Minggu, 02 Agustus 2015

TUJUH CEMARA karya : Umbu Landu Paranggi

sisa sampah debu revolusi

sapu dan lego dalam seni

di ibu kota kata sendi kata

si tua muda yogyakarta

(yogya sudah lama kembali)

kembalilah ke yogyakarta

cemara tujuh denyar puisi

 

tujuh cemara

di jantung Yogyakarta

barisan rindudendam menghela anginmu

terjaring di kampus tua

tertanam cinta terdera

di surut hari mencari

debar puisi di hati

 

tujuh gelandangan

(buah asam malioboro)

memanggul gitar nembakkan syair lagu

mentari jalanan bulan lorong kumuh

antara kampung kampus, gubuk gedongan

singsing singsing fajar lenganmu

prosesi tugu pasar alun-alun

bongkar pasang dadadadamu

kang becak andong muatan perkasa

kilatan raut pasi berpeluh debu

ciumlah bumi yang nerbitkan sayangmu

nyelamlah lubuk urat nadi hayatmu

 

tujuh gunung seribu yogya

seribu tarian gang malioboro

tujuh pikul daun pisang ibu beringharjo

(nasi bungkus pondokan selasa rabumu)

tumpukan hijau restu sanubari jelata

sujud bibir pecah yang mengulum kata sejati

hulubalang benih ilham di siang malammu

 

tujuh cemara gelandang

tujuh gunung seribu saksi tak bisu

gelaran tak sunyi gusargusur kakilima

bentangan dukacita langit sukma

manggang biji mata di kawah candradimuka

tak kau dengar keliling kidung sembilu

meronda dan menggedor mimpi mimpi igaumu

(tak kau ingat peta rute juang gerilya

gercik darah tumpah meriba pertiwi)

di bawah jam kota tujuh pengemis tua

bertumpu seperti mendoakan kita semua

di bawah tapak sudirman kami mangkal malam-malam ini

 

sisa sampah debu revolusi

sapu dan lego dalam seni

di ibu kota kata sendi kata

(yogya sudah lama kembali)

kembalilah ke yogyakarta

cemara tujuh denyar puisi

 

tujuh cemara

di jantung yogyakarta

barisan rindudendam menghela anginmu

terjaring di kampus tua

tertanam cinta terdera

di surut hari mencari

debar puisi di hati

 



=UMBU LANDU PARANGGI=

(Sumber : The Ginseng, Antologi Puisi Indonesia, Sanggar Minum Kopi, Denpasar, 1993)

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar