Rabu, 05 Agustus 2015

SELAT KAMAL : MENGUPAS NOSTALGIA karya : Ahmad Nurullah

Kita tak mungkin mencebur ke sungai yang sama

– Herakleitos

 

Tak mungkin, memang. Seperti juga tak mungkin

aku berlayar di laut yang sama. Waktu membawa angin, iklim,

dan ombak yang lain. Meski di langit lintas

matahari yang sama. Seperti dulu: di masa bocahku.

 

Tapi, melayari Selat Kamal, mengulang

perjalanan yang ngilu: orang-orang berdesak

Juga mobil-mobil, motor,truk; para pedagang telur, rokok,

nasi bungkus – sebelum feri meraung, menggeliat,

lalu berangkat.

 

Pernah di masa bocah kubayangkan:

Dari langit, pulauku bagaikan seonggok buntut naga

terendam di bawah permukaan air laut:

Jawa tubuh, Sunda kepala, Jakarta urat lehernya

Kampungku: bisul dari sebuah titik di cakrawala

 

Kini buntut naga itu bergeser

Setelah terpacak Jembatan Suramadu,

yang sempat rubuh. Bukan oleh gempa atau revolusi

Tapi mungkin oleh logam yang ceking, sluf yang tonggos

Semen yang tipis – moral yang keropos.

 

Selat Kamal sesak kenangan, ramai sejarah,

juga legenda – semacam legenda:

Tentang Adirasa – adik Jokotole – yang mengantar pusarnya

Ke Majapahit, di abad yang jauh: sumber timah panas

Perekat engsel gerbangnya yang angkuh dan keramat.

 

Juga saat Trunojoyo menangkap firasat, mungkin

tanpa firasat. Sebelum sekerat hatinya jadi santapan lezat

para penghuni kaputren, dan segenap warga Kartasura

Sebelum jenazahnya dibiarkan tergeletak

di kaki tangga istana. Tanpa upacara. Tanpa doa-doa.

 

Selat Kamal sibuk dengan impian para perantau:

Rombongan pedagang dan nelayan menyeberang

Lalu terdampar dan berbiak di bibir timur Tanah Jawa

Mengusung ragam adat, dan kata-kata

Juga logat, dan panas darah. Panas darah?

 

Para calon TKW bermimpi hujan rial di Tanah Arab

Seraya diam-diam mengerling Mekkah. Atau

abang sate menyusun rumah idaman dari

kepulan asap, nyala bara, tetes keringat. Atau…

 

Selat Kamal. Telah berapa kali kulayari

Dan kutinggalkan engkau, Ayah? Ibu?

 

Kapal feri mengerang, menggeliat

Membawaku pergi, menjangkau masa depan

Sebelum akhirnya aku terdampar

di negeri kata-kata: sebuah negeri yang kurus,

dan tak seharum pesta.

 

“Tapi demi kemerdekaanku,

tak ada alasan untuk menangis, Ayah, Ibu.”



 

Jakarta, 2004

=AHMAD NURULLAH=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar