Rabu, 05 Agustus 2015

DI TEBING WAKTU : MEDITASI karya : Ahmad Nurullah

Sebelum jagat raya diciptakan,

apa yang dilakukan Tuhan?


Sunyi. Di teras: waktu merayap

Malam mengalir. Aku duduk
tapi melayang. Di langit berkeriap bintang-bintang.

Di jalan-jalan berkecipak perang. Seperti di hatiku

Mungkin juga di hatimu


Aku teringat Stephen. Ia melompat dari

bulatan asap rokok:
Membetulkan punggungnya pada kursi roda

Merogoh lubang hitam
Meng
emas lagi bangkai bintang-bintang

yang berkerumun
di bawah bulu alisnya.


Sebelum jagat raya diciptakan,

apa yang dilakukan Tuhan, Stephen?

Membangun Surga?

Merancang Neraka?

Jauh sebelum ayah dan ibumu berpengantin,

di mana kau ada?

 

Ia menyeringai. Dari bibirnya terbit

sekerumun matahari. Mengajarku
tentang cara menjinakkan bumi.

Pertanyaan Anda waras,
untuk seorang yang berani gila,
katanya.


2
Ia lalu mengajakku pergi. Jauh melayang
:

melompat dari bintang ke bintang. Berguling-guling

dari galaksi ke galaksi. Mengintip lubang cacing.

Membayangkan serbuk tubuh presiden yang terguling.


Di bawah telapak kakiku berhambur

bermiliar galaksi. Bagai butiran biji kedelai. Seperti

pecahan biji gunduk yang membercaki ruang

Laksana kepingan biji mutiara bersemai

di sudut-sudut waktu.


Lihat, katanya, menunjuk sebuah titik yang berdesak
di setumpuk cahaya.
Apa arti kau ada?


Lalu ia pun bercerita: Dulu, di sebuah celah titik
yang jauh itu, ada pertengkaran:
di dekat Tanah Nod,

jauh sebelum Zaman Es terakhir,
sebelum Colombus merajang Benua India. Sebelum

Pizarro menemukan Inca. Sebelum Bolivar

menyembul di Tanah Caracas.


3
Menginjak sebutir detik yang nanar,

aku mendadak kembali terlempar
ke satu celah di titik yang jauh itu:

ke bumi.

 

Ada bom meledak di masjid-masjid. Menggelegar

di gereja-gereja. Bergema ke dalam ruang sejarah –

menyeretku lagi pada sebuah cerita:
Tentang pertengkaran,

jauh di sebuah celah bumi yang tua.


Ketika bumi masih sebercak Kata,

apa yang dilakukan Tuhan, Stephen?

Merakit algojo?

Merancang pendeta?

Anda tahu: siapa
presiden pemenang lomba,

besok, di negeri saya?"


Ia, dituntun oleh wataknya,

kembali menyeringai.

Lalu kembali mengajakku berputar:

Berdiri di tebing waktu,

menyapu kemahaluasan ruang:

Meluncur di tanah masa depan yang berkabut
menjelajah kota-kota masa silam yang berasap.


Stephen, saya lelah jadi manusia”



Jakarta, 1999

=AHMAD NURULLAH=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar