Minggu, 20 September 2015

LORONG karya : Soni Farid Maulana

aku bercakap dengan bayang-bayang wayang

serupa amba. Tabuhan gamelan serupa risik angin

di tangkai pohonan. Suara-suara serangga malam

terdengar juga dari arah samping halaman rumahmu

 

yang kelam oleh kabut dukacita. Lalu kata-kata

menyusun dirinya dalam larik-larik puisi orang sufi

yang dari lembah ke lembah kehidupan tiada lelah

mencari kekasih idaman. Di cermin, rambutku

 

putih sudah. Malam kelam di buritan, dan kau

serupa amis gula, cintaku, terpisah dari sepah tebu

di lidahku. Dan kini segala yang aku teguk tawar

 

sudah. "Mengapa semua ini harus terjadi, selagi

segalanya belum genap melunas rindu?" tanya

tanpa jawab. Menggema di lorong jiwaku



 

2008

=SONI FARID MAULANA=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar