lahir dari api
seperti peri
ia tumbuh menjagai
mimpi
Mandi di keramat
Para danyang menabuh kendang.
Akar menyan, benih abu
Dingin. Tajam bagai tatapan
Pisau silet.
Dan orang-orang suci mendadak
mabok menggigil keras
tersungkur rebah ke tanah basah
minta bunga-bunga.
Pucuk gayam
Bulan tinggal sisik
Tapi masih tak mengerti. Tapi angin
makin dingin di sini dan kau tak mungkin lagi
berani memastikan:
Apa bencana segera reda
ataukah harus lunas segala duka
tersambar kilau liarnya!
Dendam kupu-kupu
Dupa
Langit yang hamil
Tua
“Bila aku nanti mati,
siapakah yang setia memercikkan air mawar ke penjuru
tubuhku beku?”
Kelahiran mengetuk pintu. Tapi
Tiada
Yang
Lebih
Pasti
Maka kaubayangkan orang-orang suci mulai menari
mendoakan awet umurmu agar kelak kau pun rindu
wangi air, gerak ikan yang tersentak tiba-tiba dan memekik lirih
saat kaumangsa
anak-turunnya.
1995
Tidak ada komentar:
Posting Komentar