Kamis, 13 Agustus 2015

LIBRETTO MUSIM GUGUR karya : Arif Bagus Prasetyo

(chit oo nyo & bounthanong xomxayphol)

 

Mississippi hanya ingin bernyanyi, ingin berbagi

seperti Chit yang sering menjelma jadi Rama

 

saat jauh dari pesing penjara Burma, dan menari

dalam hingar-bising rock ‘n roll, musik traktor

 

padang-padang jagung Iowa, di demam plaza

malam Sabtu, sehabis dua-tiga gelas dry tequila

 

dan Jim Beam yang berenang dalam darah Nong

menggerutu:

 

Bangsat. Tahu apa kalian semua tentang musik?

Tentang sungai yang budiman perangainya dan

 

suka mengalirkan uang biar semua orang senang

dan tak sudi lagi berperang.

 

Omong kosong. Whitman sudah lama mati

dan di pesisir Mississippi masih kaulihat sesosok saman

 

mengelebat di antara tonggak-tonggak cedar merah.

Lelaki-lelaki bersisik merah melepas lembing. Sementara

 

puak Meskwaki harus membeli tanahnya sendiri

dengan aib rumah judi.

 

Come on. Mendingan kalian melancong ke Mekong.

Tak ada demokrasi. Dan silakan sepuasnya

 

mengisap candu dan perawan!

 

(michael zeller)

 

Tapi siapa yang tak pergi, desah seorang lelaki kisut,

di geladak Mississippi. Matanya basah terbasuh Rhine:

 

Kita boneka jerami tua. Kuda celaka

yang kehilangan ladam dan penunggang,

 

terkutuk untuk pergi, sendiri, selamanya

mengusung beban yang tiada.

 

Dewa-dewa. Mereka juga telah minggat. Tapi jejaknya

yang bergelimang darah, memburuku sampai ke sini.

 

Lihat, Wagner mendekam di etalase Coralville Mall

- Music of The Gods. Digital Stereo. The Gold Collection. Made

in USA.

 

Gila. Aku selamanya pergi, tapi mereka

masih terhina, terluka parah:

 

‘Apa? Dari Eropa, kaubilang?’ seorang lelaki Polandia mencegatku

dan bersungut-sungut sengit, ‘Jadi sekarang kalian pikir

 

Eropa adalah Jerman!’

 

(narlan matos)

 

Yeah. Memang kacau. Ke manapun aku pergi

180.000.000 kanibal mengekorku.

 

Menabuh tambur-tambur leluhur

di kegelapan rimba-rimba Amazon.

 

Kita semua binatang bebal, akhirnya.

Air liur kita mencemari sungai-sungai.

 

Sini, kubaptis kau jadi batu jadi akik jadi emas

jadi kapal-kapal Portugis jadi Kristus jadi kadal. Dung-dung.

 

Mabuklah. Dung-dung. Ini belahan bumi utara. Dung-dung.

Dingin meretakkan rahang. Dung-dung. Tapi jangan

 

bakar aku dengan anggur atau wiski. Dung dung. Di Java House

ada kopi rasa puisi. Dung-dung. Konon pahitnya enak sekali.

Dung-dung.

 

Sayang tak ada orang Jawanya. Dung-dung. Ayo pesta dan bercinta

di jok mobil di bioskop di asrama dengan kondom ceri hutan

 

sambil mengunyah keripik kentang memamah pizza 3 menit

berjingkrak-jingkrak memekik-mekik kesetanan di jalan-jalan

 

di bangku-bangku lapangan futbol dan menggelar

bazar amal dan karnaval dan diwisuda dan

 

menguasai dunia. Dung-dung-dung….

 

(chorus)

 

Pergi. Pergilah, Mississippi. Sia-sia kau bernyanyi.

Gendang telinga kami pecah, melelerkan lumpur nanah.

 

Sungai-sungai malam hari di balik belukar dada kami

bergemuruh, gemeretak, dan gua-gua bawah tanah

 

menyerpih runtuh. Menyerpih runtuh.

 



2003

=ARIF BAGUS PRASETYO=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar