Sabtu, 15 Agustus 2015

SEKARANG BAHWA AKU MERASA TUA karya : Darmanto Jatman

Know the limitation

Suffered thou not!

 

Sekarang bahwa aku merasa tua

Memandang pohon-pohon berdaunan

Kenapa aku mesti bertanya:

Sudahkah tiba saatnya

Belalang menetas dari telurnya

Kupu terbang meninggalkan kepompongnya?

Memandang kupu beterbangan

Belalang berloncatan

Kenapa mesti aku bertanya:

Bukankah akan tiba saatnya

Belalang terbang

Kupu berloncatan?!

 

Sekarang bahwa aku merasa tua

Nyinyir aku bertanya-tanya

Kenapa anak-anakku mesti menjadi tua

Dan suatu hari juga nyinyir bertanya-tanya:

Kramaleya jadi admiral

Kenapa bukan Blakasuta

--    Kromo belang hidungnya

      Waktu kecil ditanduk domba

--    Bloko minggat waktu kecilnya

      Ngomong benci sama bapaknya

--    Leyo nggembala di gunung kapur

--    Suto nanem padi di sawah lumpur

 

Ah. Ah. Ah

Sekarang bahwa aku merasa tua

Tak bisa lagi kubayangkan tingkah si Blakaleya

Pergi ke kota

Sekolah Belanda

Nghamili Bawuk

Tapi nikahi Pinten

Hmm

Sekarang bahwa aku merasa tua

Bukankah tak layak aku bertanya-tanya?!

Tapi nalar bedebah ini

Borok bagi baksil-baksil busuk

Bisakah ia berkawan dengan api

Yang membakar padi dan domba?

--    Tentu saja kita tak bisa hindari mati, katamu

      Tapi bukankah ada cara mati yang mulia? katamu pula

 

Sekarang bahwa aku merasa tua

Gemetar tanganku nyentuh bibirmu

Istri yang tua

Bijak dan setia

Taka ada lagi asmara untuk kita bagi berdua

Hanya tinggal angan-angan

Menetes pada kedua telapak tangan kita.

 

Ah. Ah. Ah

Sekarang bahwa aku merasa tua

Aku tahu ada limit waktu bagi kita

Ada batas kalori jatah kita

Yang habis kita bakar sia-sia

Waktu kau purik

Dan aku berjina

 

Sebab bukankah bunga-bunga tulip yang mekar di luar

Tak bermaksud menyuramkan hyacinth yang kupelihara di kamar?

--    Tapi kenapa mesti tanganku gemetar

      Ngusap wajahku yang makin tua

      Yang sungguh mati bukan urusanku?!

 

Dan sekarang bahwa aku merasa tua

Kenapa terus juga aku nyinyir bertanya-tanya

Sementara jawabnya dulu telah lama kauberikan

Waktu kau bersimpuh di kakiku

Yang lumpuh oleh beribu perkara

--    Ya. Ya. Kita pernah muda.

 

Ah. Ah. Ah

Sekarang bahwa aku merasa tua

Tertatih –tatih aku

Bahkan tak bisa menyuapkan nasi ke mulutku

Baru aku tahu

Bahwa aku hanya telah hidup karena kebaikanmu!

Karena tubuhmu, sawah yang siap dicangkul

Dan bukan karena lengan-lenganku yang perkasa

Karena hatimu, buah yang siap dipetik

Dan bukan karena nalarku yang cerdik

 

Dan aku

Sang admiral

 

                        Karmaleya

 

Bersimpuh di kakimu

 

                        Blakasuta

 

Istriku.

 

JENG

Jeng,

 

hari ini sudah lebih dua puluh tahun aku menulis sajak

sejak aku menulis Perahu Layar di Remaja Nasional

Yogya, 28 Juli 1959:

 

Kembang layar, kembang

sibak air, ukir wajah laut

kembang layar, kembang

tabur angin, renangi langit

 

pada nelayan aku berteriak lantang:

ai abang, abang

pasang layar abang, pasang layar!

lalu hati meronta berdoa kepada Tuhan:

O Tuhan, bawalah manusia ini ke padang juang

bawalah manusia ini ke tempat taburan ikan

biar hati beriak menyusuri kehidupan.

 

lalu dengan alum aku pun menembang:

kembang layar, kembang

laju ke ujung bumi, batas langit dan laut.

 

Jeng,

 

hari ini kukumpulkan sajak-sajakku tahun 1979/1980

lalu kuberi nama “karto iya bilang boten”.

 

hari ini kembali kutanyakan padamu

sudahkah kukatakan apa yang seharusnya kukatakan?!




=DARMANTO JATMAN=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar