Rabu, 05 Agustus 2015

PADA TAPAL BATAS WAKTU karya : Ahmad Nurullah

 

Janganlah mencari tahu apa yang akan terjadi besok

– Horatius

 

Tapi, kita selalu langgar petuah itu. Kita terus melangkah:

membaca, bertanya, menduga-duga:

Apa yang akan terjadi, besok?

Akan turun hujankah di hari pengantinmu,

Kamis depan?

 

Saat kau terjaga dari tidur, adakah rumahmu

masih utuh terpacak? Akan membuncit lagikah

perut istrimu, akan beranak lagikah anjingmu,

tahun depan? Dua hari lagi

suamimu pasti studi di Holland?

 

“Janganlah mencari tahu apa yang akan terjadi besok

Jangan mencari tahu apa yang akan terjadi

di masa depan”

 

Tapi, siapa tak mau mencari tahu

apa yang akan terjadi, besok – di negeri ini,

di hari-hari depan? Usai makan di sebuah kafe,

adakah tubuhmu masih bulat, meja dan kursi

masih tegak, dan kepalamu masih setia

tinggal pada lehermu yang jenjang?

 

“Janganlah mencari tahu apa yang akan terjadi,

besok. Besok adalah rahasia waktu. Masa depan

adalah daerah Tuhan.”

 

Tapi, kita terus langgar petuah itu, dengan berani:

dengan kaki, dengan tangan. Dengan degup jiwa,

dengan segenap kesadaran. Sebab,

sejak tangis pertama pecah,

sejak popok dibalutkan,

besok tak dapat dihindar

Masa depan tak terelakkan.

 

“Tapi, apa yang akan terjadi, besok?”

 

Bulan bergerak. Detik-detik terus berguguran. Tapi

kita tak henti melangkah. Tapi kita

tak kunjung berhasil meraih jawab

Sampai, pada tapal batas waktu,

kita jera bertanya, dan kita tak membantah:

Besok adalah sebuah pintu –

dari mana kita masuk, dan kita tak kembali.



 

Jakarta, 2006

=AHMAD NURULLAH=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar