Kamis, 09 Juli 2015

MELALUI SIANG MENEMBUS MALAM karya : Asrul Sani

 

I

 

Sebelum gadis-gadis jadi remaja,

Sebelum daun-daun akan menghijau dan bunga berwarna segar,

Di sempit pinggiran, di mana batas hanya bisa dirasakan

– dan dia tidak akan meleset, tapi harus jujur dalam pengakuan –

 

Air mata akan menakik pipi

pikiran akan membakar hati,

menjadikan diri orang kering kurus sehabis nyala.

 

Musim kemarau telah bangkitkan

dan hembuskan dan sebarkan

napas kering maut,

Kebenaran kegembiraan dalam ledakan pertama

 

Dari balik tembok-tembok sepanjang gang-gang

maut mengintai tak kunjung putus

Manusia hanyalah anak dari beberapa jam.

 

Anak Manusia yang sekarang ini hanyalah tahu cita-cita yang patah,

burung-burung yang kehabisan nyanyi.

Dan hatinya, di padang kering, batu rengkah-rengkah digersangi harapan

 

Kini dia telah pahit mulut

dadanya berayutan, berat menarik ke dalam kubur.

 

II

 

Kebenaran kegembiraan dalam ledakan pertama

Kebenaran yang diakui hati

Tapi dipatahkan pikiran, karena

dia minta jaminan bagi kehidupan seperti manusia biasa.

Pahit pertama yang menyebar dalam mulut

dan menuba dada

Pengertian inilah:

dia telah mengaburkan batas

manusia biasa dan manusia luar biasa

 

Kedua-dua adalah anak-anak manusia

Yang ditentukan oleh beberapa jam

“pada pokok mula ialah perbuatan”

 

Kebenaran yang diakui hati tapi dipatahkan pikiran

manusia luar biasa minta jaminan bagi kehidupan;

Bagi orang yang lari sebagai binatang buruan: manusia biasa

Datang melecut pada luka-luka

dia yang telah lari ke dalam gua-gua terakhir

karena dia tidak mau jadi barang sewa.

 

III

 

Demi cinta dan jujur

mari kita berterus terang

Ini hidup yang menghampar di hadapan kita

demikian indah, demikian menarik, dan penuh goda

tapi jalannya telah menuju ke ketakutan

dan setan-setan di pinggiran jalan

bersorak-sorak menganjurkan.

 

Arus yang telah diikutkan

membuat lupa dan kemegahan

membuktikan ketakutan…

 

Adakah suatu kemegahan itu bumi

Adakah suatu kemegahan itu dasar

Kemegahan yang telah dihantui oleh ketakutan dan penyesalan,

tapi tak hendak diakui?

 

IV

 

Carilah penghabisan mimpi

Carilah penghabisan nyanyi

Tapi bagaimana? Kedua-dua tidak akan habis-habis

Kedua-dua akan putus-putus

Mereka kedua memang bisa,

memang bisa, tapi bagaimana…

 

V

 

Di mana akhir daerah akan terdapat

akhir daerah, yang membuka kaki langit

Tidak cukup kesepian, tidak cukup pembuangan

tidak cukup ketahanan dan kekuatan menjejak dasar

Tidak di atas tanah bumi, tidak di atas air laut

 

Dalam ketika-antara di dalam jarak bumi dan laut

Dan hirup udara dari dua rupa.

Bumi yang punya rupa dan nama

menguapkan awan sakal dan …

 

Di perhentian lanjut

Menyadari tempat dan ketika

Kemenangan dan kekalahan

Membuat pengakuan lalu pulang ke garis jalan,

Tujuan yang dimulai bersumber hati

 

VI

 

Di daerah tuju yang membuka kaki langit

di daerah yang setiap waktu dimandi hujan,

Biar di waktu siang atau di waktu malam.

Cari waktu yang tepat

Cari tempat yang wajar, dan ingat

Tidak ada waktu dan tempat bagi dia yang dilahirkan cahaya

dan hilang ditertawakan cahaya.

 

Dia yang dilahirkan di tengah malam terbongkar

dengan hutan rimba yang satu waktu patah-patah

dan lain waktu jadi padang kering

Dia akan hidup menuju pantai dan jadi penguasa

Karena dia percaya:

Inilah bumi, air , dan udara

Di atas mana, di dalam mana, dan di antara mana

Anak Manusia harus hidup.

 

Dia perhitungkan segala hidup

Dia buat perhitungan di tiap mati

Dia hanya menggenggam nilai

Laut kekalan yang tak kenal batas,

di atas mana kapal, hidup berlayar

 

Dia telah mandikan dirinya di dalam

biru, kejujuran laut dengan badai dan kaca

mata sumber segala yang hidup

kepundan yang memancarkan segala tenaga

Dan gadis dengan keindahan penuh sehabis badai,

Akan keluar dari laut yang biru bening.




=ASRUL SANI=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar