Kamis, 20 Agustus 2015

EMPAT BURUNG DALAM DONGENG TIDURMU karya : Komang Ira Puspitaningsih

(1)

Malaikat tersedu

Tiga pendeta sangsi

Berulang menimbang

mawas diri

:adakah kematian

jadi jalan paling suci

meski dosa tak pernah luput

menghampiri diri?

 

Ini harus dilalui

Bukankah tiap kematian

memikul satu kelahiran baru

 

(2)

Kota makin bising

Bukan karena ringkik kuda

Atau rintih sapi

penarik pedati

 

Aku terbangun dalam keramaian

Yang enggan memaknai hari

Dengan menghirup dalam-dalam napas

Kota pun menangisi kematiannya

Tentang musim yang tak pernah jelas

nampak

 

Tulisan-tulisan tak terbaca

Banyak cerita tak diceritakan

Raib di tangan para rahib

Seolah disucikan

Dipenggal arus

waktu ke waktu

Menghanyutkan kata

hingga kuburnya

 

Ladang adalah tempat istirah

Menjelma makam

Penghabisan nama-nama

di hari yang murung

: akankah peri-peri

memberi sihir

yang membuat tanah

jadi hijau?

 

Lalu kembalilah padaku

dari hidup yang teraniaya

Saat bulan gemetar di kejauhan

Setiap cerita

menjelma pulau-pulau kecil

dan laut yang mengitarinya

 

(3)

Langit jernih

Bidadari pagi sibuk

Membunuh satu demi satu bintang

dan kilau murungnya

 

Detik-detik bertalu

diburu biru waktu

Orang-orang menabuh sunyi

 

Lalu pergilah mereka

Empat burung dengan

empat benih padi berwarna

 

(4)

Aturan-aturan tak mesti dipatuhi

Badai mengubahnya lebih indah

dari segala arah angin

Memukul-mukul bebatuan

Dengan tangannya

yang bernama ketiadaan

 

Retaklah batu,

Seperti bulat mata mereka yang pucat

 

Terbanglah kalian

Dara, Kuteh dan Titiran

Terbang jauh dalam mimpi

Sebelum mimpi buruk mengejar

 

Kita yang berpulang

Menjelang malam

Membawa keluh yang selalu sama

 – tentang puisi –

 

Gelegak rindu ingatan

pada lahir kata

Hijau rahim kata-kata

 

(5)

Inilah kami, Dewi

Tiga burung, dan

tiga benih padi berwarna

 

Matahari langsat dengan ronanya

Mungkin tubuh jadi gumpal getir

Dan amis kental darah

meruah

Menggembur tanah

 

Sembunyikan kami

Lewat benih-benih ini, Dewi

Dengan sihir di keempat tanganmu

Biar tualang usai tanpa rupa

 

(6)

Aku gelisah

Dengan tinta yang makin beku

Menuliskan sekian perjalanan

Entah untuk kali yang keberapa

 

Hidup cuma hitam-putih

Kita, bidak-bidak catur

Tercenung

Memikirkan jalan nasib

sendiri-sendiri

 

Lalu padamkan doa

dan ayat-ayat suci

(meski tak selalu sia-sia)

 

Tuhan yang kosong

: adakah Ia

semesta yang selalu hampa?




Jogja, 2007

=KOMANG IRA PUSPITANINGSIH=

Puisi ini terinspirasi kisah dari Bali berjudul “Empat Burung Pembawa Empat Bijih Padi Berwarna”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar