– catatan perjalanan
1
Di tengah kelucak sungai Murung-Barito
Di tengah guncangan riam lawang haring
Ada sisa kenangan yang tercecer:
sepanjang Teluk Jolo
sampai bibir Desa Tumbang Topus –
secelah kenyataan tentang bagian
dari Tanah Airku:
Gadis-gadis Dayak berjoget
Dalam busana blue jeans dan kaos T-Shirt
Mabok tersihir lagu-lagu dangdut yang berdetak
lewat corong tape recorder
Dunia cuma seluas antena parabola
Terpacak tak jauh dari pantan –
tempat rombongan roh melolong
Sebelum upacara purba
mengantar dari bumi ke nirwana.
2
Pedalaman Kalteng adalah dunia yang pecah:
Dadanya tenggelam ke dunia magi. Bersama balian,
kidung randan, tapi japen, dan bahalai:
riasan buah-buahan –
menyambut rombongan tamu agung
dari dunia seberang
Tapi kepalanya gatal melongok dunia luar:
Dunia (“Barat” yang) kebyar? Atau: kemajuan?
Hati-hati matamu mengerling perempuan
Bila tak ingin biji pelirmu tersangkut di pohonan
3
Malam. Di sebuah kamp HPH, di tepi hutan
Di bawah bayangan pemilik modal yang
mencengkeramkan kukunya pada
balok-balok kayu
semayup kudengar tarian magis:
musik Kenyah, kilatan Mandau;
sumpit berlumur getah pohon mistik
atau mungkin racun ular:
Para balian menari
Mantra-mantra disemburkan
buat Ranying Hatalla Langit
Tanah bergerincing
Udara merekah
Keringat mengucur
Bumi menyala.
4
Masihkan hutanku hutan yang dulu?
Air-menitis di celah batu-batu di sepanjang tepi sungai
Suatu saat mungkin mengering
Direguk waktu: bumi yang gelenyar
bersolek pembangunan?
Tak ada jawaban. Hanya gerusuh angin
Menyisir kesunyian hutan.
5
Milik siapakah bulan di langit, Saudaraku?
Para Nihin, Abdul, dan Joseph berangkul tangan
Melantunkan nyanyian hutan yan tak tumbuh lagi dari
tanah leluhur: Bersama anjing, babi,
bangkui, dan beruang. Bersama
Sang Dewa yang liat berakar.
6
Pagi. “Simbur, simbur! Simbur, simbur!”
Gadis-gadis Dayak menabur air dari pelipis sungai
Seolah hendak berkata, “Selamat jalan, Saudaraku!
Kapan mampir lagi di tanah kami?”
Sungai berkelucak
Daratan mulai menjauh
Di bawah matahari pagi,
daun-daun merbau jatuh
Hutan sunyi. Burung-burung sepi
Perahu bergegas –
membawa kami pergi.
7
Tak ada yang istimewa, agaknya. Tapi,
ada yang layak dicatat:
di sebuah kawasan yang jauh,
ternyata ada juga orang berbahagia. Bukti
bahwa bumi sabar mengasuh segala yang ada:
yang kecil, ganjil, sederhana
Meski, bukan tak bermakna.
Jakarta, 1995
=AHMAD NURULLAH=
Tidak ada komentar:
Posting Komentar