aku bercakap dengan bayang-bayang wayang
serupa amba. Tabuhan gamelan serupa risik angin
di tangkai pohonan. Suara-suara serangga malam
terdengar juga dari arah samping halaman rumahmu
yang kelam oleh kabut dukacita. Lalu kata-kata
menyusun dirinya dalam larik-larik puisi orang sufi
yang dari lembah ke lembah kehidupan tiada lelah
mencari kekasih idaman. Di cermin, rambutku
putih sudah. Malam kelam di buritan, dan kau
serupa amis gula, cintaku, terpisah dari sepah tebu
di lidahku. Dan kini segala yang aku teguk tawar
sudah. "Mengapa semua ini harus terjadi, selagi
segalanya belum genap melunas rindu?" tanya
tanpa jawab. Menggema di lorong jiwaku
2008
=SONI FARID MAULANA=
Tidak ada komentar:
Posting Komentar