I
Cemasku terbit sudah
Ketika kugiring waktu terakhir
sebelum pasir menjeritkan
tangismu yang pertama
(Kecemasan ibu
Yang tak dapat kau lihat
di wajah perempuan mana pun)
Aku terdiam
Memandang hampa semesta
dan jagat raya
Karena keheningan
– aku percaya –
adalah teman paling kekal
Ombak yang tenang
adalah pertemuan dingin
di batas nasib
Perjumpaan akrab pesisir
yang dibelai lembut buih
dan tiupan angin
Pergulatan yang menyimpan guruh
Antara pusaran air di dasar laut
dengan pijakan bumi
Saling tahan, saling gerus
Saling beradu kesunyian
II
Aku bumi
tak pernah miskin gelisah
Kau langit
tak juga padamkan gundah
Kita sama-sama ringsut
mengadu hidup
dengan patahan kata
Segalanya tak bersuara
(kecuali alam yang terus bekerja)
Napas sendiri terdengar
serupa sengal anjing yang meronta
dalam ikatan
Degup yang hidup di dada
seolah karang
retak dilebur gelombang
sepanjang malam
Lalu lewat udara kita menanya makna
Lewat udara kita susun dongeng
tentang putri kecil
Yang akan dimimpikan anak-anak kecil
di setiap dengkurnya
Dan ranggasan daun-daun kering
di musim hujan
Dengan sendirinya
Menggenapi kisah panjang
yang sesat di lautan
Sepanjang umur
Laut tak pernah sempurna, sayangku
Laut yang jernih
tempat kita akan berpulang
III
Om, sembah ing anatha tinghalana de tri loka sarana
wahyadhyatmika sembahinghulun i jong tan hana waneh
sang lwir agni sakeng tahen kadi minak sakeng dadi kita
sang saksat metu yan hana wwang amuter tutur pinahayu
Takdir tergurat, anakku
Dengan saudara tuamu, sang ari-ari
Kubeli bubur merah putih,
empuk-empuk, pisang saba
sunggar dan sebuah tabung bambu
yang berisi air,
juga sebilah sisir
Lalu karena kasih
Kuserahkan ikhlas
Sekecup hidupku,
hidupmu
pada Hyang Agung
dan Dewa Dewi
Ini yajna yang tak terganti sepanjang umur
di sisa hari yang murung
Meski tanganku tak bisa mengusap kulitmu
Air susu tak akan tumpah
memerahkan wajah
atau ngalir memasuki jantungmu
Dan mulut tak sempat melantun tembang pucung
juga pesan hidup yang tersirat di kidung suci
untuk pengantar tidurmu
IV
Pantai yang keruh
pasir yang lusuh
Kaukah pilu yang menjelma suratan buruk
Aku datang dengan beribu kelu
Sari Gading namaku
Perempuan yang lahir sebagai kurban
dan menjelma pohon gebang
yang setia mencumbu bumi
Persembahan bagi kau nelayan, sepertimu
Lalu sempurnalah hidupmu
Lanjutkan kembaramu
lewat sepenggal kisah bagi ritus laut
Dengan peninggalanku
(Wasiat tanda sujud pada ayah ibu
yang membuatku mencium aroma pantai)
Angkat sauh, layarkan perahu
Haturkan sesaji, dan lafalkan mantra
Biar jiwaku menyambangi kalian
Lewat sebilah harap – meski pengap –
Yogya, 2007
=KOMANG IRA PUSPITANINGSIH=
Puisi ini terinspirasi cerita dari Bali berjudul “Sari Gading”
Catatan:
1. Yajna (baca: yadnya, bhs sanskerta): persembahan, kurban
2. Adalah sebuah kidung yang termuat dalam Kekawin Arjunawiwaha, artinya
Om, sembah hamba yang hina semoga dilihat oleh Beliau yang menguasai tiga dunia
Lahir bathin sembah hamba ke hadapan kakiMu tiada lain
Bagaikan api di dalam kayu, bagaikan minyak di dalam santan
Yang akan nyata tampak bila ada orang yang membawa pikiran/pengetahun ke jalan yang benar
3. Pucung: adalah salah satu jenis tembang di Bali dengan gu laghu 4u – 8u – 6a – 8i – 4u - 8a
Tidak ada komentar:
Posting Komentar