Kamis, 13 Agustus 2015

JULA-JULI PEJALAN TIDUR karya : Arif Bagus Prasetyo

- Surabaya, suatu masa

 

Takkan kuputar sumbu tubuhmu

menyusuri jejak hangus kata-kata

yang tercecer sepanjang jam dan bulevar.

 

Aspal menggigil oleh influenza.

Plaza dan bank perlahan hilang.

Hilang, tenggelam dalam balsam.

 

Dingin mengasah lembing-lembingnya di udara.

Dingin berdenting. Udara merinding

Terkepung gaung dan bayang-bayang.

 

Kau terbaring di sisiku. Legam dan berkilauan.

Sungai telanjang pada ranjang keemasannya.

Di tepi sungai, sebuah ponten nyaris meluap.

 

Beberapa sejoli masyuk memarkir motor di kegelapan.

Serombongan laki-laki terhuyung masuk ke tenda rombeng.

Dengus mereka masih membekaskan panas di tengkukmu.

 

Menyentuhmu, terpesona ahli nujum kakilima

Gairahku membangun taman air mancur

dengan peri pelacurnya yang sehijau hujan pagi.

 

Di tepi taman, panglima perang dari perunggu

memandang dingin ke batalyon kupu-kupu

yang bertahan di selatan. Mereka terjebak

 

di sepetak taman lain yang lebih gaib. Lebih aib.

Tempat tugu bambu runcing, totem kejantanan itu

tegak memancung batang lehernya sendiri.

 

Kau tergetar. Getah tubuhmu mulai tercurah.

Angin purbani menggulung bayang-bayang taman.

Gaung berkubang dalam kilang-kilang darah.

 

Sekujur sungai terserang kejang.

Dam dan bangkai kapal selam berebut bangkit dari delta

Menghantui etalase yang dahulu sal-sal seram rumah sakit.

 

Dari lunglai belulangmu, dari ringsek rerusukku

Fajar kembali memecahkan cangkang-cangkangnya.

Nama-nama terjulai oleng. Simpang kehilangan lonceng.

 

Jam terbuat dari air dan tak bisa dipercaya.



 

2002

=ARIF BAGUS PRASETYO=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar