Rabu, 05 Agustus 2015

BARITO karya : Ahmad Nurullah

– catatan perjalanan

 

1

Di tengah kelucak sungai Murung-Barito

Di tengah guncangan riam lawang haring

Ada sisa kenangan yang tercecer:

sepanjang Teluk Jolo

sampai bibir Desa Tumbang Topus –

secelah kenyataan tentang bagian

dari Tanah Airku:

 

Gadis-gadis Dayak berjoget

Dalam busana blue jeans dan kaos T-Shirt

Mabok tersihir lagu-lagu dangdut yang berdetak

lewat corong tape recorder

 

Dunia cuma seluas antena parabola

Terpacak tak jauh dari pantan

tempat rombongan roh melolong

Sebelum upacara purba

mengantar dari bumi ke nirwana.

 

2

Pedalaman Kalteng adalah dunia yang pecah:

Dadanya tenggelam ke dunia magi. Bersama balian,

kidung randan, tapi japen, dan bahalai:

riasan buah-buahan –

menyambut rombongan tamu agung

dari dunia seberang

 

Tapi kepalanya gatal melongok dunia luar:

Dunia (“Barat” yang) kebyar? Atau: kemajuan?

Hati-hati matamu mengerling perempuan

Bila tak ingin biji pelirmu tersangkut di pohonan

 

3

Malam. Di sebuah kamp HPH, di tepi hutan

Di bawah bayangan pemilik modal yang

mencengkeramkan kukunya pada

balok-balok kayu

semayup kudengar tarian magis:

musik Kenyah, kilatan Mandau;

sumpit berlumur getah pohon mistik

atau mungkin racun ular:

 

Para balian menari

Mantra-mantra disemburkan

buat Ranying Hatalla Langit

Tanah bergerincing

Udara merekah

Keringat mengucur

Bumi menyala.

 

4

Masihkan hutanku hutan yang dulu?

Air-menitis di celah batu-batu di sepanjang tepi sungai

Suatu saat mungkin mengering

Direguk waktu: bumi yang gelenyar

bersolek pembangunan?

Tak ada jawaban. Hanya gerusuh angin

Menyisir kesunyian hutan.

 

5

Milik siapakah bulan di langit, Saudaraku?

Para Nihin, Abdul, dan Joseph berangkul tangan

Melantunkan nyanyian hutan yan tak tumbuh lagi dari

tanah leluhur: Bersama anjing, babi,

bangkui, dan beruang. Bersama

Sang Dewa yang liat berakar.

 

6

Pagi. “Simbur, simbur! Simbur, simbur!”

Gadis-gadis Dayak menabur air dari pelipis sungai

Seolah hendak berkata, “Selamat jalan, Saudaraku!

Kapan mampir lagi di tanah kami?”

 

Sungai berkelucak

Daratan mulai menjauh

Di bawah matahari pagi,

daun-daun merbau jatuh

Hutan sunyi. Burung-burung sepi

Perahu bergegas –

membawa kami pergi.

 

7

Tak ada yang istimewa, agaknya. Tapi,

ada yang layak dicatat:

di sebuah kawasan yang jauh,

ternyata ada juga orang berbahagia. Bukti

bahwa bumi sabar mengasuh segala yang ada:

yang kecil, ganjil, sederhana

Meski, bukan tak bermakna.



 

Jakarta, 1995

=AHMAD NURULLAH=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar