Rabu, 05 Agustus 2015

SESEORANG BERDIRI DI TEPI SAJAK MU karya : Ahmad Nurullah

Seseorang berdiri di tepi sajakmu. Wajahnya sepi,
seperti sebuah kuil terpacak
di lereng bukit. Sepasang matanya kering,
seperti selongsong kulit laba-laba.
“Aku rindu kedamaian,” bisiknya.


Adakah ia seorang pertapa?

Ia tertegun: memandang kata-kata berbaris.

Atau menikung, seperti rel kereta api membelah

tanah desa. Atau berkeriap,
seperti lampu-lampu di tengah kota

di sebuah negeri yang redup

Negeri yang jalan-jalannya berputar. Atau melintir,
seperti rambut sebuah suku tua yang telah punah.

Adakah di sana terbentang kedamaian,
seperti ia impikan?

Agak ragu ia melangkah
. Masuk:

menyibak kata-kata.
Lalu, dengan terompah butut,

ia pergi keliling kota:
menyaksikan karnaval hari kemerdekaan. Atau
menonton sirkus. Atau ikut menyisip ke tengah

arak-arakan massa –

sejarah yang menuntut turun harga BBM,
atau kenaikan upah buruh.

Haus, ia minum air mancur di sebuah taman.

Lalu tertidur, sebelum dibangunkan oleh gerimis.

Dua ekor anjing menggigit ujung jubahnya –

sebuah peristiwa yang mendorongnya melompat

ke luar lagi dari sajakmu.

Di luar pagar, pada tapal batas antara

dunia dan kata-kata,
gonggong anjing masih bersahutan

menyembulkan moncongnya dari sederet penanda.

 

Ia tersengal, menyapu peluh di keningnya, dan berbisik:
“Tak ada kedamaian,” Juga tidak dalam sajakmu.


Jakarta, 2003

=AHMAD NURULLAH=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar