Sabtu, 26 September 2015

RENUNGAN JANTE ARKIDAM DI USIA 70 TAHUN karya : Soni Farid Maulan

                                                                - untukAjip Rosidi

 

malam belum begitu gelap

ketika anjing melolong panjang

di bawah remang cahaya bulan

 

"ternyata hidup butuh agama!"

ujar Jante Arkidam seperti gumam

ketika maut menaksir detik jam

dalam detak jantungnya

 

kini kesepian

menampakkan dirinya

di hadapan Jante

yang dilanda batuk

dan sakit kepala

 

"ke mana nyi ronggeng

yang dulu hadir dalam hidupku,

yang dari meja ke meja perjudian

aku rajai dunia malam," tanya

Jante.

 

sesekali didengarnya

bunyi tiang listrik dipukul orang

juga lolong anjing tengah malam

sehabis mupukembang

lalu angin dingin kembali meraja

menghajar raga Jante dekat jendela

di sebuah rumah pinggir kota

yang dulu dijadikan tempat sembunyi

dari kejaran lelaki satu kampung

dan kini di mana lebat kebun tebu

setelah dengus zaman

menyulapnya jadi perumahan

yang dibuat asal jadi?

 

“betapa tanganku berlumur darah,

Betapa hidupku salah arah. Mengapa

cahayaMu terlambat aku kenal?”

batin Jante. Detik jam

bergeser lagi

 

sesaat, Jante menarik napas

dalam-dalam. Lalu dihembuskannya

pelan-pelan. Dari hari ke hari

ia buron sudah diburu bayang-bayang hidup

yang kelam, yang ingin dihapusnya

seperti menghapus sebuah tulisan

di papan tulisMu yang kekal

 

“masihkah terbuka celah ke Baitullah?”

tanya Jante saat ia berkaca

melihat wajahnya sendiri dalam cermin

seperti batu retak di dasar sumur tua

yang absen disapa timba

tanpa ikan dan lumutan

 

siit incuing ngear di batin Jante

“beri aku kesempatan meneguk

anggur cintaMu!” tangis Jante

di atas sajadah yang basah

oleh airmata

 



2007

=SONI FARID MAULANA=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar