sisa panas siang naik dari ladang
angin darat menating dan menebar
di atas deru ombak dan lenguh lumba-lumba
tanpa atap. tanpa dinding. di tengah
instalasi reruntuk bombardir dini hari
adzan shubuh bagai jamaah yang tersesat
tersaruk mencari ceruk. sisa mihrab buat
mengeluh. ”berapa kilo lagi,” katanya,
”berapa hari lagi untuk tiba di jerusalem …?”
kami tak punya apa-apa. hanya amarah
yang dihidangkan dengan tangan kosong
yang akan dihidangkan dengan tangan kosong
=BENI SETIA=
Sumber: Koran Tempo, Minggu, 01 Juni 2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar