sunyi
telah mati
di muaraku
Tapi, dekat pada malam, bersama dingin
dan pilar senja yang berjatuhan masih kaupanjatkan;
terus kaupanjatkan ringkik angin, deram ombak,
tiang-tiang kapal yang tengadah
ketika burung-burung hingar di udara, memekik-mekik!
(seperti ingin mencabik langit)
mesias,
tak kaulihatkah sayap-sayap camar itu terkoyak sudah?
(meluka, meluka)
Dan kembali: bertahanlah!
Berapa jauh air matamu menyentuh laut menjelmakan
darah. Menukar warna asin yang berkilauan
seperti hujan. Seperti pecahan karang yang menghambur
menyusun peta, lukisan nasib, atau penampakan musim
yang teramat
kelam.
badai, badai
kemana garis pantaimu kian melindap?
Sungguh,
padahal sudah lengkap cuaca: sudah kaukirimkan
gelap pada pasir (cintamu) sudah kaukirim banjir
kawanan hama, bangkai burung-burung yang berenang
dalam arus-darah itu
: memburu muaraMu!
1994
=ARIF BAGUS PRASETYO=
Tidak ada komentar:
Posting Komentar