumi pingsan yang kini siuman

berjanji kepada pagi

kekalnya butiran mimpi

 



1974

=D. ZAWAWI IMRON=

polai = nama pohon besar yang dianggap angker

kiai poleng = tokoh yang dianggap penjaga pulau madura sejak dahulu kala

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar