- untukAjip Rosidi
malam belum begitu gelap
ketika anjing melolong panjang
di bawah remang cahaya bulan
"ternyata hidup butuh agama!"
ujar Jante Arkidam seperti gumam
ketika maut menaksir detik jam
dalam detak jantungnya
kini kesepian
menampakkan dirinya
di hadapan Jante
yang dilanda batuk
dan sakit kepala
"ke mana nyi ronggeng
yang dulu hadir dalam hidupku,
yang dari meja ke meja perjudian
aku rajai dunia malam," tanya
Jante.
sesekali didengarnya
bunyi tiang listrik dipukul orang
juga lolong anjing tengah malam
sehabis mupukembang
lalu angin dingin kembali meraja
menghajar raga Jante dekat jendela
di sebuah rumah pinggir kota
yang dulu dijadikan tempat sembunyi
dari kejaran lelaki satu kampung
dan kini di mana lebat kebun tebu
setelah dengus zaman
menyulapnya jadi perumahan
yang dibuat asal jadi?
“betapa tanganku berlumur darah,
Betapa hidupku salah arah. Mengapa
cahayaMu terlambat aku kenal?”
batin Jante. Detik jam
bergeser lagi
sesaat, Jante menarik napas
dalam-dalam. Lalu dihembuskannya
pelan-pelan. Dari hari ke hari
ia buron sudah diburu bayang-bayang hidup
yang kelam, yang ingin dihapusnya
seperti menghapus sebuah tulisan
di papan tulisMu yang kekal
“masihkah terbuka celah ke Baitullah?”
tanya Jante saat ia berkaca
melihat wajahnya sendiri dalam cermin
seperti batu retak di dasar sumur tua
yang absen disapa timba
tanpa ikan dan lumutan
siit incuing ngear di batin Jante
“beri aku kesempatan meneguk
anggur cintaMu!” tangis Jante
di atas sajadah yang basah
oleh airmata
2007
=SONI FARID MAULANA=
Tidak ada komentar:
Posting Komentar