Aku adalah perempuan miskin, yang lahir dari rakyat
kecil, dan dilahirkan oleh sejarah yang miskin.
Aku lahir diantara ribuan mereka yang lahir, di bale-bale
yang keras, di dalam gubug yang berlobang,
disebabkan oleh ayahku yang papa, yang suatu malam
mendatangi ke peluk perempuan ibuku yang miskin.
Aku tumbuh di tengah-tengah mereka yang makan
dari belas kasih matahari dan minum dari air hujan.
Aku tumbuh di tengah-tengah ladang yang kering dan
tandus yang andalkan tanah sempit tegalan bersama-
sama tengadahkan tangan rindukan hujan, membasahi
rumput-rumput dan tenggorokan.
Aku hidup dalam akar yang gersang, kutanami dan kutuai buah-buah
kesengsaraan dan penderitaan.
Aku tumbuh menjadi tetesan embun yang tak berarti, yang hidup dalam
ketakutan akan gunjangan angin, atau gerak dedaunan.
Aku hidup bersama perjalanan hari-hari
dan berputarnya bumi, dalam kemiskinan yang
semakin mengoyaklaparkan tubuhku yang dahaga.
Tapi dalam kemiskinan, aku hanya ingin bicara cinta,
karena ialah rahasia penyelamatan jiwaku, dan
mengayakan diriku dalam kasihNya, menggapai lewat
doa, mencapai kesejatian pengabdian, harap bisa
menikmati wajahNya.
Yogyakarta, Februari 1998
=ARINI HIJATI=
Tidak ada komentar:
Posting Komentar