Hujan datang,
daun-daun trembesi melayang.
Hujan datang,
membasuh jiwaku telanjang.
Orang-orang tua,
menjaring jejak-jejak masa muda.
Wajah merayap tegang,
hati gatal oleh buluh ilalang.
Hari itu,
aku lihat wajahmu
muncul dari balik asap tembakau.
Perlahan menjauh dan menjauh,
mengabur lalu jauh,
melesap,
meruap lenyap.
Njelma gagak hitam,
meloncat ke dalam kereta senja,
menempuh Solo ketika malam.
Dan aku memandang saja.
Hanya memandang saja
Duhai,
tak tahukah kamu,
suara kesedihan hatiku
adalah suara serangga ketika malam tiba?
Aku ngumpet di Yogyakarta
berusaha melupakanmu.
Namun terus saja wajahmu
memburu dan memburu.
Kupacu tuju,
dalam aral waktu,
melimpah dosa dalam saku,
namun begitu mudah terpikat
dalam satu pertemuan singkat.
Hujan datang
wajahmu dan wajahku melayang.
Hujan datang,
sukmamu dan sukmaku telanjang,
lenyap dalam udara fana
Salemba Tengah, Januari 2006
=DEDISYAH=
Tidak ada komentar:
Posting Komentar