Senin, 03 Agustus 2015

BALLADA SUMILAH karya : W. S. Rendra

Tubuhnya lilin tersimpan di keranda 

tapi halusnya putih pergi kembara.

 

Datang yang berkabar bau kemboja 

dari sepotong bumi keramat di bukit 

makan dari bau kemenyan.

 

Sumilah!

Rintihnva tersebar selebar tujuh desa 

dan di ujung setiap rintih diserunya 

- Samijo! Samijo!

 

Bulan akan berkerut wajahnva

dan angin takut nyuruki atap jerami

seluruh kandungan malam pada tahu

roh Surnilah meratap dikungkung rindunya

pada roh Samijo kekasih dengan belati pada mata.

 

Dan sepanjang malam terurai riwayat duka 

begini mulanya:

Bila pucuk bambu ngusapi wajah bulan

ternak rebah dan bunda-bunda nepuki paha anaknya

dengan kembang-kembang api jatuh peluru meriam pertama 

malam muntahkan serdadu Belanda dari Utara.

 

Tumpah darah lelaki

o kuntum-kuntum delima ditebas belati 

dan para pemuda beribukan hutan jati 

tertinggal gadis terbawa hijaunya warna sepi.

 

Demi hati berumahkan tanah ibu

dan pancuran tempat bercinta

Samijo berperang dan mewarnai malam 

dengan kuntum-kuntum darah

perhitungan dimulai pada mesiu dan kelewang.

 

Terkunci pintu jendela

gadis-gadis tertinggal menaikkan kain dada 

ngeri mengepung hidup hari-hari

 

Segala perang adalah keturunan dendam

sumber air pancar yang merah 

bebunga berwarna nafsu

dinginnya angin pucuk pelor, dinginnya mata baja 

reruntuklah sernua merunduk 

bahasa dan kata adalah batu yang dungu.

 

Maka satu demi satu meringkas rumah-rumah jadi abu 

dan perawan-perawan menangisi malamnya tak ternilai 

kerna musuh tahu benar arti darah 

memberi minum dari sumber tumpah ruah

nyawanya kijang diburu terengah-engah.

 

Waktu siang mentari menyadap peluh

dengan bongkok berjalan nenek suci Hassan Ali 

di satu semak menggumpal daging perawan 

maka diserunya bersama derasnya darah: 

- Siapa kamu?

- Daku Sumilah daku mendukung duka!

Belanda berbulu itu membongkar pintu

dikejar daku putar-putar sumur tapi kukibas dia. 

- Duhai diperkosanva dikau anak perawan!

- Belum lagi! Demi air daraku merah: belum lagi! 

Takutku punya dorongan tak tersangka 

tersungkur ia bersama nafsunya ke sumur. 

- O tersobek kulitmu lembut berbungakan darah 

koyak-moyak bajumu muntahkan dadamu 

lenyaplah segala kerna tiada lagi kau punya

bunga yang terputih dengan kelopak-kelopak sutra, 

- Belum lagi! Demi air daraku merah: belum lagi!

 

Demi berita noda teramat cepat karena angin sendiri 

di mulut tujuh desa terucap Sumilah dan nodanya.

 

Dan demi berita noda teramat cepat kerna angin sendiri 

noda Sumilah terpahat juga di hutan-hutan jati 

lelaki-lelaki letakkan bedil kelewang mengenangnya 

dan Samijo kerahkan segenap butir darah 

lebih setan daripada segala kerbau jantan.

 

Bila dukana terkaca pada bulan keramik putih 

antara bebatang jati dengan rambut tergerai 

Sumilah yang malang mendamba Samijonya

menyuruk musang, burung gantil nyanyikan ballada hitam.

 

Satu tokoh menonggak di tempat luang

dan berseru dengan nada api nyala: 

- Berhenti! Sebut namamu!

 

Terhenti Sumilah serahkan diri ke batang rebah: 

- Suaramu berkabar kau Samijo, Samijoku. 

Daku Sumilah yang malang, Sumilahmu. 

- Tiada lagi kupunya Sumilah. Sumilahku mati! 

- Belum lagi, Samijo! Aku masih dara!

 

Bulan keramik putih tanpa darah

warna jingga adalah mata Samijo 

menatap ia dan menatap amat tajamnya.

 

- Padamkan jingga apimu. Padamkan! 

Demi selaput sutraku lembut: belum lagi!

 

Bulan keramik putih bagai pisau cukur 

sayati awan dan malam yang selalu meratap 

Samijo menatap dan menatap amat tajamnya.

 

- Samijo, ambil tetesan darahku pertama

akan terkecap daraku putih, daramu seorang 

Batang demi batang adalah balutan kesepian 

malam mengempa segala terperah sendat napas 

Samijo menatap dan menatap amat tajamnya.

 

- Samijo, hentikan penikaman pisau pandang matamu

kaubantai daku bagai najis, mengorek dena yang tiada. 

Padamlah padam kemilau yang menuntut dari dendam.

 

Wama pandangnya seolah ungkapan kutuk berkata: 

- Jadilah perempuan mandul kerna busuk rahimmu, 

jadilah jalang yang ngembara dari hampa ke dosa 

aku kutuki kau demi kata putus nenek moyang!

 

Tanpa omong dilepas tikaman pandang penghabisan 

lalu berpaling ia menghambur ke jantung hutan jati 

tertinggal Sumilah digayuti koyak-moyaknya.

 

Sedihlah yang bercinta kerna pisah

lebih sedihlah bila noda terbujur antaranya 

dan segalanya itu tak 'kan padam.

 

Kokok avam jantan esoknya bukanlah tanda menang 

adalah ratap yang juga terbawa oleh kutilang 

karena warga desa jumpai mayat Samijo

nemani guguran talok depan tangsi Belanda.

 

Merataplah semua meratap

kerna yang mati menggenggam dendam

di katup rahang adalah kenekatan linglung tersia.

 

Kerna dendamnya siksa airmatanya terus kembara 

menatap kehadiran Sumilah, dinginnya tanpa percaya

dan Sumilah jadi gila terkempa dada oleh siksa 

gadis begitu putih jumpai ajalnya di palung sungai.

 

Sumilah! Sumilah!

Tubuhnya lilin tersimpan di keranda 

tapi halusnya putih pergi kembara 

rintihnya tersebar selebar tujuh desa 

dan di ujung setiap rintih diserunya: 

- Samijo! Samijo!

Matamu tuan begitu dingin dan kejam 

pisau baja yang mengorek noda dari dada 

dari tapak tanganmu angin napas neraka 

mendera hatiku berguling lepas dari rongga 

bulan jingga, telaga kepundan jingga 

ranting-ranting pokok ara 

terbencana darahku segala jingga 

Hentikan, Samijo! Hentikan, ya Tuan!

 




=W. S. RENDRA=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar