yang gemar mencukur rambutnya
sebenarnya kata-kata.
maka kubayangkan kau tukang cukur itu.
duduk menunggu pasien
di sebuah gang dalam leher pasar.
gelisah sendirian, menggengam gunting
dan sisir.
bangkit dari kursi yang menghadap cermin.
cermin yang menggantung pada batang pohon mahoni.
menanti-nanti, satu kata atau dua kata
lewat dari lubuk sepi.
memang kalau bukan hari raya atau liburan
kau lengang, tak banyak dikunjungi.
tiba-tiba, ketika kau enak menghisap rokok filter
sebuah kata yang sudah lama hilang
muncul di hadapan.
sebuah kata yang gondrong bagai rambut penyair.
“mas, tolong cukur habis rambutku!”
kau mengangguk dan mempersilakannya duduk.
terkesima, kau pun lupa bertanya
gaya apa yang diminta.
“kamus, tempatku bersemayam membuatku
seperti ini.”
kau menatap lekat padanya.
tatapan seorang bapak kepada anaknya.
2012
=JOKO PINURBO=
Tidak ada komentar:
Posting Komentar