Jumat, 24 Juli 2015

SURAT API karya : Ahmad Faisal Imron

dari selembar surat ia meminta sebuah negeri

tubuhnya yang bengkak, rambutnya yang miskin

namun bergairah ketika membikin nyala api

 

telah kusediakan minuman dari buah pohon narjil

warna merah air pada sebuah cangkir keperakan

diingatnya sekali lagi instalasi dalam bentuk kotak-kotak

dan seperti di sini, di mana harkat manusia terkotak-kotak

 

telah datang berdua, bergegas dari ujung desa

bagai sepasang biksu, mereka begitu khusyuk

 

memahami sesuatu

pada sehelai daun pisang

dan mulai menyadari

bahwa di sini, malam

bagai seribu duri

 

pada balkon ingatanmu

ingin kutitipkan berpetak-petak sawah, benih-benih kina

hamparan putih ombak negeri, cangkul coklat para petani

 

dulu, kita bakar jantung sendiri

menarikan pena pada lingkaran api

tapi ternyata luluh oleh keadaan

oleh sebuah jeritan

 

sabarlah, di luar warna hitam itu masih menari-nari

 

jika pada saat ini kau akan pergi dengan sebuah teka-teki

bagaimana mungkin dapat kupersembahkan padamu:

 

angin yang segar, dunia khayalan, bayang-bayang ibumu

sejak ia meninggalkan nama di kota yang agung

sejak kau masih dalam suasana yang serba terjangkau

tak dapat terlepaskan, kenyataan yang memang

membikin rongga dada berantakan

 

tak ada teks-teks lain untuk perubahan semacam ini

selain keyakinan agar selalu mengimani ujung belati!



 

2001

=AHMAD FAISAL IMRON=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar