Jumat, 24 Juli 2015

WALANTAKA karya : Ahmad Faisal Imron

di jalan itu ada banyak kerikil

kerikil serta cahaya bulan

seseorang menyandarkan cintanya

pada kekosongan

 

dan malam, di musim seperti ini

 

di sawah-sawah yang keruh, di air yang kusut

ketika gumpalan awan membeningkannya kembali

dengan menyimpan bayang-bayang putihnya di situ

 

angin dan daun-daun

seperti hendak berlindung ke utara

Walantaka amatlah jauh

kau hancur dalam kegelapan

 

bagai bau jenazah, abadi di hembusan udara

tercium olehku aroma daun kemboja, malam itu

dingin seakan mengusir orang-orang bersemedi

sebuah cahaya pun mengendap di sebuah tikungan

 

tapi kau datang

dengan niat yang jantan

lambung yang hampa

pikiran-pikiran baru

sebuah hitungan ganjil

 

barangkali kehidupan mesti dimulai dengan rongga terbuka

keranjang-keranjang kosong serta mata bagai elang merana

 

di tanah ini

telah kutemukan cermin sunyi

bentuk bahasa yang cantik

kebiruan yang terbentang

 

atau sesuatu yang tak mungkin menjadi tanda seru

 

ketika di tubuh merah api kembali bergemuruh

ketika mengantarmu ke arah matahari menyerah

ada pasar dan majlis-majlis yang riuh di pagi hari

kaligrafi bumi yang miring, hari-hari yang lipur

jalan-jalan bergelombang bagai bentuk dadamu

 

setelah ritual dimulai

setelah kitab itu menjadi milik kita

 

setidaknya, kita dapat menafsirkan kehdiupan ini

dengan tetesan darah atau deraian airmata

cinta yang sanggup melelehkan batu-batu di angkasa



 

1998

=AHMAD FAISAL IMRON=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar