Minggu, 09 Agustus 2015

MATINYA JUARA TINJU karya : Sitor Situmorang

Telah berlaku pula

Hukum dewata

Janganlah beri nama

Ia mati apa

Dengarlah ceritanya

Cerita orang tua-tua

Kusampaikan pada pembaca

 

Di seluruh negeri terkenal ia juara

Juara yang selalu menang

Dan orang mengalah saja

Mendengar segala ceritanya

Tiada yang berani

Tiada yang mau

Membantah kata-katanya

Di kedai-kedai

Ketika minum tuak garang

 

Selain juara ia pemburu pula

Kalau bukan rusa, babi hutanlah mangsanya

Mana juara, pula pemburu

Pandai menari

Membuat ukiran indah sekali

Serta memetik kecapi...

 

Ia suka mabuk

Dan bila ia mengutuk

Tak ada yang tak kena

Tapi dari segala mangsa

Istrinya yang paling menderita

 

Dua anak dilahirkannya

Satu laki, satu perempuan

Satu pun tak ada kesukaan bapaknya

Berkata orang: “Mana ‘kan pula

Anak lahir, bapak di penjudian.”

 

Tiba saat anak laki dikawinkan

Hal itu dirundingkan

Si anak: Aku terlalu muda.

Si bapak: Kawin sesukamu, asal jangan yang buta

Si ibu: Kawinlah, Nak, baik ada teman

Si gadis diam

Tak sepatah pun keluar

Hatinya terbelah antara ibu penyabar

Dan si bapak yang kejam.

 

Akhirnya jadi juga

Dengan gadis pilihan ibunya

Dan si bapak mendongkol sejak mula

Hanya karena bukan pilihannya

 

Tahun berganti tahun, juara semakin tua,

Anak gadis dewasa, tapi tak juga kawin.

Pula menantu tak memenuhi ingin

Cucu ditunggu tak datang-datang juga.

 

“Mana hanya satu anak laki

Menantu pilihan ladang mati

Mampus kau semua.”

Demikian kutuk juara

Di hari-hari kalah judi

 

Si anak laki tak peduli

Putuskan pergi merantau

Berkata pada ibu tersedu:

“Tak akan aku pulang, jangan ditunggu

Atau bapak harus mati.”

 

Tinggallah ibu

Bersama anak gadis

Tak ada yang meminang, takut bapak bengis

Yang kini hanya berburu

Lupakan judi

Dan ingat anak yang pergi

 

Lama ditunggu

Datang kabar dari jauh

Menantu mati di rantau

Dari kerongkongan ibu lepas keluh:

“Demikianlah nasib

Kelahiran yang kasip

Ditinggalkan yang hidup

Ditinggalkan yang mati.”

Lalu ia menanti

Di bayang-bayang bulan redup

 

Mereka hidup berdua kini

Juara lama telah pergi

Kawin lagi

Harapkan anak lelaki

Sebelum mati

 

Tak ada yang kembali

Juara dapat anak tiga

Tak ada laki-laki

Dan pada suatu hari

Ia merasa tua

Datu berkata:

“Adakan pesta

Doakan rahmat dewata

Undang istri pertama

Tapi anak terutama.”

 

Juara dengan hati berat

Kirimkan surat

Minta datang anak dan istri

Lalu ia menanti

 

Pesuruh pulang

Bawa berita bertentangan

Anak datang, anak tak datang

Hati juara dirundung kesangsian

Mungkin datang, mungkin tidak

Dan supaya lupa

Ia pergi berburu

Di hari anak ditunggu

Mungkin datang, mungkin tidak

 

Ia berburu di lereng gunung

Di luar kampung

Sepanjang hari

Ia menanti

 

Menjelang malam hari

Di kampung tiba anak-istri

Juara tak tahu

Asyik berburu

 

Di malam hari ia digotong

Dada berlumur darah

Berkata orang: “Tak dapat lagi ditolong

Ajal menuntut sudah.”

Lalu dibaringkan di tengah rumah

Dekat anak dan istri

Lama dinanti

Lalu mati

 

Kembali sudah, kembali juara

Juara pulang dari berburu rusa




=SITOR SITUMORANG=

Tidak ada komentar:

Posting Komentar