Kamis, 13 Agustus 2015

HOLOCAUST RUMAH MUARA karya : Arif Bagus Prasetyo

sunyi

telah mati

di muaraku

 

Tapi, dekat pada malam, bersama dingin

dan pilar senja yang berjatuhan masih kaupanjatkan;

terus kaupanjatkan ringkik angin, deram ombak,

tiang-tiang kapal yang tengadah

ketika burung-burung hingar di udara, memekik-mekik!

(seperti ingin mencabik langit)

 

mesias,

tak kaulihatkah sayap-sayap camar itu terkoyak sudah?

(meluka, meluka)

 

Dan kembali: bertahanlah!

Berapa jauh air matamu menyentuh laut menjelmakan

darah. Menukar warna asin yang berkilauan

seperti hujan. Seperti pecahan karang yang menghambur

menyusun peta, lukisan nasib, atau penampakan musim

yang teramat

kelam.

 

badai, badai

kemana garis pantaimu kian melindap?

 

Sungguh,

padahal sudah lengkap cuaca: sudah kaukirimkan

gelap pada pasir (cintamu) sudah kaukirim banjir

kawanan hama, bangkai burung-burung yang berenang

dalam arus-darah itu

: memburu muaraMu!



 

1994

=ARIF BAGUS PRASETYO=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar