Sabtu, 19 September 2015

KAU HARUS DENGARKAN AKU karya : Pablo Neruda

Aku bernyanyi mengembara
di antara batang-batang anggur
Eropa
dan dalam angin,
angin Asia.

Yang terbaik dari sepanjang usia manusia
dan dari kehidupan,
dari kehalusan bumi,
dan damai sejati
kuhimpun darma perantauan hidupku.

Yang terbaik dari bumi yang satu
dan dari bumi yang lain
kupakukan pada bibirku
dengan laguku:
kebebasan angin,
kedamaian di taman anggur.

Kadang-kadang manusia seperti
bermusuh-musuhan
tetapi malam itu selubung
bagi semua
dan cahaya raja
menggugah kita;
cahaya dunia.

Dan ketika sampai aku di rumah-rumah
duduk mereka sekitar meja
kembali mereka dari kerja
dengan tangis atau tawa.

Semua sama.

Sekalian mata mencari
jalan cahaya.

Sekalian mulut menyanyi
lagu musim semi.

Semua.
Maka itu aku
di antara batang-batang anggur
dan dalam angin
memilih
yang terbaik pada manusia.

Dan kau harus dengarkan aku.


------------------------------------------------------------------


Dari Dua puluh Puisi Cinta dan Kidung Putus Asa 

"Puisi XIV: Setiap Hari Engkau Bermain" 

Dari hari ke hari engkau bermain dengan cahaya alam raya.
Tamu yang tersembunyi, engkau datang di dalam bunga dan air.
Engkau lebih dari sekedar kepala putih yang kupegang erat
seolah setangkai buah lebat, setiap hari, di antara kedua tanganku.

Tiadalah berbanding engkau sebab aku mencintaimu.
Ijinkan kurebahkan engkau di antara semalai bebunga kuning.
Siapa menuliskan namamu dengan huruf asap di antara bebintang selatan?
Oh ijinkan aku mengenangmu sebagaimana adamu sebelum engkau ada.

Tiba-tiba angin melolong dan menggedor jendelaku yang terkatup.
Langit tak lain sebentang jala penuh ikan serupa segala yang redup.
Di sini semua angin melepaskan pegangannya.
Hingga akhirnya hujan pun bergegas melepaskan gaunnya

Burung-burung melintas pergi, melarikan diri.
Angin. Angin.
Aku hanya mampu bersaing dengan kekuasaan lelaki.
Topan mengaduk dedaun hitam
dan melepas ke angkasa semua perahu yang tertambat tadi malam

Engkau hadir di sini. Oh, tak pula engkau melarikan diri.
Engkau akan menjawabku hingga isak terakhir.
Seolah ketakutan engkau pun memelukku.
Meski bayangan aneh pernah juga terbersit di matamu.

Sekarang, sekarang juga, mungilku, engkau membawakan bunga madu,
dan bahkan putingmu mewangi olehnya.
Sementara angin yang sedih membunuhi kupu-kupu.
Aku mencintaimu, dan kebahagiaanku adalah menggigit buah prem bibirmu.

Terbayang engkau telah menderita demi menjadi terbiasa denganku,
jiwaku yang liar, dan soliter, namaku membikin orang lain menghindar.
Begitu sering kita saksikan bintang fajar terbakar, menciumi mata kita,
dan di atas kepala kita cahaya kelabu terurai menjelma kipas berputar.

Kata-kataku menghujani dirimu, membelaimu.
Begini lama kucintai kilau mutiara tubuhmu yang terpapar matahari
Dalam benakku engkau tiada lain alam raya
Akan kubawakan engkau bebunga bahagia dari gunung, bunga loceng biru,
Hazel yang gelap, dan keranjang-keranjang sederhana penuh ciuman.
Kini, aku ingin melakukan
bersamamu segala yang dilakukan musim semi terhadap bunga ceri.





=PABLO NERUDA=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar