Bahagia menjengukmu.
Duduk diam, mengamati bintang bajak tergelincir dari alur.
Bagaimana aku tahan?
Dari tanggul pelupukmu, masih basah,
kau menggeram menafsirkan jejak lumpur yang tertinggal.
Ke mana ia runtuh,
untuk apa,
bagaimana aku tahan dan berharap kau meratap.
Tapi tidak, “Dam-dam tahun telah pecah di dadaku.
Air gaduh bergemuruh hingga pinggang,
menggenangi ladang-ladang malam hari milik tuhan….”
Ladang-ladang milik tuhan.
Radang-radang.
Hujan hama telah turun menjenguknya, bahagia,
dalam desah akar-akar pepohonan tercerabut dari tanah,
berjuluran ke udara jadi lidah merah bara yang menggulung bentang hari.
Bulan pejam menusukkan rerusuknya ke dadamu.
Kau tersengal dan berguncang
mirip lonceng orang suci pada simpang jalan itu,
yang abadi memanggilmu waktu tidur,
meraih ruh yang tersentak dari tubuh.
Bahagia bahwa aku masih tahan.
Dan sejuntai mantel basah
burung hitam yang bertengger di dadaku, sejak senja,
tiba-tiba berceloteh dengan derit pintu dapur,
rangka bintang bajak tadi,
yang tersungkur menguburmu dalam hutan mantram ini.
1998
=ARIF BAGUS PRASETYO=
Tidak ada komentar:
Posting Komentar