Catatan sepintas buat Emha dan Linus
Lorong-lorong jalan kotamu gemerlap
Malam-malam gagal menitip gelap senyap
di trotowar, emperan toko
Aku bersama Bambang Widiatmoko
melepas kangen di lahan lesehan
selama ini tergadai sang waktu
Sejak senja kita memecah tabung sunyi
Senda gurau, tawa bahak kita
terkadang terhenti getaran tali guitar pengamen
yang membalut nasib terluka
dalam dandanan jaman berlari
Di samping kiri kita ada perempuan mata seribu
menawarkan betinanya yang terkoyak
pada siapa haus birahi malam gerah
Di sebelah kanan kita ada pemuda-pemuda
menggelar diskusi seputar radius pers
Mencakar-cakar pengendali negeri berlidah ganda
Memaki-maki demonstran asing merobek panji jati diri
Ah, belakang depan kita gedung-gedung menghadang
Kita takut melangkah diterkam rahang gurita
Malam ini batuk dan kantuk sirna
Bulan sepotong itu
betapa arif bijaksana
membagi rata cahaya emas
bagi pepohonan rindang perkasa
buat jemari rerumputan yang kerdil kaku
Kita bergegas menatap langit hitam pekat
tiba-tiba dingin mengigit
Kita pun gemetar
merebut mimpi yang buyar
(Yogyakarta, Agustus 1995 / Dari Negeri Poci 3, 1996)
=DINULLAH RAYES=
Tidak ada komentar:
Posting Komentar