Kamis, 09 Juli 2015

PENGAKUAN karya : Asrul Sani

 

Akulah musafir yang mencari Tuhan

Atas runtuhan gedung dan dada yang remuk

Dalam waktu tiada kenal berdiam dan samadi

Serta kepercayaan pada cinta yang hilang bersama kabut pagi.

Akulah yang telah berperi,

Tentang kerinduan akan penyelesaian yang tamat,

Dari manusia, dari dunia, dan dari Tuhan.

 

Ah, bumi yang mati,

Lazuardi yang kering.

Bagaimana aku masih dapat,

Menyayangkan air mata berlinang dari kembang kerenyam yang kering,

Sedang kota-kota dan rumah-rumah bambu lebih rendah dari wajah lautan.

 

Satu-satu masih terbayang antara pelupuk mata telah hampir terkatup,

Karena murtad, karena tiada percaya

Karena lelah, karena tiada punya ingatan,

Suatu lukisan dari deru air berlayar atas lunas berganti-ganti bentuk

 

Dari suatu lembah gelap dan suram

Menguapkan kabut mati dari suatu kerahasiaan,

Tuhan yang berkata.

Akulah musafir yang mencari Tuhan,

Dalam negeri batu retak,

Lalang dan api yang siap bertemu.

Suatu kisah sedih dari sandiwara yang lucu,

Dari seorang pencari rupa,

Dari rupa yang tiada lagi dikenalinya.

 

Perawan ringan, perawan riang

Berlagulah dalam kebayangan

Berupa warena

Berupa wareni,

Dan berlupalah sebentar akan kehabisan umur.

Marilah bermain.

Marilah berjalin tangan,

Jangan ingat segala yang sedih,

Biarkanlah lampu-lampu kelip

Lebih samar dari sinar surya senja.

Kita akan bermain,

Dan tidur pulas, sampai

Datang lagi godaan:

“Akulah musafir yang mencari Tuhan.”

 



Bogor, 22 Pebruari 1949

=ASRUL SANI=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar