Kamis, 09 Juli 2015

DARI DUA DUNIA BELUM SUDAH karya : Asrul Sani

 

Pagi ini aku dengar beritanya,

Aku ke jalan

Orang-orang jualan dan hendak pergi kerja menepi-nepi

Oto-oto kencang, berat dengan serdadu-serdadu dan tank-tank

                                                                  tak dapat digolakkan

Ada yang meronda, berdua-dua dan bersenjata

Di antaranya ruang lapan-lapan, tapi ada isi!

Semua beku padu:

manusia benda udara, tapi memperlihatkan harga

 

Aku pergi ke teman-teman berbicara, isi mengendap ke kelam

Berita: Jogja sudah jatuh, Maguwo…  Karno tertangkap

Hatta, Sjahrir …

….

Kami berbicara, menimbang dan melihat kemungkinan

Semua dari satu kata dan  untuk satu kata.

 

Senja itu aku pulang, sarat dengan berita dan kemungkinan.

Di rumahku aku disambut oleh keakuanku yang belum sudah:

buku yang terbuka, yang belum dibaca dan buku yang harus

aku sudahkan,

Tapi untuk ini aku sudah tinggalkan Bapa dan Abang

Dan baru pula teringat ini hari baru satu kali makan.

– yang periuknya selalu terbuka – Dan aku sudahkan

keakuanku

di dalam ruang kuburan yang digalikan oleh nyala pelita di

dalam kegelapan.

 

Tapi malam ini menghentam, sepatu lares pada dinding

kegelapan yang tebal

Dan ketika mereka telah pergi terdengar ratap perempuan,

bininya atau ibunya.

Padaku tak usah lagi diceritakan, bahwa ada yang dibawa

Aku hanya bisa menekankan kepala pada papan meja,

Buncah oleh itu kata yang belum punya bumi tapi telah mengejar

                                    pula ke dalam dunia yang belum sudah.

 




=ASRUL SANI=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar