Kamis, 20 Agustus 2015

SARI GADING, YAJNA SEPASANG NELAYAN karya : Komang Ira Puspitaningsih

I

Cemasku terbit sudah

Ketika kugiring waktu terakhir

sebelum pasir menjeritkan

tangismu yang pertama

(Kecemasan ibu

Yang tak dapat kau lihat

di wajah perempuan mana pun)

 

Aku terdiam

Memandang hampa semesta

dan jagat raya

Karena keheningan

– aku percaya –

adalah teman paling kekal

Ombak yang tenang

adalah pertemuan dingin

di batas nasib

Perjumpaan akrab pesisir

yang dibelai lembut buih

dan tiupan angin

Pergulatan yang menyimpan guruh

Antara pusaran air di dasar laut

dengan pijakan bumi

Saling tahan, saling gerus

Saling beradu kesunyian

 

II

Aku bumi

tak pernah miskin gelisah

Kau langit

tak juga padamkan gundah

Kita sama-sama ringsut

mengadu hidup

dengan patahan kata

 

Segalanya tak bersuara

(kecuali alam yang terus bekerja)

 

Napas sendiri terdengar

serupa sengal anjing yang meronta

dalam ikatan

Degup yang hidup di dada

seolah karang

retak dilebur gelombang

sepanjang malam

 

Lalu lewat udara kita menanya makna

Lewat udara kita susun dongeng

tentang putri kecil

Yang akan dimimpikan anak-anak kecil

di setiap dengkurnya

Dan ranggasan daun-daun kering

di musim hujan

Dengan sendirinya

Menggenapi kisah panjang

yang sesat di lautan

 

Sepanjang umur

Laut tak pernah sempurna, sayangku

Laut yang jernih

tempat kita akan berpulang

 

III

Om, sembah ing anatha tinghalana de tri loka sarana

wahyadhyatmika sembahinghulun i jong tan hana waneh

sang lwir agni sakeng tahen kadi minak sakeng dadi kita

sang saksat metu yan hana wwang amuter tutur pinahayu

 

Takdir tergurat, anakku

Dengan saudara tuamu, sang ari-ari

Kubeli bubur merah putih,

empuk-empuk, pisang saba

sunggar dan sebuah tabung bambu

yang berisi air,

juga sebilah sisir

 

Lalu karena kasih

Kuserahkan ikhlas

Sekecup hidupku,

hidupmu

pada Hyang Agung

dan Dewa Dewi

 

Ini yajna yang tak terganti sepanjang umur

di sisa hari yang murung

Meski tanganku tak bisa mengusap kulitmu

Air susu tak akan tumpah

memerahkan wajah

atau ngalir memasuki jantungmu

Dan mulut tak sempat melantun tembang pucung

juga pesan hidup yang tersirat di kidung suci

untuk pengantar tidurmu

 

IV

Pantai yang keruh

pasir yang lusuh

Kaukah pilu yang menjelma suratan buruk

Aku datang dengan beribu kelu

 

Sari Gading namaku

Perempuan yang lahir sebagai kurban

dan menjelma pohon gebang

yang setia mencumbu bumi

Persembahan bagi kau nelayan, sepertimu

 

Lalu sempurnalah hidupmu

Lanjutkan kembaramu

lewat sepenggal kisah bagi ritus laut

Dengan peninggalanku

(Wasiat tanda sujud pada ayah ibu

yang membuatku mencium aroma pantai)

 

Angkat sauh, layarkan perahu

Haturkan sesaji, dan lafalkan mantra

Biar jiwaku menyambangi kalian

Lewat sebilah harap – meski pengap –




Yogya, 2007

=KOMANG IRA PUSPITANINGSIH=

Puisi ini terinspirasi cerita dari Bali berjudul “Sari Gading”

Catatan:

1.     Yajna (baca: yadnya, bhs sanskerta): persembahan, kurban

2.     Adalah sebuah kidung yang termuat dalam Kekawin Arjunawiwaha, artinya

Om, sembah hamba yang hina semoga dilihat oleh Beliau yang menguasai tiga dunia

Lahir bathin sembah hamba ke hadapan kakiMu tiada lain

Bagaikan api di dalam kayu, bagaikan minyak di dalam santan

Yang akan nyata tampak bila ada orang yang membawa pikiran/pengetahun ke jalan yang benar

3.     Pucung: adalah salah satu jenis tembang di Bali dengan gu laghu 4u – 8u – 6a – 8i – 4u - 8a

Tidak ada komentar:

Posting Komentar