di antara punya uang dan punya
utang terhampar padang impian:
pengharapan empat varian angka
dari empat belas kali pacuan kuda
menjelang subuh terbayang
di kabut pagi, tengah hari
terpampang: ”yang sejati itu dari gua,
pohon krowak atau pelupuk mimpi?”
”mana yang mungkin?” katamu. primbon
dan empat belas tafsir impen menyatakan:
mesjid itu pertanda kemakmuran. aula bagi
jama’ah yang senantiasa kenyang sendawa
petang hari aku melihat kamu pasang
jerat di cabang lurus pohon durian,
di surut matahari kamu menenggak portas
: menantang kereta tanpa talqin dan takbir
[katamu, ”sajak ini ditulis saat utang menggila
dan di luar: debt collector geram menunggu”]
1988/2008
=BENI SETIA=
Tidak ada komentar:
Posting Komentar