Hanya telaga yang terisak
ketika terik tak henti-henti menetak nadi
dan urat nadi berangsur hancur digerus badai
yang mulai bangkit menggugurkan daun-daunnya
dan setapak jalan ajal daun-daun pun tersibak.
Kau berjalan menempuhnya dan langkahmu masih tegak
seteguh batu-batu cadas yang menahan hantaman martil musim
panas.
Tapi inginmu tergelincir dari tubir agar debur dapat menjalarkan
debar ke sekujur kelenjar air.
Dan sampan-sampan takkan pernah menepi lagi dan yang berenang tak
kembali
dan tak ada yang menunggu di ujung jalan setapak ini
selain daun-daun gugur dengan urat nadi hancur
dan telaga yang teriak mengutuk terik
yang pernah tegak menetakmu semusim silam.
2003
=ARIF BAGUS PRASETYO=
Tidak ada komentar:
Posting Komentar