Minggu, 16 Agustus 2015

RUMAH karya : Darmanto Jatman

Sang Guru Laki kepada Rabinya:

Rumah itu Omah

Omah itu dari Om dan Mah,

Om artinya O, maknanya langitnya, maksudnya ruang,

bersifat jantan

Mah artinya menghadap ke atas, maknanya bumi, maksudnya

tanah, bersifat betina

Jadi rumah adalah ruang pertemuan laki dan rabinya

Karenanya kupanggil kau Semah, karena kita serumah

Sapulah pekarangan rumah kita bersih cemerlang

Supaya bocah-bocah dolan pada kerasan

memanggil-manggil bulan dalam tetembangan:

--    Mumpung gede rembulane

      Mumpung jembar kalangane

      Suraka surak: Horee!

Na Na Na

Di kiri dan di kanan rumah ada pekarangan

Di mana biasa orang menanam empon-empon

Jahe untuk menghangatkan tubuh kalau lagi selesma

Kencur untuk ngompres kalau lagi babak belur

Kunir supaya anak yang dikandung nanti kuning lencir

Lha di pojok kanan pekarangan ada sumur

Perlu untuk membersihkan kaki kita sebelum masuk rumah

Pertanda kita selalu resik dan anteban

Tak ketempelan demit jin setan periyangan

Nah

Inilah pendapa rumah kita

Mandala dengan empat saka guru dan delapan tiang penjuru

Di atas pintu tertulis rajah:

Ya maraja Jaramaya

Yang maksudnya: Hai kau yang berencana jahat,

berhentilah berencana!

Di sinilah kita akan menerima tamu-tamu kita

Sanak kadang, tangga teparo

Yang nggaduh sawah, ladang atau raja kaya kita

Merembug sesuatu yang perlu untuk kesejahteraan bersama

Sementara di belakang pendapa ada pringgitan

di mana kelak kau bisa duduk bersila bersama anak-anak

Menyaksikan Ki Dalang Karungrungan

Menghidupkan ringgit wayang di tangannya

Medar kebijaksanaan Sastra Jendra

Lewat tutur, suluk dan tembang

Ah Ah Ah

Rumah kita bisa bak istana Junggringsalaka

Bila gamelan dimainkan

Dan waranggana nembang sahut-sahutan

Sementara digandok sebelah

Para batih serumah

Biasa silih asah, silih asih, silih asuh

Dan menyerahkan kepercayaannya dalam rumeksa kita

Somahku

Di belakang pringgitan itulah sentong

Di mana pusaka nenek moyang kita memancarkan pamornya

Keris Luk Pitu, tombak Kyai Tancep serta payung

Ra Kodanan

menjaga kita dari segala malapetaka

Di sinilah kita samadi, merukunkan diri dengan Allah

Membebaskan diri dari keterikatan duniawi

Lega, lila, legawa

Menerima nasib kita

Sebelum kupadukan tubuhku dengan tubuhmu

Sambil kutanamkan benihku

Dengan greget dan sengguh yang tak kenal mingkuh

(Kelak, memang ada baiknya kalau kita naikkan

Begawan Ciptoning, sunggingan empu Kasman

Di atas slintru sentong kita

Supaya mereka pun paham

Terkadang aku jadi Mintaraga

Terkadang pula jadi Arjuna Wiwaha

Dan kau jadi Batari Supraba)

Nah. Di muka gandok itulah sepen kita

Dengan tanda rajah:

Ya silapa palasiya

Yang maksudnya: Hai kau yang memberi lapar, berilah

kekenyangan!

Di atasnya Dewi Sri,

Di depan pintu Cingkarbala dan Balaupata

Menjaga sepen kita agar tetap sepi dari hama

Menjaga rezeki kita dari para durjana

Merekalah yang akan membuka pintu sepen kita

Bagi para papa yang membutuhkan bantuan kita

Dan akhirnya

Di sanalah garase untuk kerbau dan sapi kita!

Somahku.

Di bawah atap inilah kuserahkan sapu rumah ke tanganmu

Supaya kaupelihara rumah kita dengan premati

Jadikanlah ia kolam bagi ikan-ikan

Jadikanlah ia sawah bagi padi-padian

Jadikanlah ini rumah karena di sinilah kasih bertempat

tinggal

Buatlah slametan

Dengan gunungan nasi kuning di tambir

Iwak ingkung, beserta uba rampenya

            Setikang setikung

            Gedungku watu gunung

            Siapa mengharu biru milikku

            Jadilah mangsa Kalabendu

            Hu!

 

--------- 

Rabi Sang Laki:

Katakanlah, wahai katakanlah

Di mana angin bersarang,

Gelombang tidur

Awan melepaskan penatnya

Dan hari merebahkan diri

Katakan o katakanlah Guru Lakiku

Di mana orang-orang papa

Bakal kautempatkan dalam rumah kita?!




=DARMANTO JATMAN=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar